Saham Syariah di BEI Ternyata Turun Lebih Dalam dari IHSG di 2026
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau kamu pilih saham syariah karena menyaring bank konvensional, alkohol, judi, dan utang berbunga tinggi, wajar kalau kamu berharap portofolionya setidaknya sama tahan bantingnya dengan pasar biasa, atau malah lebih baik, di tahun yang berat. Di 2026, dua indeks saham syariah utama Indonesia justru sebaliknya. Sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) turun 30,30% dan JII (Jakarta Islamic Index) turun 36,04%, keduanya lebih dalam dari penurunan IHSG sendiri yang "cuma" 27,88% di periode yang sama (HISSA, "ISSI & JII Terkoreksi Dalam di 2026"; Republika; CNBC Indonesia, 4 Agustus 2026).
Ini bukan selisih kecil yang bisa diabaikan. Angkanya nyata dan bersumber, dan penyebabnya ada di apa yang termasuk dan tidak termasuk dalam saringan syariah, bukan karena perusahaan syariah bisnisnya lebih jelek.
Kedua indeks ini pakai aturan yang sama dari OJK dan DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional) untuk menentukan saham mana yang lolos. Satu perusahaan harus lolos dua uji terpisah:
ISSI adalah daftar yang luas, saat ini sekitar 530 saham yang lolos kedua uji itu, hampir separuh dari seluruh emiten yang tercatat di BEI (pengumuman konstituen ISSI resmi dari BEI, Juli 2026). JII adalah potongan yang lebih sempit dari daftar yang sama: 30 saham syariah paling likuid dan terbesar, dievaluasi ulang setiap semester oleh bursa.
Ini perbandingan periode tujuh bulan yang sama di semua indeks utama BEI, semuanya diukur sampai akhir Juli 2026 dan dilaporkan di minggu yang sama pada awal Agustus 2026:
| Indeks | Perubahan YTD (sampai akhir Juli 2026) |
|---|---|
| JII (Jakarta Islamic Index) | −36,04% |
| KOMPAS100 | −31,58% |
| ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia) | −30,30% |
| IDX80 | −29,62% |
| IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) | −27,88% |
| LQ45 | −26,62% |
Sumber: HISSA, "ISSI & JII Terkoreksi Dalam di 2026", dikuatkan oleh Republika dan CNBC Indonesia, semua diakses 2026-08-13. Penurunan IHSG 27,88% YTD sampai 31 Juli 2026 (penutupan di 6.236,13) juga dikonfirmasi terpisah oleh Investortrust.id.
Polanya konsisten: setiap indeks yang condong ke saham syariah di daftar ini (JII, ISSI, bahkan KOMPAS100 yang condong ke saham besar meski bukan indeks syariah) berada di bawah IHSG biasa untuk periode yang sama, dan JII, yang paling terkonsentrasi ke saham syariah, turun paling dalam dari keenam indeks itu.
IHSG sendiri sudah sedikit pulih sejak itu. Penutupannya di 6.373,85 pada 12 Agustus 2026, naik 1,69% hari itu (Kompas.com), tapi belum ada angka ISSI atau JII yang sama barunya ditemukan, jadi artikel ini membandingkan keenam indeks di titik akhir Juli yang sama, bukan mencampur tanggal yang berbeda-beda.
Sektor keuangan, sebagian besar bank-bank besar konvensional, menguasai sekitar 23,12% dari seluruh kapitalisasi pasar IHSG per akhir April 2026 (Cetro Trading Insight, angka yang sama dipakai di analisis konsentrasi IHSG milik NetWort). Bank konvensional seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjalankan bisnisnya dari pendapatan bunga, jadi otomatis gagal di uji rasio keuangan syariah. ISSI maupun JII sama sekali tidak menanggung bobot seperempat pasar itu.
Sementara itu, tiga sektor yang paling terpuruk di IHSG sepanjang periode yang sama di 2026 adalah energi (turun 38,68% year to date), properti dan real estat (turun 37,46%), dan infrastruktur (turun 36,05%), per 11 Juli 2026 (SWA.co.id). Perusahaan tambang, industri, dan infrastruktur biasanya lolos uji bisnis inti syariah, karena kegiatan utamanya sendiri tidak dilarang, jadi mereka tetap menanggung bobot besar di dalam ISSI dan JII, meski harga sahamnya jatuh lebih dalam dari hampir semua sektor lain di bursa.
Ini bukan bukti kalau perusahaan syariah investasinya lebih jelek, atau kalau investasi syariah "tidak berhasil." Saringan yang dibangun dari perilaku bisnis dan kedisiplinan neraca keuangan memang tidak pernah dirancang untuk menebak sektor mana yang bakal bagus tahun ini. Kebetulan campuran sektor di 2026, tahun yang berat buat energi, properti, dan infrastruktur, tapi relatif lebih baik buat perbankan, kebetulan berlawanan arah dengan komposisi indeks syariah. Di tahun lain, kalau bank yang lagi tertekan dan komoditas yang lagi kuat, hasilnya bisa saja terbalik.
Ini pengingat kalau "syariah-compliant" dan "index cap-weighted" itu dua hal berbeda dari sebuah portofolio: satu soal nilai dan kepatuhan, satu lagi soal sektor mana yang akhirnya kamu tanggung sebagai efek samping dari saringan itu. Yang satu tidak menjamin yang lain performanya lebih bagus.
Kalau sebagian portofoliomu mengikuti ISSI, JII, atau indeks saham Indonesia lainnya, komposisi sektor indeks itu, bukan namanya, yang menentukan hasil tahun ini. Buka Explore di NetWort untuk menyaring saham satu per satu berdasarkan pasar, sektor, dan profil risiko, bukan cuma berasumsi dari label indeksnya saja soal apa yang sebenarnya kamu tanggung. Kamu juga bisa lihat bagaimana konsentrasi bank di IHSG dibahas lebih lengkap di analisis risiko konsentrasi indeks kami.