PER 8 Kali dan PER 46 Kali Bisa Sama-Sama Wajar. Sektor di IDX Nggak Pakai Satu Standar
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Coba lihat dua saham di IDX. Satu punya PER (price to earnings ratio, harga saham dibagi laba per lembar yang perusahaan itu hasilkan dalam setahun terakhir) sekitar 8 kali. Satu lagi sekitar 46 kali. Insting pertamamu pasti bilang yang 8 kali itu murah, yang 46 kali itu mahal. Sampai akhir Agustus 2026, dua-duanya sama-sama dianggap wajar oleh analis yang mengamatinya.
Ini bukan hal aneh. Justru begitu cara PER bekerja, begitu kamu berhenti membacanya sebagai satu angka "murah atau mahal."
PER 8 kali artinya investor bayar sekitar Rp8 buat setiap Rp1 laba yang perusahaan itu catat tahun lalu. PER 46 kali artinya mereka bayar sekitar Rp46 buat Rp1 laba yang sama. Angka itu sendiri belum bilang apa-apa soal apakah sahamnya bagus dibeli atau nggak.
Yang PER beneran tunjukkan adalah seberapa besar pasar percaya Rp1 laba itu bakal naik, atau malah turun, ke depannya. Perusahaan yang labanya diperkirakan turun tahun depan dapat PER rendah, karena pasar nggak mau bayar mahal buat laba yang belum tentu berulang. Perusahaan yang labanya tumbuh cepat dapat PER tinggi, karena Rp1 laba hari ini diperkirakan jadi Rp1,40 atau lebih dalam satu-dua tahun.
PT Bukit Asam (PTBA), perusahaan tambang batu bara BUMN, diperdagangkan di PER sekitar 8,3 kali berdasarkan riset valuasi Rikopedia Research bulan Juli 2026. Ini perusahaan yang labanya beneran ada dan nyata, cuma dihargai pasar dengan kelipatan rendah.
PER rendah ini nyerminin gimana laba batu bara bekerja. Sebagian besar batu bara PTBA dijual di pasar domestik lewat skema Domestic Market Obligation dengan harga yang diatur pemerintah, jadi potensi untungnya kepotong walau harga batu bara dunia lagi naik, sementara harga ekspor masih bisa bikin labanya naik-turun tajam dari tahun ke tahun. Ini bukan berarti pasar bilang PTBA perusahaan jelek. Pasar cuma bilang laba tahun ini belum tentu jadi patokan buat laba tahun depan, jadi mereka nggak mau bayar premium buat itu.
Indofood CBP (ICBP), bisnis yang sama sekali beda, produsen mi instan dan makanan kemasan, ternyata mendarat di angka yang hampir sama: PER 2026F sekitar 8,2 kali per 18 Agustus 2026, menurut Rikopedia Research, dekat dua standar deviasi di bawah rata-rata historisnya sendiri yang sekitar 12,6 kali. Biaya pengiriman dan rupiah yang melemah bikin marginnya tertekan sepanjang semester satu 2026, padahal pendapatannya tetap tumbuh. Tambang batu bara dan produsen mi instan berakhir di PER yang hampir sama ini jadi petunjuk pertama: yang beneran nentuin bukan "sektor"-nya. Yang nentuin adalah seberapa yakin pasar sama laba jangka pendeknya.
Bank Jago (ARTO), bank digital yang sepenuhnya jalan lewat aplikasi, diperdagangkan di PER forward sekitar 46,5 kali berdasarkan hasil kuartal I 2026 yang dilaporkan Bareksa pada 24 April 2026. Laba bersih kuartal itu Rp86 miliar, naik 42% dibanding tahun sebelumnya, kuartal ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan laba di atas 40%.
PER 46 kali kedengarannya gila kalau dibandingkan langsung sama PTBA yang 8 kali, sampai kamu bagi angka itu dengan laju pertumbuhannya. Hasilnya, PEG ratio (PER dibagi persentase pertumbuhan laba tahunan) sekitar 0,92, mendekati 1, masih dari laporan Bareksa yang sama. PEG mendekati 1 itu sinyal kasar kalau harga yang dibayar kira-kira sepadan sama pertumbuhan yang dikasih, bukan tanda sahamnya dihargai berdasarkan angan-angan. PER tinggi ARTO bukan berarti pasar lupa hitung valuasi. Itu pasar lagi bayar di muka buat jalur pertumbuhan yang memang nggak ada di PTBA atau ICBP sekarang.
Bank Central Asia (BBCA) duduk di antara dua ekstrem itu. PER-nya 13,62 per 26 Agustus 2026, berdasarkan analisis Kepoin Saham soal kinerja kuartal II 2026. Rata-rata industri perbankan Indonesia sendiri ada di PER 10,8 kali per 7 April 2026, di bawah rata-rata tiga tahunnya sebesar 14,1 kali, menurut data Simply Wall St untuk sektor finansial Indonesia.
BBCA dihargai di atas rata-rata sektornya karena pasar bayar premium buat konsistensi dan dominasinya di bisnis perbankan ritel, bukan karena labanya tumbuh secepat ARTO. BBCA itu bank matang yang tumbuh stabil, dan dihargai sesuai itu.
| Saham | Bisnisnya Apa | PER | Kenapa Pasar Hargai Segitu |
|---|---|---|---|
| PTBA | Tambang batu bara BUMN | ~8,3x | Harga domestik dibatasi, harga ekspor naik-turun tiap tahun |
| ICBP | Makanan kemasan | ~8,2x | Margin tertekan biaya kirim dan rupiah sepanjang 2026 |
| BBCA | Bank ritel | ~13,6x | Matang, stabil, dihargai premium di atas rata-rata sektor |
| ARTO | Bank digital | ~46,5x | Tiga kuartal berturut-turut laba tumbuh di atas 40% |
Sebagai pembanding, pasar saham Indonesia secara keseluruhan diperdagangkan di kisaran PER 16,5 kali, dibanding rata-rata tiga tahunnya sekitar 20,6 kali, menurut data valuasi pasar dari Simply Wall St yang diakses 31 Agustus 2026. Keempat saham di atas ada yang jauh di bawah dan ada yang jauh di atas titik tengah itu, dan alasannya beda-beda buat tiap perusahaan.
Kesalahan yang sering terjadi adalah naruh PER PTBA yang 8 kali langsung sebelahan sama PER ARTO yang 46 kali, terus nyimpulin ARTO "kemahalan." Perbandingan yang beneran berguna itu naruh PTBA sebelahan sama emiten tambang batu bara lain yang sama-sama kena DMO dan paparan harga ekspor, dan naruh ARTO sebelahan sama bank digital lain yang tumbuh dengan kecepatan serupa. Bandingin lintas kategori kayak PTBA vs ARTO nggak ngasih info yang berarti, karena dua perusahaan itu lagi dinilai berdasarkan pertanyaan yang beda. Yang satu dinilai dari seberapa stabil laba tahun ini. Yang satu lagi dinilai dari seberapa cepat laba tahun depan datang.
Sebelum kamu nyimpulin PER sebuah saham "kemahalan" atau "kemurahan," cek dulu saham-saham sejenis di kategori yang sama lagi dihargai berapa, bukan rata-rata pasar atau saham lain yang kebetulan punya angka PER mirip. Halaman Explore NetWort bisa kamu pakai buat nyaring saham-saham IDX berdampingan berdasarkan valuasi dan metrik lainnya, biar perbandingannya kamu lakukan ke kelompok sejenis yang tepat, bukan asal banding.