Sering Gonta-Ganti Saham Ada Biaya Nyata Sebelum Kena Fee Broker: Namanya Bid-Ask Spread
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu cek transaksi kamu, angkanya kelihatan rapi: harga beli, harga jual, satu baris komisi kecil. Tapi ada satu biaya lagi yang nempel di hampir setiap transaksi di IDX, dan biaya ini nggak pernah muncul sebagai baris terpisah di nota kamu. Namanya bid-ask spread. Di saham yang rame ditransaksikan kayak Bank Central Asia (BBCA), biayanya kecil, di bawah setengah persen. Di saham lapis dua yang jarang ditransaksikan, biaya yang sama ini bisa makan lebih dari 7% dari nilai transaksi kamu, sebelum kena komisi broker sama sekali.
Setiap saham di bursa punya dua harga yang jalan bareng terus: bid, harga tertinggi yang lagi ditawar orang buat beli, dan ask (atau offer), harga terendah yang lagi ditawarkan orang buat jual. Selisih antara dua angka ini namanya spread. Kalau kamu mau beli sekarang juga, kamu bayar di harga ask. Kalau kamu mau jual sekarang juga, kamu dapat di harga bid. Beli terus langsung jual lagi saham yang sama, meskipun harganya sama sekali nggak bergerak, kamu tetap rugi sebesar lebar spread itu. Ini biaya nyata yang bisa dihitung, dan sama sekali terpisah dari komisi yang dikenakan broker kamu.
Bursa nggak ngebiarin harga bid dan ask ada di angka sembarang. Berdasarkan aturan perdagangan IDX sendiri, Peraturan Nomor II-A (tabel fraksi harganya ditetapkan lewat Kep-00023/BEI/04-2016 dan masih berlaku sampai sekarang di bawah pembaruan Maret 2023, Kep-00055/BEI/03-2023), harga tiap saham cuma boleh bergerak dalam kelipatan tetap yang disebut fraksi harga, dan besarnya kelipatan ini naik seiring harga sahamnya makin tinggi:
| Rentang harga | Fraksi harga minimum |
|---|---|
| Di bawah Rp200 | Rp1 |
| Rp200 sampai Rp500 | Rp2 |
| Rp500 sampai Rp2.000 | Rp5 |
| Rp2.000 sampai Rp5.000 | Rp10 |
| Rp5.000 ke atas | Rp25 |
Tabel ini yang nentuin seberapa sempit spread boleh secara aturan: cuma satu fraksi harga, kalau kebetulan ada pembeli dan penjual yang nempel persis di dua level harga bersebelahan. Nggak ada saham yang bisa punya bid dan ask lebih rapat dari itu, seberapapun likuidnya saham tersebut.
BBCA, perusahaan terbesar di IDX dari sisi nilai pasar, diperdagangkan di sekitar Rp6.300 per lembar pada 14 Agustus 2026 (Fortune Indonesia). Di harga segitu, BBCA masuk ke rentang harga paling atas, jadi fraksi harganya Rp25. Kalau order book BBCA serapat yang diizinkan aturan, misalnya ada bid di Rp6.275 nempel pas sama ask di Rp6.300, beli di harga ask terus langsung jual di harga bid bikin kamu rugi Rp25 per lembar, sekitar 0,4% dari nilai transaksi (Rp25 dibagi Rp6.300). Kalau kamu invest Rp10.000.000, itu artinya sekitar Rp40.000 hilang cuma gara-gara spread, belum kena komisi sama sekali.
BBCA salah satu saham paling aktif ditransaksikan di bursa, jadi kenyataannya spread aslinya memang biasanya nempel di batas minimum satu fraksi harga itu. Karena order beli dan jual antre hampir di setiap level harga, jarang ada celah lebih dari satu fraksi harga antara bid terbaik dan ask terbaik.
Banyak saham di IDX yang jauh lebih jarang ditransaksikan dibanding BBCA, dan rentang harga yang lebih rendah langsung mengubah hitungannya. Rangkuman Receh.in soal saham termurah di Indonesia per Juli 2026 menemukan Waskita Beton Precast (WSBP) di harga Rp14 per 22 Juli 2026, masuk rentang di bawah Rp200 dengan fraksi harga minimum cuma Rp1.
Satu rupiah kedengarannya kecil, tapi kalau dibandingkan sama harga saham Rp14, itu nggak kecil sama sekali: Rp1 dibagi Rp14 sekitar 7,1%. Itu spread minimum di saham dengan harga segitu, sekitar delapan belas kali lebih lebar dari batas minimum BBCA yang cuma 0,4%, murni gara-gara posisi harganya di tabel fraksi harga. Di investasi Rp10.000.000 yang sama, satu putaran beli-jual di spread minimum ini bisa menghabiskan sekitar Rp710.000 di WSBP, dibanding sekitar Rp40.000 di BBCA.
IDX sendiri sudah mengakui spread lebar di saham kurang likuid sebagai masalah kualitas pasar yang nyata: pada Mei 2025 bursa meluncurkan skema Liquidity Provider resmi yang khusus ditujukan buat mempersempit spread di saham-saham yang jarang ditransaksikan (Bareksa).
Semua ini nggak ngegantiin komisi broker kamu, malah numpuk di atasnya. Dua broker ritel besar di Indonesia, Ajaib dan Stockbit Sekuritas, sama-sama ngenain sekitar 0,15% buat beli dan 0,25% buat jual per 2026 (Ajaib, Help Center Stockbit Sekuritas), di atas levy transaksi bursa IDX, KPEI dan KSEI sendiri (sekitar 0,0433%), PPN 11% dari komisinya, dan pajak final 0,1% yang dikenain di sisi jual, keempat angka ini diverifikasi langsung terhadap halaman resmi masing-masing sekuritas per Mei 2026 (Rankia.id). Satu putaran beli-jual di saham likuid kayak BBCA bisa nambah sekitar 0,5% sampai 0,6% biaya terkait komisi, di atas spread 0,4% tadi. Di saham lapis dua yang tipis likuiditasnya, struktur komisi yang sama numpuk di atas spread yang berkali-kali lipat lebih lebar, dan spread aslinya, bukan cuma minimumnya, bisa lebih lebar lagi.
Sekali beli buat jangka panjang terus dijual nanti cuma bayar spread dua kali: sekali pas masuk, sekali pas keluar. Orang yang aktif keluar masuk saham yang sama beberapa kali sebulan, bayar spread itu setiap putaran, di atas komisi yang juga kena setiap kali. Di saham likuid kayak BBCA, biaya ini masih kerasa wajar. Di saham lapis dua yang tipis likuiditasnya, sering transaksi bikin spread yang jarang dipikirin investor berubah jadi salah satu biaya terbesar di seluruh strategi, seringnya malah lebih besar dari komisi yang nempel di sebelahnya.
Sebelum transaksi saham yang belum kamu pegang, cek dulu seberapa aktif saham itu ditransaksikan. Halaman aset BBCA di NetWort nunjukkin contoh saham likuid yang spread-nya tetap rapat, dan tampilan Portfolio Health kamu sendiri adalah tempat buat lihat berapa banyak return total kamu yang sebenarnya sudah dimakan aktivitas trading belakangan ini, spread dan komisi dua-duanya, dibanding kalau kamu cuma diam pegang saham itu.