IHSG Nggak Nimbang Semua Saham Sama Rata. Ini Gara-Gara Free Float
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Dua perusahaan bisa punya nilai pasar yang mirip-mirip di Bursa Efek Indonesia (BEI), tapi bobotnya di IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) bisa jauh berbeda. Penyebabnya adalah free float: porsi saham perusahaan yang benar-benar bebas diperdagangkan publik. IHSG nggak nimbang saham berdasarkan nilai pasar penuhnya. Yang dipakai cuma free float-nya, dan aturan ini bisa memangkas bobot indeks perusahaan raksasa sampai 80% lebih dari ukuran aslinya.
Free float kedengarannya teknis, tapi konsepnya sederhana. Setiap perusahaan yang tercatat di bursa punya sebagian saham yang jarang, bahkan nggak pernah, diperdagangkan: saham milik pendiri, saham induk perusahaan, atau saham yang dikunci keluarga pengendali. Saham-saham itu ada, tapi sebenarnya nggak benar-benar "beredar di pasar".
Berdasarkan aturan BEI yang berlaku saat ini (Peraturan Bursa Nomor I-A, efektif 31 Maret 2026), saham free float didefinisikan secara spesifik sebagai saham tanpa warkat yang dimiliki pemegang saham dengan kepemilikan masing-masing di bawah 5% dari total saham tercatat, dan bukan milik pengendali perusahaan, pihak terafiliasi, maupun anggota direksi dan komisaris (HSF Kramer, "Indonesia raises the bar: IDX tightens its free float rules," Juli 2026; Tempo, "IDX Officially Implements 15% Free Float Requirement"). Sebesar apa pun saham pemegang saham pengendali, sahamnya tetap nggak dihitung.
Ini bukan cuma syarat pencatatan. Ini juga cara IHSG menghitung bobot tiap sahamnya. Lewat tahapan yang dimulai 1 Oktober 2021 (30% dari penyesuaian free float), naik jadi 60% pada Januari 2022, dan tuntas 100% pada April 2022, IHSG sekarang menimbang tiap sahamnya pakai kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float, bukan kapitalisasi pasar mentah (Bisnis.com, "BEI Segera Terapkan Metode Free Float dalam Penghitungan Indeks, Berikut Jadwalnya," 2 Juni 2021).
Perusahaan dengan kapitalisasi pasar Rp400 triliun tapi free float cuma 10% punya bobot indeks yang sama dengan perusahaan senilai Rp40 triliun yang free float-nya 100%. Ukuran di atas kertas dan ukuran di dalam indeks itu dua angka yang beda.
Ambil contoh PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), salah satu perusahaan terbesar di BEI dari sisi kapitalisasi pasar mentah: sekitar Rp432 triliun per 13 Juli 2026 (Kontan). Tapi free float-nya, menurut data kepatuhan BEI sendiri, cuma 12,3% per 31 Maret 2026 (Kontan, "Lebih Dari 400 Saham Di BEI Belum Penuhi Free Float 15%," 8 Mei 2026).
Kalau dua angka ini dimasukkan ke rumus di atas, kapitalisasi pasar free float BREN cuma sekitar Rp53 triliun, sekitar 88% lebih kecil dari angka headline-nya yang Rp432 triliun (dihitung sendiri dari dua angka bersumber di atas).
Bandingkan dengan PT DCI Indonesia Tbk (DCII), yang kapitalisasi pasar mentahnya nggak beda jauh, sekitar Rp475 triliun di minggu yang sama, tapi free float-nya sudah 18,5% per data Maret 2026 yang sama, sudah di atas batas minimum aturan. Kapitalisasi pasar free float DCII jadi sekitar Rp88 triliun, tetap kepotong banyak dari ukuran mentahnya, tapi potongannya nggak sedalam punya BREN.
Free float bukan cuma soal bobot indeks. Ini juga syarat pencatatan, dan BEI baru saja memperketatnya. Masih di Peraturan Bursa Nomor I-A yang sama, efektif 31 Maret 2026, batas minimum free float supaya tetap tercatat naik dari 7,5% jadi 15% dari total saham perusahaan.
Perubahan ini kena ke lebih banyak perusahaan dari yang mungkin kamu kira. Berdasarkan data BEI sendiri per 31 Maret 2026, lebih dari 400 perusahaan tercatat belum mencapai batas 15% ini, termasuk BREN (12,3%), Bank Syariah Indonesia (BRIS, 9,3%), HM Sampoerna (HMSP, 7,5%), dan Pantai Indah Kapuk Dua (PANI, 11%) (Kontan, 8 Mei 2026).
Perusahaan yang belum memenuhi batas ini dapat tenggat waktu bertahap, bukan langsung: yang kapitalisasi pasarnya minimal Rp5 triliun wajib capai minimal 12,5% free float paling lambat 31 Maret 2027, lalu 15% paling lambat 31 Maret 2028. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp5 triliun dapat kelonggaran sampai 31 Maret 2029 (sumber sama).
Kalau kamu pegang reksa dana atau produk yang mengikuti IHSG, atau lagi bandingin dua perusahaan dari "seberapa besar" kelihatannya, free float adalah angka yang sebenarnya menentukan seberapa besar pengaruh masing-masing ke indeks yang kamu pantau. Perusahaan raksasa dengan free float kecil, seperti BREN sekarang, bisa mendominasi berita soal kapitalisasi pasar, padahal bobot aslinya di dalam IHSG jauh lebih kecil dari yang kelihatan. Ini nyambung sama soal konsentrasi yang sudah ada di puncak IHSG: lihat kenapa segelintir saham nentuin sebagian besar bobot IHSG untuk gambaran lengkapnya.
Free float ngejelasin kenapa ukuran saham di atas kertas dan pengaruhnya ke IHSG bisa beda jauh. Buka halaman Market di NetWort buat lihat saham dan sektor mana yang beneran gerakin indeks hari ini, daripada cuma nebak dari kapitalisasi pasar mentahnya. Bank Central Asia (BBCA), perusahaan terbesar di bursa dari sisi kapitalisasi pasar, cocok jadi titik awal, karena bobotnya di IHSG juga kena hitungan free float yang sama.