Cukai Rokok Nggak Naik Dua Tahun Berturut-turut. Ini yang Beneran Terjadi ke Saham GGRM, HMSP, dan WIIM
Baca 7 menit
Baca 7 menit
Kalau kamu pegang, atau lagi mantengin, saham Gudang Garam (GGRM), HM Sampoerna (HMSP), atau Wismilak (WIIM), kamu pasti ngerasain tahun yang aneh. Tanggal 29 September 2025, pemerintah mastiin cukai rokok buat 2026 nggak naik, pertama kalinya kejadian ini dalam bertahun-tahun. Eh, ketiga sahamnya malah pada turun hari itu juga. Sembilan bulan kemudian, pas GGRM ngumumin labanya melonjak 2.440%, sahamnya turun lagi. Kalau kabar bagus soal biaya dan laba rekor sama-sama bikin harga saham turun, berarti ada yang lebih spesifik lagi yang beneran nentuin arah sahamnya. Ini penjelasannya, lengkap sama angka aslinya.
Nama resminya Cukai Hasil Tembakau (CHT). Ini pajak yang dipungut pemerintah per batang rokok yang diproduksi, di luar PPN, dan besarnya beda-beda tergantung jenis rokok dan skala pabriknya. Buat perusahaan kayak GGRM atau HMSP, CHT biasanya jadi komponen biaya terbesar, lebih gede dari tembakau, kertas, atau upah pekerja digabung jadi satu. Kalau tarif CHT naik, pabrik rokok punya dua pilihan: naikin harga jual, yang berisiko bikin perokok yang sensitif harga pindah ke rokok lebih murah atau rokok ilegal, atau nelan biayanya sendiri dan bikin margin laba kotor (persentase pendapatan yang tersisa setelah dikurangi biaya) makin tipis. Karena itu, keputusan tarif CHT tiap tahun jadi salah satu yang paling ditunggu pasar buat saham-saham ini.
Ini riwayat perubahan tarif CHT sejak 2020, dirangkum dari pengumuman kebijakan Kementerian Keuangan yang dilaporkan CNBC Indonesia dan Kontan:
| Tahun | Perubahan tarif CHT |
|---|---|
| 2020 | +23% |
| 2021 | +12,5% |
| 2022 | +12% |
| 2023 | +10% |
| 2024 | +10% |
| 2025 | 0% (dibekukan) |
| 2026 | 0% (dibekukan) |
Jadi enam tahun berturut-turut naik, beberapa di antaranya cukup tinggi, terus dua tahun berturut-turut sama sekali nggak naik. Menteri Keuangan waktu itu, Purbaya Yudhi Sadewa, yang mastiin keputusan tidak naik di 2026 pada 29 September 2025, dengan alasan menjaga daya beli masyarakat dan menghindari makin banyak perokok pindah ke rokok ilegal yang nggak kena cukai, menurut Bisnis.com.
Di atas kertas, tarif cukai yang dibekukan itu kabar bagus buat biaya produsen rokok. Tapi itu bukan yang kejadian di harga sahamnya. Tanggal 29 September 2025, hari keputusan Menkeu Purbaya diumumkan resmi, ketiga saham rokok di IDX kompak turun:
| Saham | Pergerakan hari itu | Harga penutupan |
|---|---|---|
| WIIM (Wismilak) | -6,84% | Rp1.430 |
| GGRM (Gudang Garam) | -4,27% | Rp14.000 |
| HMSP (HM Sampoerna) | -4,00% | Rp840 |
(Angka menurut Bisnis.com.)
Kemungkinan penjelasannya adalah pola yang di dunia trading disebut "sell the news," alias jual pas kabarnya keluar. Beberapa hari sebelumnya, ketiga saham ini udah keburu naik duluan gara-gara ada sinyal awal kalau kenaikan cukai bakal kecil, menurut laporan Bisnis.com sebelumnya. Jadi begitu keputusan resminya keluar, ekspektasi itu udah kadung tercermin di harga saham duluan, dan investor jadi lebih milih ambil untung ketimbang lanjut beli. Pelajarannya bukan berarti pembekuan cukai itu buruk buat perusahaannya. Tapi harga saham bereaksi ke apakah kabarnya lebih bagus dari yang udah diperkirakan pasar, bukan ke apakah kabarnya bagus atau nggak secara mutlak.
Sembilan sampai sepuluh bulan sejak cukai dibekukan, hasil kinerja semester I 2026 udah keluar, dan dampaknya ke laba memang nyata, meskipun reaksi sahamnya di hari-H nggak sesederhana itu. "YoY" di bawah artinya year on year, membandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.
| Perusahaan | Periode | Laba bersih | Perubahan YoY | Yang beneran nyebabin |
|---|---|---|---|---|
| GGRM | Semester I 2026 | Rp2,98 triliun | +2.440% (dari Rp117,16 miliar) | Beban pokok penjualan dipangkas dari Rp40,58 triliun jadi Rp35,19 triliun; beban operasional turun 33,92%, dibarengi laporan pengurangan tenaga kerja sampai 23,5% |
| HMSP | Semester I 2026 | Rp4,2 triliun | +97% | Volume penjualan pulih (sekitar 20 miliar batang di kuartal II, naik 9% dari kuartal sebelumnya) plus efisiensi biaya bahan baku, bikin margin laba kotor naik jadi 18,4% |
| WIIM | Semester I 2026 | Rp303,32 miliar | +104,6% | Penjualan beneran naik: pendapatan bersih naik 12,3% jadi Rp3,23 triliun, ditopang rokok kretek mesin yang naik dari Rp1,74 triliun jadi Rp2,15 triliun |
(GGRM: Kontan, idnfinancials. HMSP: dataindonesia.id dan laporan semester I 2026 selanjutnya. WIIM: Bisnis.com, idnfinancials.)
Perhatiin, ini tiga cerita berbeda di bawah tailwind yang sama. Lonjakan GGRM sebagian besar cerita soal pemangkasan biaya, termasuk pengurangan tenaga kerja yang gede, ditambah basis tahun lalu yang emang lagi lemah banget. HMSP campuran antara pemulihan volume penjualan dan efisiensi biaya. WIIM paling mendekati cerita ideal di buku teks: rokoknya beneran kejual lebih banyak. Cukai yang dibekukan bikin ketiganya lebih ringan bebannya, tapi caranya berhasil beda-beda, dan angka persentase laba doang nggak cukup buat tahu kamu lagi liat cerita yang mana.
Lonjakan laba 2.440% GGRM diumumkan sekitar 12 Agustus 2026. Reaksi sahamnya malah turun 4,59% di hari itu juga, ke Rp19.725, menurut CNBC Indonesia. Investor kabarnya lebih fokus ke apa yang ada di balik angka labanya: pendapatan tetap turun 7,2% secara tahunan, artinya GGRM jualannya beneran berkurang, dan laba yang sumbernya kebanyakan dari pemangkasan biaya serta tenaga kerja yang menyusut nimbulin pertanyaan wajar soal apa pertumbuhan segede itu bisa berulang kalau udah nggak ada lagi yang bisa dipangkas.
Tanggal 14 September 2026, kurang dari dua minggu sebelum artikel ini ditulis, Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara jadi Menteri Keuangan baru, menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Saham rokok turun lagi gara-gara berita reshuffle ini, soalnya investor was-was menteri baru bisa aja buka lagi opsi kenaikan cukai buat 2027, menurut IDX Channel. Tapi analis dari CGS International sejauh ini masih memproyeksikan tarif CHT 2027 bakal tetap flat, sejalan sama asumsi yang udah dibahas dalam pembicaraan APBN 2027, menurut Finansial Insight. Per 21 September 2026, GGRM diperdagangkan di Rp17.650 dan HMSP di Rp645, dan investor asing masih net buy di hari itu, menurut Bisnis.com dan pemberitaan pasar terkini.
Cukai rokok Indonesia berhenti naik setelah enam tahun berturut-turut naik terus, dan itu beneran keuntungan biaya yang kelihatan jelas di hasil laporan keuangan GGRM, HMSP, dan WIIM sepanjang 2026. Tapi tiap kali cerita ini muncul di pasar tahun ini, sahamnya bergerak karena hal yang lebih spesifik dari sekadar headline-nya: apa yang udah kadung diperkirakan pasar, apa yang beneran nyebabin angka labanya, dan siapa yang bakal nentuin kebijakan tahun depan. Sebelum kamu jadiin headline cukai sebagai alasan buat nebak arah saham rokok, cek dulu apa yang udah tercermin di harganya dan apa kata angka asli perusahaannya. Halaman Market NetWort nampilin sentimen harian IDX dan saham-saham yang lagi bergerak, jadi kamu bisa lihat sendiri gimana sahamnya beneran diperdagangkan sebelum langsung percaya satu headline kebijakan. Buat contoh serupa kejadian makro yang gerakin saham konsumer bukan karena alasan yang keliatan jelas, cek UMP 2026 naik sampai 9%, ini dampak aslinya ke saham sektor konsumer.