Pasar Jual-Beli Sneakers Bekas Ambruk. Ini Kata Datanya
Baca 7 menit
Baca 7 menit
Tahun 2023, Jordan 1 "Lost & Found" dijual resmi seharga US$180, lalu laku lagi di pasar bekas seharga US$500 sampai US$600. Sekarang, pasangan yang sama cuma laku sekitar US$275 sampai US$300. Ini bukan cerita satu rilisan sial. Ini yang dibilang Mike Sykes II dari Business of Fashion ke NPR, 4 Januari 2026: "nilainya sudah kempes sekarang." Pasar yang dulu jalan karena hype, sekarang jalan karena permintaan dan pasokan yang sebenarnya, dan data harga sneakers bekas tiga tahun terakhir nunjukin persis kenapa itu terjadi.
Platform seperti StockX dan GOAT kerjanya mirip bursa, bukan toko biasa. Penjual pasang sneakers-nya, pembeli tawar atau langsung beli di harga yang dipasang, lalu platform yang mengecek keasliannya sebelum dikirim. Proses cek keaslian ini justru intinya: itu yang bikin sepatu bekas orang asing bisa laku lebih mahal dari sepatu baru di mal, kalau memang lagi banyak yang cari.
Selama bertahun-tahun, permintaan buat rilisan langka jauh lebih tinggi dari stoknya. Sykes bilang ke NPR, beberapa tahun lalu rilisan limited biasa laku dengan premium 100% sampai 200% di atas harga resminya. "Sekarang sudah enggak begitu," katanya, "orang juga sudah enggak mau bayar semahal itu lagi."
Contoh paling jelas ada di Yeezy, lini sepatu Adidas yang dibangun bareng Kanye West (Ye). Adidas putus kerja sama dengan Ye di Oktober 2022 gara-gara komentar antisemitnya, dan langsung dapat masalah besar: gudang penuh sepatu yang namanya sudah enggak mau lagi dikaitkan sama brand mereka.
Angka-angka setelahnya semuanya dari laporan keuangan resmi Adidas sendiri. Pendapatan Yeezy turun dari €750 juta (US$803 juta) di 2023 jadi €650 juta (US$696 juta) di 2024, turun sekitar 13%, seiring Adidas menghabiskan sisa stoknya (Sportico, dari laporan tahunan Adidas 2024). Adidas mulai jual sisa stok Yeezy sejak Mei 2023, dan per Maret 2025 mereka konfirmasi stoknya sudah benar-benar habis. "Enggak ada satu pun sepatu Yeezy yang tersisa," kata CFO Adidas, Harm Ohlmeyer. "Semuanya sudah terjual dan babak itu sudah lewat" (SneakerNews, 5 Maret 2025).
Lini Nike Dunk nunjukin mekanisme yang sama tanpa perlu skandal apa pun. Nike ngeluarin lebih dari 150 varian warna Dunk baru di tahun 2023, ngejar permintaan yang bikin sepatu ini jadi salah satu yang paling laku di pasar bekas. Tapi di 2024, menurut laporan Business of Fashion, sekitar 75% stok Dunk malah numpuk enggak laku di rak toko. Nike, di bawah CEO baru Elliott Hill, akhirnya motong rilisan Dunk baru jadi cuma beberapa lusin per tahun, dan membiarkan penjualannya turun sampai perkiraan 70% dalam dua tahun, sengaja membangun ulang kelangkaan daripada terus ngejar volume (Hypebeast, Maret 2025, mengutip laporan Business of Fashion). Current Culture Index StockX edisi keenam, dirilis Januari 2025, mencatat harga resale Nike Dunk turun 41% dibanding tahun sebelumnya, sepanjang 2024.
Pelajarannya bukan "jangan beli Nike". Pelajarannya, sneakers apa pun yang lagi hype, begitu pasokannya dibanjiri, entah karena putus kerja sama brand atau karena pabriknya sendiri yang kebanyakan produksi, harga jual kembalinya bakal balik mendekati harga resminya lagi.
Current Culture Index StockX edisi ketujuh, yang mencakup data 2025 dan dirilis Januari 2026, mencatat rata-rata harga resale Nike dan Jordan naik 5% dan 6% dibanding tahun sebelumnya, yang oleh StockX sendiri disebut "tanda awal pemulihan." Nike, Jordan, Adidas, New Balance, dan Asics tetap jadi lima brand paling laku, tiga tahun berturut-turut.
Tapi laporan yang sama juga nunjukin uangnya lagi pindah ke tempat lain. Penjualan Mizuno di StockX naik 124% dibanding tahun sebelumnya di 2025, dan Asics naik 45%, keduanya didorong sepatu lari, bukan sepatu basket. Ini kelihatannya bukan kembalinya siklus hype yang lama, tapi lebih ke pembeli yang pindah ke kategori sama sekali berbeda.
Bahkan GOAT, salah satu dari dua platform resale terbesar, sampai memasang taruhan cadangan di luar hype. Pada 31 Maret 2026, mereka meluncurkan Sneakers.com, toko terpisah yang jual sneakers baru dari brand ternama dengan diskon sampai 91%, dengan rata-rata nilai transaksi cuma US$70, dibanding US$150 lebih di marketplace resale utama GOAT. Seorang eksekutif GOAT Group bilang ke Yahoo Finance dan PR Newswire kalau peluncuran ini mencerminkan "momen di mana nilai uang benar-benar penting." Platform yang dibangun dari resale barang koleksi sampai bikin toko diskon sendiri, itu sudah jadi data tersendiri soal ke mana arah pasar sneakers bekas sekarang.
Indonesia punya infrastruktur resale sendiri, terpisah dari StockX atau GOAT. Kick Avenue, didirikan di Jakarta tahun 2017 oleh Christopher Eko, Alwin Sasmita, dan Reinaldo Gunawan, jadi marketplace konsinyasi terbesar di Indonesia untuk sneakers, streetwear, dan barang mewah, dengan tim autentikasi sendiri sebelum barang dijual lagi. Mereka dapat pendanaan Seri A senilai US$2,9 juta di Februari 2023, didukung KREAM dari Korea Selatan dan SneakerLAH dari Malaysia (AIM Group, 2 Februari 2023). Novelship, berpusat di Singapura dan berdiri Oktober 2018, menjalankan marketplace serupa dengan sistem autentikasi di seluruh Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Di bawah kedua platform ini ada satu lapisan informal yang jauh lebih besar: penjual jastip di Instagram dan grup jual-beli Facebook per kota, tempat sneakers berpindah tangan tanpa proses autentikasi sama sekali. Jalur informal ini nyata dan banyak dipakai, tapi risikonya adalah barang palsu, hal yang justru dirancang untuk dihilangkan lewat autentikasi platform resmi. Kalau ada harga yang kelihatan terlalu bagus dibanding harga yang tercantum di Kick Avenue atau Novelship untuk pasangan sepatu yang sama, itu yang pertama harus dicurigai, bukan yang terakhir.
Sepasang sneakers di lemari kamu itu aset beneran, tapi data di atas bilang kebanyakan sneakers berperilaku seperti aset yang nilainya turun, bukan naik. Di halaman Holdings NetWort, sneakers masuk kategori Luxury Goods, dan pembagian yang sama yang berlaku buat tas branded, berlaku juga di sini: Standard, yang defaultnya turun -15% per tahun, cocok buat sneakers biasa termasuk kebanyakan rilisan hype lama begitu premium resale-nya menghilang, dan Collectible, yang defaultnya naik +5% per tahun, sebaiknya cuma dipakai buat pasangan tertentu yang punya data resale nyata dan masih berlaku sekarang, bukan harga heboh dari tahun lalu.
Sepatu Nike dan saham Nike itu dua taruhan yang beda, dengan profil risiko yang beda juga. Kalau yang mau kamu pantau justru perusahaannya, bukan satu pasang sepatu tertentu, sahamnya diperdagangkan sebagai NKE, aset terpisah dengan riwayat harganya sendiri.
Biar kebayang jelas selisihnya, ini contoh perhitungan pakai kurs USD/IDR hari ini sekitar Rp17.725 (27 Agustus 2026, dicek silang dari data Bank Indonesia dan Trading Economics, kurs yang bergerak tiap hari dan sebaiknya kamu cek lagi lewat data makro terkini sebelum dipakai buat hitungan sungguhan), diterapkan ke contoh Jordan 1 "Lost & Found" di atas.
| Titik waktu | Harga (USD) | Setara Rupiah |
|---|---|---|
| Harga resmi, 2023 | US$180 | Rp3.190.500 |
| Puncak harga resale, tak lama setelah rilis | US$500 sampai US$600 | Rp8.862.500 sampai Rp10.635.000 |
| Harga resale sekarang, versi NPR/Business of Fashion (Jan 2026) | US$275 sampai US$300 | sekitar Rp4.874.375 sampai Rp5.317.500 |
Selisih antara harga puncak dan harga sekarang itu bukan sepatunya rusak atau turun kualitas, tapi premium hype-nya yang hilang. Bagian ini yang enggak bakal kelihatan dari nota belanja tahun 2023.
Celah antara "satu angka viral" dan "data nyata yang bertanggal" ini juga muncul di barang koleksi lain. Pembahasan kami soal risiko likuiditas barang koleksi dan data resale tas branded dibanding emas punya perbandingan serupa untuk jam tangan, karya seni, dan tas mewah.