Rugi 50% Butuh Untung 100% Buat Balik Modal. Ini Matematika yang Sering Dilupakan
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Misalnya portofolio kamu rugi 30% dalam sebulan yang buruk. Rugi 30%, jadi kalau untung 30% lagi ya balik modal, kan? Ternyata tidak. Kamu butuh untung 43% cuma buat balik ke titik awal, bukan 30%. Makin besar kerugiannya, makin lebar juga jaraknya, dan begitu rugi sudah sampai 50%, kamu butuh untung 100% penuh, alias modal harus dobel dulu, cuma buat balik modal.
Alasannya sederhana kalau sudah kelihatan: kerugian mengecilkan uang yang harus "kerja" buat memulihkan diri. Kalau Rp10.000.000 rugi 30%, sisanya jadi Rp7.000.000. Buat balik ke Rp10.000.000, uang yang sudah mengecil itu harus tumbuh Rp3.000.000, dan Rp3.000.000 itu 42,9% dari Rp7.000.000, bukan 30%.
Untung yang dibutuhkan buat balik modal = Kerugian ÷ (1 − Kerugian)
Ini rumus itu dihitung buat beberapa ukuran kerugian yang beneran mungkin terjadi.
| Rugi | Untung yang dibutuhkan buat balik modal |
|---|---|
| 10% | 11,1% |
| 20% | 25,0% |
| 25% | 33,3% |
| 30% | 42,9% |
| 40% | 66,7% |
| 50% | 100% |
| 70% | 233,3% |
| 90% | 900% |
Perhatikan, jaraknya kecil banget di kerugian yang kecil, terus meledak begitu kerugian makin besar. Rugi 10% cuma butuh untung 11,1%, hampir bisa diabaikan. Tapi rugi 70% butuh untung 233,3%, hampir mustahil dicapai dalam jangka waktu investasi yang wajar. Ini kenapa menghindari kerugian besar itu lebih penting buat portofolio kamu daripada mengejar untung besar: matematika buat balik modal itu tidak naik sebanding, tapi melipatgandakan diri, seiring kerugiannya makin besar.
Saham GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) mengawali 2026 di harga sekitar Rp69 per lembar. Awal Mei 2026, setelah pemerintah menetapkan batas atas komisi ojol 8%, sahamnya jatuh ke Rp50, harga minimum perdagangan di bursa (dikenal sebagai "gocap"), turun 27,54%, dan masih bertahan di harga Rp50 itu sampai awal Agustus 2026, fenomena yang oleh investor ritel disebut "kutukan gocap," menurut Klik Anggaran dan Kompas.id. Rugi 27,5% itu sebenarnya belum termasuk ekstrem di pasar saham, tapi buat balik modal dari Rp50 tetap butuh untung 38%, kembali ke Rp69 yang sama, dan sahamnya belum berhasil sampai ke sana dalam lebih dari tiga bulan terakhir.
IHSG, indeks acuan bursa saham Indonesia, menutup 2025 di level 8.646,94 (30 Desember 2025, Tempo/Infobanknews), lalu jatuh ke titik terendah 2026 di 5.342 pada 8 Juni 2026, di tengah krisis rupiah dan kenaikan suku bunga Bank Indonesia, turun 38,2%. Buat kembali penuh ke 8.646,94 dari titik terendah itu, IHSG butuh untung 61,9%, bukan 38,2%. Per 11 Agustus 2026, indeks sudah naik lagi ke sekitar 6.383 (CNBC Indonesia), yang kedengarannya kemajuan besar, dan memang benar, tapi itu baru sekitar 19,5% dari jalan menuju titik terendah tadi. Buat sampai ke level tertinggi lama, masih butuh sekitar 35% kenaikan lagi dari posisi sekarang, yang di kecepatan pertumbuhan pasar yang wajar bisa makan waktu bertahun-tahun, padahal penurunannya sendiri cuma butuh waktu sekitar lima bulan.
Dua contoh di atas mengarah ke kesimpulan yang sama: kerugian dan untung yang dibutuhkan buat memulihkannya itu tidak pernah sama besar, dan makin besar kerugiannya, makin lebar jaraknya. Ini alasan sebenarnya kenapa menyebar risiko ke beberapa aset itu penting, bukan menumpuk semuanya di satu saham, dan kenapa kamu perlu tahu seberapa dalam penurunan terburuk portofolio kamu, bukan cuma return terbaiknya. Portofolio yang berhasil menghindari rugi 50% dan paling parah cuma rugi 20%, cukup butuh untung 25% buat balik modal, bukan 100%. Selisih itu yang menentukan berapa lama kamu "tenggelam" sebelum akhirnya balik modal lagi.
Kamu bisa lihat penurunan terdalam portofoliomu sendiri, bukan cuma saldo yang sekarang, lewat Portfolio Health di dashboard NetWort kamu. Satu posisi yang sudah turun 40% atau 50% butuh untung jauh lebih besar dari angka persentase penurunannya buat balik modal, dan begitu kamu tahu angka itu, kamu bisa mikir ulang apakah "tahan saja sampai balik modal" itu rencana yang masuk akal atau bukan. Halaman Market NetWort memantau sentimen IHSG dan IDX berdampingan dengan pergerakan indeks seperti contoh di atas, konteks yang berguna sebelum kamu menilai apakah penurunan satu saham itu wajar buat kondisi pasar atau memang cuma terjadi di saham itu sendiri.
Ketimpangan yang sama ini juga bagian dari kenapa rata-rata return tahunan investasi dan hasil compounding aslinya bisa cerita dua hal yang beda, dibahas di kenapa rata-rata return portofolio bisa menyesatkan: dua-duanya mengarah ke fakta yang sama, bahwa kerugian dan volatilitas itu biayanya lebih mahal dari yang kelihatan di rata-rata sederhana.