Saham Rp5.000 dan Saham Rp150 Nggak Gerak Pakai Langkah Harga yang Sama. Ini Aturan Fraksi Harga Aslinya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Coba buka order book saham apa pun di IDX. Kamu nggak akan pernah nemu bid atau ask yang angkanya ganjil kayak Rp6.713. Harga saham cuma bisa berhenti di angka-angka tertentu, dan besar kecilnya langkah itu tergantung sudah semahal apa saham tersebut. Aturan ini namanya fraksi harga, dan diam-diam dia yang nentuin sehalus apa harga sebuah saham bisa bergerak, entah kamu lagi pasang limit order di saham blue chip Rp6.000 atau di saham gorengan Rp40.
Fraksi harga adalah langkah minimum yang boleh dipakai untuk menggerakkan harga sebuah saham di IDX (Bursa Efek Indonesia). Kamu nggak bisa asal pasang order di angka rupiah berapa pun. Setiap harga harus jatuh di salah satu kelipatan yang sudah ditetapkan bursa untuk band harga saham itu saat ini, dan kelipatannya makin besar seiring makin mahalnya saham.
Ini bukan aturan teknis yang bisa diabaikan. Fraksi harga yang menentukan seberapa rapat bid dan ask bisa saling berdekatan (bid-ask spread), dan menentukan persis ada berapa banyak level harga di antara posisi saham sekarang dengan posisi berikutnya kalau harganya bergerak.
IDX menetapkan fraksi harga lewat Peraturan Nomor II-A (band fraksi harganya ditetapkan di Kep-00023/BEI/04-2016, dan masih berlaku di bawah pembaruan Maret 2023, Kep-00055/BEI/03-2023). Ada lima band yang mencakup semua saham yang tercatat:
| Band harga | Fraksi harga minimum |
|---|---|
| Di bawah Rp200 | Rp1 |
| Rp200 sampai Rp500 | Rp2 |
| Rp500 sampai Rp2.000 | Rp5 |
| Rp2.000 sampai Rp5.000 | Rp10 |
| Rp5.000 ke atas | Rp25 |
Bank Central Asia (BBCA), emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di IDX, diperdagangkan sekitar Rp6.700 pada 6 September 2026 (TradingEconomics), jelas masuk band paling atas. Harganya cuma bisa bergerak dalam langkah Rp25: Rp6.700, Rp6.725, Rp6.750, dan seterusnya. Nggak ada order yang valid di Rp6.710.
Di ujung yang lain, rekap Receh.in per 4 September 2026 mencatat ada 67 saham IDX yang diperdagangkan di bawah Rp50 per lembar, semuanya masuk band di bawah Rp200 dengan fraksi Rp1, langkah terkecil yang diperbolehkan bursa.
Tujuan menyesuaikan fraksi dengan harga adalah supaya langkah minimumnya kira-kira proporsional buat saham-saham dengan harga yang jauh berbeda, bukannya bikin saham murah bisa lompat berpuluh persen cuma dalam satu langkah, atau saham mahal bergerak dalam langkah yang saking kecilnya jadi nggak berarti secara ekonomi.
Rp25 di saham Rp6.700 kayak BBCA itu sekitar 0,37% dari harganya. Rp1 di saham Rp40 itu sekitar 2,5% dari harganya, lompatan persentase yang jauh lebih besar untuk satu langkah yang sama. Tabelnya memang nggak bikin persentase langkah tiap band jadi sama persis, tapi setidaknya nyegah kesenjangan antara saham termurah dan termahal di IDX jadi nggak masuk akal: kalau nggak ada fraksi yang lebih lebar di band atas, saham Rp6.700 bakal bergerak dalam kelipatan Rp1 yang sama kayak saham Rp40, kelipatan yang kekecilan buat berarti apa-apa di harga segitu, dan order book bakal penuh sama level harga yang nggak berguna.
Fraksi yang dipakai sebuah saham itu bukan melekat ke perusahaannya, tapi ke band harga tempat sahamnya sekarang berada. Jadi begitu saham pindah dari satu band ke band lain, dia langsung pakai langkah yang berbeda, tanpa perlu pengumuman apa pun selain pergerakan harganya sendiri.
Stock split adalah contoh paling jelas, karena bikin harga saham berubah instan, bukan pelan-pelan. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) ditutup di Rp67.000 pada 8 April 2026, hari terakhir perdagangan sebelum stock split rasio 1:25-nya (Investor.id, Indopremier). Di harga Rp67.000, DSSA berada di band paling atas, dengan fraksi Rp25. Begitu stock split berlaku pada 9 April 2026, harga teoretis hasil penyesuaiannya turun jadi Rp2.680 (Harianbasis.co, Asatunews.co.id), yang persis sama dengan Rp67.000 dibagi 25. Harga baru itu jatuh di band Rp2.000 sampai Rp5.000, dengan fraksi Rp10, bukan Rp25 lagi.
Perpindahan yang sama juga bisa kejadian sebaliknya, waktu saham lagi rally. Saham yang naik dari Rp4.800 ke Rp5.100 bukan cuma jadi lebih mahal, tapi juga keluar dari band fraksi Rp10 dan masuk ke band fraksi Rp25, dan setiap limit order yang dipasang di atas ambang itu wajib mengikuti kelipatan yang lebih lebar mulai saat itu.
Kalau kamu trading di saham yang harganya lagi mepet ke batas band, fraksi yang tadinya kamu pakai bisa berubah tanpa peringatan begitu harganya nyeberang batas itu. Limit order dengan kelipatan yang tadinya valid bisa jadi nggak valid begitu sahamnya pindah band, dan efeknya paling kelihatan di seberapa rapat spread bisa terjadi: spread minimum yang mungkin di sebuah saham itu satu fraksi, jadi saham yang berada di band dengan fraksi lebih lebar otomatis punya batas bawah spread yang lebih lebar juga dibanding kalau dia ada satu band di bawahnya.
Sebelum pasang limit order dekat angka bulat, cek dulu saham itu lagi ada di band yang mana. Halaman aset BBCA di NetWort nunjukkin saham yang jelas-jelas ada di band paling atas, fraksi Rp25, jenis level harga di mana order yang keliatannya "desimal" bakal ditolak diam-diam karena nggak jatuh di kelipatan yang valid.