Tahun 2010, ekspor produk berbasis nikel Indonesia baru sekitar US$3,1 miliar. Tahun 2024, angkanya sekitar US$33,6 miliar, menurut data perdagangan yang dikutip Petromindo. Naiknya lebih dari sepuluh kali lipat dalam 14 tahun.
Nikel jadi salah satu alasan besar angka ekspor Indonesia terlihat seperti sekarang. Itu juga yang bikin harga saham beberapa emiten nikel bisa naik turun tajam saat harga nikel bergerak.
Di sini kita bahas pelan-pelan: harga nikel dari mana asalnya, kenapa Indonesia begitu penting, dan bagaimana perubahan harga sampai ke laba perusahaan.
Kenapa Indonesia Penting untuk Harga Nikel
Nikel adalah logam. Sebagian besar dipakai untuk membuat baja tahan karat (stainless steel). Porsi yang makin besar dipakai untuk baterai mobil listrik.
Indonesia sekarang penambang nikel terbesar dunia, dengan selisih jauh. Lembaga survei geologi AS (USGS) memperkirakan Indonesia memproduksi sekitar 62% nikel tambang dunia pada 2024. Sebagian perkiraan untuk 2025 menyebut porsinya lebih tinggi, sekitar dua pertiga.
Ini tidak biasa. Untuk kebanyakan logam, tidak ada satu negara yang punya kendali sebesar itu. Kalau satu negara memasok hampir dua pertiga, kebijakannya bisa menggerakkan harga global.
Dari Mana Harga Nikel Berasal
Patokan globalnya adalah harga di London Metal Exchange (LME), yaitu bursa tempat kontrak logam diperdagangkan. Penambang dan pembeli memakainya sebagai acuan.
Awal Oktober 2026, laporan SMM dan Trading Economics menyebut nikel LME di kisaran US$17.000 per ton (diakses 7 Oktober 2026). Anggap ini level kasar, bukan harga resmi. Cek LME untuk angka terbarunya.
Ada dua hal yang lebih penting daripada angka pastinya:
Pasokan besar. Stok di gudang LME masih tinggi, dan analis dalam laporan tersebut memperkirakan surplus pada 2026.
Permintaan lemah. Permintaan baja tahan karat sedang lesu, jadi harga tertahan.
Kalau pasokan besar dan permintaan lemah, harga sulit naik. Karena itu pemerintah Indonesia mencoba mengatur pasokan.
Kuota Bijih yang Menggerakkan Harga
Penambang di Indonesia tidak bisa menggali sebanyak yang mereka mau. Tiap tahun, Kementerian ESDM menyetujui RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) untuk setiap tambang. Di dalamnya ada batas berapa ton bijih yang boleh diproduksi.
Menurut laporan, total persetujuan RKAB 2025 sekitar 379 juta ton bijih nikel. Untuk 2026, kuotanya lebih rendah. Laporan menyebut kisaran 250 sampai 270 juta ton, dan angkanya berbeda antar media.
Kenapa pemerintah memangkas produksi sendiri? Untuk menopang harga. Bijih lebih sedikit berarti nikel lebih sedikit, dan itu bisa mendorong harga naik.
Pasar bereaksi. Pada Februari 2026, laporan menyebut Indonesia memangkas kuota Weda Bay, salah satu tambang nikel terbesar dunia, dan harga nikel naik.
Tapi ada catatan. Smelter di Indonesia butuh bijih. Laporan menyebut kebutuhan smelter lebih besar dari kuota, jadi mereka impor bijih, sebagian besar dari Filipina. Pemangkasan kuota hanya membantu harga kalau pasokannya benar-benar berkurang.
Bagaimana Perubahan Harga Sampai ke Laba Penambang
Ini ide intinya. Biaya penambang tidak banyak berubah saat harga nikel bergerak. Gaji, solar, dan listrik kira-kira sama. Tapi pendapatan per ton bisa berubah banyak.
Jadi perubahan harga yang kecil bisa bikin laba berubah besar.
Berikut contoh karangan. Angkanya bukan dari perusahaan nyata mana pun.
Harga nikel sekarang
Harga naik 10%
Harga turun 10%
Penjualan
100
110
90
Biaya (tetap)
80
80
80
Laba
20
30
10
Perubahan laba
tidak ada
+50%
-50%
Harga bergerak 10%, laba berubah 50%. Istilahnya operating leverage: biaya tetap memperbesar pengaruh harga ke laba.
Efeknya dua arah. Penambang berbiaya tinggi bisa kehilangan labanya saat harga turun. Laporan soal pemangkasan kuota 2026 juga mengingatkan bahwa produsen berbiaya tinggi kesulitan di harga sekarang.
Emiten yang Terpapar
Tiga kode saham BEI yang paling sering disebut di pemberitaan nikel: ANTM (Aneka Tambang), INCO (Vale Indonesia), dan NCKL (Trimegah Bangun Persada).
Ketiganya tidak sama. Perusahaan yang menambang bijih berbeda cara dapat uangnya dari perusahaan yang melebur (smelting), dan biayanya pun beda. Menyebut kode saham di sini bukan pendapat bahwa sahamnya murah atau mahal.
Dua hal yang perlu dicek untuk perusahaan nikel mana pun:
Apa yang dijual? Bijih, feronikel, matte, atau bahan baterai. Harganya beda-beda.
Berapa kuota yang dipegang? RKAB membatasi seberapa banyak yang boleh ditambang.
Data ekspor juga menunjukkan produknya berbeda nasib. Laporan menyebut ekspor feronikel Indonesia semester I 2026 bernilai sekitar US$7,7 miliar, turun 5,8% dari tahun sebelumnya. Ekspor nickel pig iron naik di periode yang sama.
Apa yang Perlu Kamu Pantau
Kamu tidak perlu menebak harga nikel. Yang perlu kamu tahu adalah apa yang menggerakkannya dan seberapa besar porsi portofoliomu yang bergantung padanya.
Pantau tiga hal:
Harga nikel LME dan stok di gudang.
Perubahan kuota RKAB, karena laporan menyebut kementerian sempat membahas kenaikan kuota.
Data ekspor dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Setelah itu, lihat seberapa besar porsi sektor komoditas di portofoliomu. Halaman Market menunjukkan pergerakan sektor dan indeks Indonesia hari ini, jadi kamu bisa lihat apakah saham tambang sedang memimpin atau tertinggal dari pasar.