Sahammu Kena Dilusi Gara-Gara Rights Issue. Ini Hitungan yang Beneran Terjadi ke Kepemilikanmu
Baca 7 menit
Baca 7 menit
Kamu buka aplikasi sekuritas, dan ada pengumuman: perusahaan yang sahamnya kamu pegang mau melakukan rights issue. Persentase kepemilikanmu bakal turun. Tidak ada yang dijual dari akunmu, tidak ada tagihan yang datang, tapi kamu tetap bakal punya porsi lebih kecil dari perusahaan itu dibanding kemarin.
Itu namanya dilusi rights issue, dan apakah ini beneran bikin kamu rugi atau tidak, tergantung penuh sama apa yang kamu lakukan setelahnya. Mekanismenya sendiri bukan trik atau hukuman. Ini cuma hitungan matematika biasa, dan begitu kamu lihat angkanya, ini jadi tidak semisterius kelihatannya.
Di Indonesia, rights issue punya nama resmi HMETD, singkatan dari Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Kalau sebuah perusahaan terbuka butuh modal tambahan, entah buat melunasi utang, ekspansi bisnis, atau menyelesaikan akuisisi, perusahaan itu bisa menerbitkan saham baru dan menawarkannya lebih dulu ke pemegang saham lama, sesuai proporsi kepemilikan yang sudah mereka punya, sebelum ditawarkan ke pihak lain.
Penawaran proporsional itu inti dari kata "terlebih dahulu" di namanya. Kalau kamu sudah punya 0,1% dari sebuah perusahaan dan perusahaan itu menerbitkan saham baru, kamu dapat hak buat beli saham baru secukupnya supaya kepemilikanmu tetap di 0,1%. Apa yang terjadi ke porsimu setelah itu, itu pilihan kamu sendiri, bukan keputusan perusahaan.
Contoh di bawah ini pakai angka rekaan, bukan perusahaan riil di BEI, supaya kamu bisa ikuti mekanismenya tanpa mikir apakah kodenya cocok sama saham tertentu. Rumusnya sama persis dengan yang dipakai di pengumuman aksi korporasi beneran.
Anggap kamu punya 1.000.000 lembar saham di perusahaan yang total sahamnya beredar 1.000.000.000 lembar. Artinya kepemilikanmu persis 0,10%.
Perusahaan mengumumkan rights issue dengan rasio 5:1: setiap 5 lembar saham lama yang kamu punya, kamu dapat hak beli 1 lembar saham baru, di harga pelaksanaan Rp500, jauh di bawah harga pasar. Diskon sebesar itu memang wajar. Itu yang bikin pemegang saham lama mau beneran bayar buat saham baru, bukan malah membiarkan haknya hangus.
Dengan rasio 5:1, perusahaan menerbitkan 200.000.000 lembar saham baru (1.000.000.000 dibagi 5), sehingga total saham beredar jadi 1.200.000.000 lembar setelah rights issue selesai.
Begitu ada saham baru dengan harga lebih murah dari saham lama, nilai wajar sahamnya otomatis mendarat di antara keduanya. Nilai gabungan ini disebut Theoretical Ex-Rights Price, atau TERP, dan hampir semua sekuritas serta situs finansial di Indonesia pakai rumus yang sama buat menghitungnya:
TERP = (A × P + B × R) ÷ (A + B)
Masukkan rasio 5:1 dari contoh tadi: 5 saham lama di harga Rp1.000, ditambah 1 saham baru di harga Rp500, dibagi total 6 saham.
TERP = (5 × 1.000 + 1 × 500) ÷ 6 = 5.500 ÷ 6 = Rp917 per lembar (dibulatkan)
Itulah harga acuan baru yang diperkirakan berlaku begitu rights issue efektif, murni dari hitungan matematika, sebelum pasar bereaksi ke hal lain yang terjadi di perusahaan itu hari itu.
Ini bagian yang sering dilewatkan penjelasan lain. Dapat HMETD tidak memaksa kamu ke satu hasil saja. Kamu punya tiga pilihan nyata, dan cuma satu di antaranya yang beneran bikin kamu rugi.
Kamu pakai hakmu buat beli 200.000 lembar saham baru (1.000.000 dibagi 5) di harga pelaksanaan Rp500, jadi keluar tambahan Rp100.000.000.
Persentase kepemilikanmu persis sama seperti sebelumnya. Kamu tidak rugi apa-apa, tapi kamu harus keluar modal tambahan buat itu.
HMETD itu sendiri bisa diperdagangkan di BEI selama periode perdagangan rights-nya. Kalau kamu tidak mau keluar modal tambahan, kamu bisa jual haknya, bukan pakai buat beli saham baru. Nilai teoretis satu hak dihitung dari TERP dikurangi harga pelaksanaan, dibagi rasio: (Rp917 − Rp500) ÷ 5 ≈ Rp83 per hak.
Kamu punya 1.000.000 hak (satu per saham lama), jadi kalau semuanya dijual, kamu dapat sekitar Rp83.000.000.
Kalau kamu jual haknya di nilai teoretisnya, secara hitungan kamu balik lagi ke posisi awal. Persentase kepemilikanmu tetap turun karena kamu tidak beli saham baru, tapi uang dari jual haknya menutup penurunan nilai saham lamamu.
Ini satu-satunya jalan yang beneran bikin kamu rugi. Kalau kamu tidak bertindak sama sekali dan haknya kedaluwarsa begitu saja:
Kerugian itu bukan biaya, bukan pajak, dan bukan sesuatu yang diambil perusahaan darimu. Itu nilai dari hak yang seharusnya kamu punya tapi tidak pernah kamu pakai, entah dengan exercise atau dengan menjualnya.
| Pilihan | Saham yang dipegang | Kepemilikan sesudahnya | Nilai sesudahnya | Hasilnya |
|---|---|---|---|---|
| Exercise hak | 1.200.000 | 0,10% (tetap) | ≈ Rp1.100.400.000 | Tidak rugi, tapi keluar modal tambahan |
| Jual hak | 1.000.000 | 0,083% | ≈ Rp1.000.000.000 | Kurang lebih tidak rugi, tanpa modal tambahan |
| Tidak bertindak | 1.000.000 | 0,083% | ≈ Rp917.000.000 | Kehilangan nilai hak yang tidak dipakai |
Kelewat jadwal itu yang bikin "jual haknya" berubah jadi "tidak melakukan apa-apa" secara tidak sengaja. Setiap rights issue di BEI berjalan lewat urutan tanggal yang sama:
Aksi korporasi seperti ini bikin harga bergerak cepat di sekitar tanggal pengumumannya, dan cek halaman Market di NetWort buat lihat saham-saham yang paling bergerak hari itu bisa membantu kamu mengenali kalau saham yang kamu pegang lagi bereaksi ke aksi korporasi, bukan ke berita biasa.
Rights issue itu sebuah keputusan, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja ke kamu. Exercise butuh modal tambahan tapi menjaga porsimu tetap utuh. Jual haknya tidak butuh modal tambahan dan kurang lebih menjaga nilaimu. Cuma diam yang beneran bikin nilai lepas dari tanganmu.
Apa pun pilihanmu, cost basis dan jumlah sahammu berubah, jadi catat hasilnya sebagai transaksi di Holdings begitu prosesnya selesai. Itu yang bikin rata-rata harga beli, persentase kepemilikan, dan P&L kamu tetap akurat, bukan malah meleset dari kondisi sebenarnya.