Kekayaan Prajogo Pangestu Susut 64% dalam 6 Bulan dan Dia Kehilangan Dua Gelar
Baca 3 menitDiperbarui 22 Agustus 2026
Baca 3 menitDiperbarui 22 Agustus 2026
Kekayaan Prajogo Pangestu tercatat sekitar US$14,3 miliar per pertengahan 2026, turun dari sekitar US$39,5 miliar di akhir 2025. Susut sekitar US$29,6 miliar, atau 64,2%, hanya dalam enam bulan.
Dia tidak menjual bisnisnya. Pasar saham Indonesia menilai ulang kepemilikannya, dan karena hampir seluruh hartanya ada di saham perusahaan yang dia kendalikan, estimasinya ikut jatuh.
Dia mulai dari bisnis kayu di era 1970-an, lalu masuk ke minyak, gas, dan petrokimia. Sekarang hartanya menumpuk di saham-saham Grup Barito yang tercatat di BEI, termasuk Chandra Asri, produsen petrokimia terbesar di Indonesia.
Konsentrasi itu inti ceritanya. Begitu saham-saham satu grup turun bersamaan, tidak ada aset lain di portofolionya yang bisa menahan.
Saham-sahamnya tidak turun pelan-pelan. Semuanya rontok bareng sepanjang 2026.
| Saham | Pergerakan year to date 2026 |
|---|---|
| TPIA | Sekitar minus 79% |
| CUAN | Sekitar minus 73% |
| BREN | Sekitar minus 65% |
| PTRO | Sekitar minus 58% |
| CDIA | Sekitar minus 47% |
| BRPT | Sekitar minus 41% |
Penurunannya makin dalam setelah MSCI menunda rebalancing saham-saham Indonesia, dengan alasan kekhawatiran soal manipulasi perdagangan dan konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi di grup tertentu. Di satu sesi perdagangan yang sangat buruk, Jakarta Globe melaporkan hartanya berkurang US$2,7 miliar dalam sehari saat para taipan Indonesia terkena aksi jual besar-besaran.
Penurunan ini juga membuatnya kehilangan dua gelar. Posisi orang terkaya Asia Tenggara pindah ke taipan Vietnam Pham Nhat Vuong, dan indeks Bloomberg menunjukkan Sukanto Tanoto menyalipnya sebagai orang terkaya Indonesia.
Lebih pasti dibanding kebanyakan orang di posisi serupa, tapi tetap bukan angka final.
Kepemilikan utamanya tercatat di Bursa Efek Indonesia, jadi ada harga real-time dan persentase kepemilikan yang wajib diungkap. Itu kasus terbaiknya. Masalahnya, saham pengendali tidak mungkin dijual di harga layar, karena melepas posisi sebesar itu akan menekan harga jauh sebelum posisinya habis. Apakah sebuah lembaga memberi diskon untuk itu, dan seberapa besar diskonnya, bisa menggeser jawabannya miliaran dolar.
Ini juga alasan kenapa sepanjang 2026 daftar orang terkaya tidak sepakat soal siapa sebenarnya orang terkaya Indonesia, dengan Forbes, Bloomberg, dan media Indonesia sampai pada kesimpulan berbeda di bulan yang berbeda.
Pelajarannya bukan soal petrokimia Indonesia. Pelajarannya, portofolio yang isinya perusahaan dari satu grup, satu sektor, dan satu bursa tidak punya peredam kejut di dalamnya.
Elon Musk kehilangan sekitar US$600 miliar dalam enam minggu lewat mekanisme yang persis sama, di benua berbeda dan industri berbeda. Skalanya beda. Strukturnya sama.
Investor Indonesia justru cukup rentan pada hal ini, karena portofolio berisi saham blue chip IDX bisa saja terkorelasi ke siklus komoditas yang sama dan keputusan aliran dana asing yang sama, tanpa terlihat terkonsentrasi di atas kertas. NetWort mengukur konsentrasi dan drawdown dari kepemilikan kamu yang sebenarnya, dan halaman market menunjukkan kondisi volatilitas yang jadi latarnya.