Kamu mungkin pernah dengar klaim ini: setor Rp1.000.000 ke bank, dan sistem perbankan bisa mengubahnya jadi sekitar Rp10.000.000 lewat rantai pinjam-meminjam antar bank. Kedengarannya mengkhawatirkan, seolah uangmu digandakan diam-diam. Tapi ini sebenarnya model buku teks yang disederhanakan, dan peneliti bank sentral, termasuk Bank of England, sudah menyatakan terbuka bahwa model ini bukan gambaran akurat dari cara bank sungguhan menciptakan uang.
Ini bukan berarti tidak ada hal menarik yang terjadi saat kamu menyetor uang. Artinya, mekanisme sebenarnya berbeda, dan justru lebih berguna buat kamu pahami dibanding cerita "multiplier" itu.
Versi buku teks, dan kenapa gambarannya tidak lengkap
Model "money multiplier" yang paling sering beredar bilang begini: bank wajib menahan sebagian dari setiap simpanan sebagai cadangan (di Indonesia disebut Giro Wajib Minimum atau GWM, ditetapkan Bank Indonesia), meminjamkan sisanya, dan ketika pinjaman itu disetor ke bank lain, prosesnya berulang lagi.
Uang baru tercipta ≈ Simpanan awal ÷ Rasio cadangan wajib
Model buku teks: berapa uang baru yang diklaim tercipta dari satu simpanan.
Model ini memang diajarkan di kelas ekonomi dan bukan sesuatu yang dikarang. Masalahnya ada di urutan sebab-akibatnya. Model ini menganggap bank menunggu simpanan dan cadangan dulu baru bisa meminjamkan. Dalam makalah tahun 2014 yang banyak dikutip, peneliti Bank of England secara terbuka menyatakan ini adalah kesalahpahaman umum: bank tidak sekadar menjadi perantara yang meminjamkan simpanan yang dititipkan nasabah, dan bank juga tidak "melipatgandakan" cadangan bank sentral untuk menciptakan pinjaman dan simpanan baru.
Apa yang sebenarnya terjadi saat bank memberi pinjaman
Ketika bank menyetujui pinjaman, bank mengkredit rekening peminjam sebesar nilai pinjaman itu. Kredit itu adalah simpanan, dan ia ada begitu pinjaman dicatat, bukan setelah melalui rantai panjang penyetor lain yang meneruskan uang. Dalam arti ini, bank umum menciptakan sebagian besar uang di ekonomi modern lewat aktivitas meminjamkan itu sendiri, dengan batasan nyata: kecukupan modal mereka sendiri, penilaian apakah pinjaman itu akan terbayar, dan aturan likuiditas seperti GWM yang wajib mereka penuhi setelahnya, bukan sebelumnya.
Ini penting karena mengubah pemahaman soal apa yang sebenarnya membatasi seberapa besar bank bisa meminjamkan. Bukan multiplier tetap yang naik setiap ada simpanan baru. Yang membatasi adalah kecukupan modal, selera risiko kredit bank, dan kebijakan moneter, terutama suku bunga acuan yang diatur bank sentral untuk secara sengaja memengaruhi seberapa besar keinginan bank meminjamkan.
Kalau begitu, GWM itu sebenarnya buat apa
Kalau GWM bukan mekanisme yang "melipatgandakan" simpanan, lalu fungsinya apa? GWM adalah alat kebijakan likuiditas dan moneter, bukan batas kecepatan penciptaan uang. Justru karena itu Bank Indonesia sering menyesuaikannya secara langsung. Berdasarkan Peraturan Anggota Dewan Gubernur No. 24/8/PADG/2022, GWM rupiah untuk bank umum konvensional naik dari 6,0% menjadi 7,5% efektif 1 Juli 2022, lalu menjadi 9,0% efektif 1 September 2022, dengan kenaikan paralel untuk bank syariah dari 4,5% menjadi 7,5% pada periode yang sama.
Jenis bank
GWM sebelumnya
GWM per 1 Jul 2022
GWM per 1 Sep 2022
Bank umum konvensional
6,0%
7,5%
9,0%
Bank syariah / unit syariah
4,5%
6,0%
7,5%
Bank Indonesia terus menyesuaikan GWM sebagai bagian dari kebijakan likuiditas yang lebih luas, yang terbaru lewat Peraturan Bank Indonesia No. 6/2025 tentang pengelolaan likuiditas. Angka persisnya berubah-ubah. Tapi fungsinya tetap sama: mengelola likuiditas sistem secara keseluruhan, bukan membatasi berapa persen dari simpananmu sendiri yang dipinjamkan lagi.
Apakah simpananmu benar-benar berisiko dalam semua ini?
Tidak, dan bagian ini sudah jelas diatur. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menjamin simpanan hingga Rp2.000.000.000 per nasabah per bank, dengan syarat yang dikenal sebagai "3T" terpenuhi: simpanan Tercatat dalam pembukuan bank, nasabah tidak menerima bunga simpanan melebihi tingkat yang ditetapkan LPS (Tingkat bunga), dan nasabah tidak melakukan Tindakan yang merugikan bank. Uang yang dipinjamkan lewat aktivitas normal bank justru adalah aktivitas yang memang dijamin LPS.
Kenapa ini layak kamu pahami buat keuanganmu sendiri
Ini poin yang sebenarnya berguna, terlepas dari apakah angka multiplier-nya 9x atau angka lain: bank melacak angka mereka sendiri, modal, cadangan, portofolio kredit, dengan presisi, setiap hari. Kebanyakan orang tidak melacak angka setara untuk diri mereka sendiri.
Angka itu adalah net worth-mu: semua yang kamu miliki dikurangi semua yang kamu utang. Bank Indonesia menyesuaikan GWM dan suku bunga acuannya secara sengaja, berdasarkan data nyata, untuk mengelola sistem keuangan. Kamu bisa menerapkan kedisiplinan yang sama ke keuanganmu sendiri dengan tahu persis posisimu, bukan cuma saldo rekening. NetWort melacak BI rate terkini berdampingan dengan delapan indikator makro lainnya, jadi kamu bisa lihat konteks kebijakan yang melingkupi tabungan dan utangmu sendiri, bukan hanya mengandalkan penjelasan orang lain soal cara kerja sistemnya.