Stock Split Ngalikan Jumlah Sahammu. Reverse Split Kebalikannya, dan Beneran Dipakai Emiten di IDX
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Buka akun sekuritasmu setelah ada reverse stock split, kamu bakal lihat jumlah saham yang lebih sedikit dari hari sebelumnya, tapi harga per lembarnya naik sesuai porsinya. Nilai total kepemilikanmu tidak berubah sama sekali. Tapi saham yang kamu pegang sampai ke situ karena harganya udah turun cukup jauh, atau cukup lama, sampai perusahaan memutuskan buat menggabungkan sahamnya daripada terus dibiarkan di level yang bikin bursa dan investor sama-sama waspada.
Ini kebalikan dari stock split biasa, dan ini aksi korporasi yang beneran diatur di Bursa Efek Indonesia, namanya penggabungan saham. Ini penjelasan lengkap soal apa yang beneran terjadi ke sahammu, kenapa perusahaan milih langkah ini, dan dua contoh nyata di IDX yang nunjukkin reverse stock split nggak otomatis membenahi masalah yang beneran bikin sahamnya jatuh.
Reverse stock split itu menggabungkan sejumlah saham yang kamu punya jadi lebih sedikit lembar, dengan harga per lembar naik sesuai porsinya, tanpa mengubah nilai total posisimu. Rasio 10:1 berarti 10 lembar saham jadi 1 lembar, harganya jadi sepuluh kali lipat. Rasio 20:1 berarti 20 lembar jadi 1 lembar, harganya jadi dua puluh kali lipat.
PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) melakukan reverse stock split rasio 20:1 yang berlaku efektif 16 Februari 2012. Saham seri B yang tadinya diperdagangkan di harga Rp50 per lembar, sesudah aksi ini jadi Rp1.000 per lembar, dengan jumlah saham beredar dipotong jadi seperdua puluh dari sebelumnya, dilaporkan Bisnis.com.
| Sebelum reverse split | Sesudah reverse split | |
|---|---|---|
| Jumlah saham | 2.000 | 100 |
| Harga per saham | Rp50 | Rp1.000 |
| Nilai total | Rp100.000 | Rp100.000 |
Baris paling bawah nggak berubah. Itu efek mekanisnya secara keseluruhan: saham lebih sedikit, tapi harga per lembar lebih tinggi sesuai porsinya, nilai total sama, persentase kepemilikanmu di perusahaan juga sama. Kapitalisasi pasar, harga saham dikali total jumlah saham beredar, persis sama sebelum dan sesudah aksi ini.
Reverse stock split hampir selalu jadi respons buat harga saham yang udah turun sampai level yang bikin perusahaan, atau bursanya sendiri, pengin menjauh dari situ. Di IDX, itu biasanya berarti saham yang nyangkut di atau deket harga Rp50, batas bawah harga terendah yang boleh diperdagangkan di pasar reguler. Saham yang mentok di Rp50 udah nggak punya ruang buat turun lagi kalau ada hari yang jelek, dan ini sendiri bisa bikin pergerakan sahamnya jadi susah dibaca.
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melakukan reverse stock split rasio 10:1 yang berlaku efektif 31 Mei 2018, setelah harga sahamnya nyangkut di batas bawah Rp50 dalam waktu yang cukup lama. Langkah ini motong jumlah saham beredar dari sekitar 121,16 miliar jadi sekitar 12,12 miliar lembar, dengan harga direset ke Rp500, dilaporkan halaman investor relations Bakrie & Brothers sendiri. Tapi ini yang jadi catatan: CNBC Indonesia melaporkan saham BNBR terus anjlok di minggu-minggu setelah reverse stock split-nya, dan akhirnya balik lagi mendekati batas bawah Rp50 yang tadinya mau dihindari lewat aksi ini.
Reverse stock split di IDX bukan keputusan yang bisa langsung diumumkan sepihak sama perusahaan. Aksi ini diatur lewat Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 15/POJK.04/2022 tentang Pemecahan Saham dan Penggabungan Saham oleh Perusahaan Terbuka, yang ngatur baik stock split biasa maupun kebalikannya. Berdasarkan aturan ini, perusahaan wajib dapat persetujuan prinsip dari IDX dulu sebelum rencananya bisa dibawa ke rapat umum pemegang saham buat divoting.
Ada dua batasan waktu di dalam aturan yang sama, dicek silang lewat Kontan dan CNBC Indonesia:
Waktu menimbang permohonan reverse stock split, IDX mempertimbangkan beberapa kriteria, termasuk likuiditas perdagangan sahamnya, harga dan fluktuasinya, kinerja keuangan perusahaan, rasio penggabungan yang diusulkan, seberapa besar saham yang dipegang publik, dan apakah sahamnya sedang dalam pengawasan perdagangan, berdasarkan ringkasan resmi OJK atas peraturan ini. Semua ini bukan berarti reverse stock split jadi jaminan fundamental perusahaannya bagus. Ini cuma pengecekan prosedural atas mekanisme aksi korporasinya sendiri.
Perubahan jumlah saham dan harganya sifatnya mekanis dan nggak perlu tindakan apa pun dari kamu sebagai pemegang saham, di luar urusan administrasi yang udah otomatis ditangani sekuritasmu. Yang beneran perlu kamu perhatikan adalah pertanyaan yang sama yang seharusnya udah kamu tanyakan terlepas dari aksi korporasi apa pun: ada nggak sih yang beneran berubah dari bisnisnya sampai harga sahamnya bisa turun sejauh itu duluan.
Sebelum menganggap jumlah saham yang lebih sedikit dan harga yang direset itu artinya awal yang baru, cek dulu riwayat harga saham itu yang beneran terjadi di sekitar tanggal reverse split-nya, jangan cuma lihat rasionya doang. Direktori ticker NetWort mencatat semua saham IDX yang dilacak platform ini lengkap sama harga terkininya, dan halaman aset tiap saham nunjukkin riwayat harga lengkap, jadi kamu bisa lihat sendiri gimana perusahaan itu beneran diperdagangkan sebelum dan sesudah aksi korporasi apa pun, bukan cuma percaya sama rasionya buat nyeritain semuanya.