Bitcoin Bukan Cuma Lebih Volatil dari IHSG. Ini Kelipatan Aslinya
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Awal 2026, Bitcoin anjlok sekitar 38% cuma dalam tiga minggu. IHSG, indeks saham utama Indonesia, butuh waktu sekitar enam bulan buat turun kira-kira sebesar itu juga. Dua-duanya kejadian nyata, ada tanggalnya, dan sumbernya ada di bawah. Selisih waktu itu jadi jawaban yang lebih jujur soal "seberapa jauh lebih volatil Bitcoin" dibanding klaim umum yang cuma bilang "kripto lebih berisiko" tanpa kasih angka.
Hampir semua artikel soal kripto bilang volatilitas Bitcoin lebih tinggi dari saham, tapi jarang yang kasih tahu kamu berapa kali lipat persisnya. Salah satu alasannya, ada angka volatilitas yang rutin dipantau buat Bitcoin, tapi nggak ada yang setara buat IHSG. Yang ada di dua-duanya adalah satu momen jatuh yang nyata di tahun yang sama, dan bedanya kecepatan itulah kelipatan aslinya.
Volatilitas itu ukuran seberapa liar harga sebuah aset naik-turun, bukan ke arah mana harganya bergerak. Saham yang naik 2% sehari lalu turun 2% keesokan harinya itu lebih volatil dibanding saham yang cuma merangkak naik 0,1% per hari, meskipun keduanya sama-sama berakhir di harga yang sama di akhir tahun. Analis biasanya nyebutnya dalam persen "tahunan" (annualized): kira-kira seberapa besar naik-turun harga kalau kecepatan pergerakan belakangan ini terus berlanjut selama setahun penuh. Kalau volatilitas Bitcoin ada di angka 35%, artinya harganya, secara matematis, cenderung naik-turun sekitar segitu dalam setahun berdasarkan pergerakan hariannya belakangan ini.
Bitcoin punya angka volatilitas yang beneran dipantau, dan angkanya bisa berubah jauh cuma dalam setahun. Indeks DVOL dari Deribit, yang mencerminkan ekspektasi trader opsi soal volatilitas Bitcoin 30 hari ke depan, ada di sekitar 35 pada awal Agustus 2026, turun dari puncaknya di angka 90 di tahun yang sama, menurut laporan CoinDesk yang mengutip riset pasar dari Kaiko (7 Agustus 2026). Ini angka ekspektasi ke depan, bukan pengukuran apa yang sudah beneran terjadi, tapi pergerakan dari 90 ke 35 dalam hitungan bulan itu nunjukkin seberapa jauh level risiko Bitcoin sendiri bisa berubah.
Kalau lihat volatilitas realisasi, yaitu apa yang beneran sudah kejadian, bukan ekspektasi, divisi iShares milik BlackRock menyebut volatilitas tahunan Bitcoin sekarang ada di kisaran 35% sampai 40%, jauh turun dari puncaknya yang pernah di atas 150% di tahun-tahun awal Bitcoin. Bahkan di batas bawah kisaran itu pun, itu tetap angka yang besar buat ditanggung dalam portofolio.
IHSG nggak punya yang setara dengan DVOL punya Bitcoin, dan nggak ada versi Indonesia dari "indeks ketakutan" VIX punya Wall Street juga. Kalau kamu cari, yang muncul cuma penjelasan soal VIX Amerika, bukan angka resmi buat IHSG. Daripada maksain bandingin dua angka yang beda cara hitungnya, berikut apa yang beneran terjadi di masing-masing indeks selama periode terburuknya di 2026, lengkap tanggal dan sumbernya.
Bitcoin sempat tembus $97.860 pertengahan Januari 2026, lalu jatuh di bawah $61.000 pada 5 Februari, turun sekitar 38% cuma dalam tiga minggu, dipicu pelepasan posisi leverage secara besar-besaran di pasar (CNBC, 5 Februari 2026). Bitcoin sempat jatuh ke level serendah itu lagi di bulan Juni, dan diperdagangkan di sekitar $63.260 pada 17 Agustus 2026, hampir separuh di bawah rekor tertingginya di Oktober 2025 yaitu $126.198.
IHSG menutup 2025 di level 8.646,94 pada 30 Desember, lalu menutup semester pertama 2026 di level 5.643,19 pada 30 Juni, turun sekitar 34,7%, ukuran penurunan yang mirip sama Bitcoin, tapi tersebar dalam kira-kira enam bulan, bukan tiga minggu (Kompas, 30 Juni 2026; Databoks). Per pertengahan Agustus 2026, IHSG sudah pulih ke sekitar level 6.300.
| Puncak | Titik Terendah | Penurunan | Waktu | |
|---|---|---|---|---|
| Bitcoin | $97.860 (pertengahan Jan 2026) | ~$61.000 (5 Feb 2026) | ~38% | ~3 minggu |
| IHSG | 8.646,94 (30 Des 2025) | 5.643,19 (30 Jun 2026) | ~34,7% | ~6 bulan |
Kedua indeks sama-sama kehilangan porsi nilai yang mirip di 2026. Bitcoin ngelakuinnya dalam waktu sekitar seperdelapannya, kira-kira delapan kali lebih cepat. Kecepatan itu, bukan cuma besarnya penurunan, yang beneran kerasa buat investor: IHSG kasih waktu berbulan-bulan buat sadar tren dan bereaksi, Bitcoin cuma kasih waktu sekitar tiga minggu.
Aset yang bergerak lebih cepat butuh porsi alokasi yang lebih kecil biar risiko riilnya tetap setara, soalnya waktu buat bereaksi begitu harganya berbalik arah jauh lebih sempit. Posisi Bitcoin juga perlu lebih sering kamu cek dibanding posisi saham, bukan karena Bitcoin aset yang lebih jelek, tapi karena kerugian dengan besaran yang sama bisa kejadian dalam waktu yang jauh lebih singkat. Matematika buat balik modalnya juga nggak simetris: penurunan 38% kayak yang dialami Bitcoin awal 2026 itu nggak butuh kenaikan 38% buat balik modal, tapi butuh sekitar 61%, ketidaksimetrisan yang sama kayak yang dibahas di matematika di balik balik modal setelah rugi.
Sebelum nentuin porsi alokasi Bitcoin, cek dulu riwayat harganya sendiri di halaman Detail Aset NetWort, di situ kamu bisa lihat langsung naik-turunnya, bukan cuma angka rata-rata yang udah diringkas.