Tanggal 22 sampai 23 September 2026, Bank Indonesia menahan BI Rate di angka 5,75%. Ini rapat kebijakan pertama yang dipimpin Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur, setelah gubernur sebelumnya mundur mendadak. Berita itu yang ramai dibahas. Tapi di belakang layar, Bank Indonesia sudah hampir empat tahun mengerjakan sesuatu yang lain sama sekali: versi digital dari rupiah itu sendiri, lewat proyek bernama Proyek Garuda. Ini bukan kripto, belum ada tanggal rilis buat kamu sebagai masyarakat umum, dan sejauh ini belum ada dampaknya ke uangmu sama sekali. Ini penjelasan aslinya.
Proyek Garuda itu sebenarnya apa
Proyek Garuda adalah nama yang dipakai Bank Indonesia buat eksplorasi CBDC (central bank digital currency), yaitu bentuk digital dari mata uang resmi suatu negara yang diterbitkan langsung oleh bank sentralnya, bukan oleh bank komersial atau perusahaan swasta. Bank Indonesia meluncurkan proyek ini pada 30 November 2022 lewat penerbitan white paper berjudul "Proyek Garuda: Menavigasi Arsitektur Rupiah Digital," yang menjelaskan desain besar dan peta jalan tiga tahap buat apa yang mereka sebut Rupiah Digital.
Tiga tahap rencananya, dan posisi Indonesia sekarang
White paper 2022 itu membagi proyek ini jadi tiga tahap:
Tahap
Isinya apa
Immediate state
Rupiah Digital wholesale, cuma buat penerbitan, penarikan, dan transfer antarbank
Intermediate state
Rupiah Digital wholesale diperluas ke operasi moneter dan pasar uang
End state
Rupiah Digital wholesale digabung penuh sama versi ritel buat masyarakat umum
Sampai tulisan ini dibuat, Bank Indonesia baru menyelesaikan pekerjaan di tahap pertama saja. Mereka sudah kelar uji konsep (proof of concept) buat cash ledger wholesale-nya, dan menerbitkan laporan "Project Garuda: Wholesale Rupiah Digital Cash Ledger" pada 13 Desember 2024. Artinya, seluruh proyek ini sampai sekarang baru menguji cara Rupiah Digital berpindah antarbank dan Bank Indonesia sendiri. Tahap ritel, versi yang beneran bisa kamu pegang dan pakai belanja, masih di tahap desain, belum diuji sama sekali.
Siapa yang beneran bisa pakai sekarang
Nggak ada, di luar sistem perbankan. Versi yang sudah diujicoba Bank Indonesia, namanya W-Rupiah Digital (Wholesale Rupiah Digital), cuma bisa diakses bank umum dan lembaga kliring yang ditunjuk langsung oleh Bank Indonesia. Tugasnya menyelesaikan transaksi antarbank, operasi moneter, dan transaksi pasar uang langsung di atas ledger milik Bank Indonesia sendiri, yang menurut bank sentral bakal bikin penyelesaian transaksi itu lebih cepat dan lebih murah dari sistem sekarang. Kamu sebagai nasabah atau investor biasa belum bisa buka rekening Rupiah Digital, karena produk itu memang belum ada.
Kabar baru: dikaitkan ke surat utang negara
Tanggal 30 Oktober 2025, di acara Indonesia Financial & Digital Economy Festival di Jakarta, Gubernur BI saat itu, Perry Warjiyo, memaparkan langkah lanjutan: rencana mengaitkan nilai Rupiah Digital dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang sudah ditokenisasi, yang memang sudah dipegang Bank Indonesia. Idenya, SBN dipakai sebagai jaminan (collateral) biar penyelesaian transaksi obligasi di bursa jadi lebih cepat dan transparan lewat otomatisasi berbasis blockchain, sementara Rupiah Digital sendiri tetap jadi klaim langsung ke bank sentral, bukan klaim ke pihak swasta mana pun. Ini detail desain buat tahap wholesale dan intermediate, bukan produk baru buat konsumen.
Kenapa ini bukan buat kamu "investasikan"
Rupiah Digital itu infrastruktur pembayaran dan penyelesaian transaksi, bukan kelas aset. Nilainya dirancang persis sama dengan rupiah yang ada di rekening bankmu, nggak lebih nggak kurang, sama kayak transfer digital lewat aplikasi bank yang sudah kamu pakai sekarang, nilainya nggak naik atau turun dibanding uang tunai fisik. Nggak ada harga Rupiah Digital yang bisa kamu pantau, nggak ada yang bisa di-stake, dan nggak ada alasan buat beli lebih dulu berharap harganya naik, karena tujuan desain CBDC memang stabil, bukan buat naik nilainya. Kalau ada proyek, aplikasi, atau orang yang nawarin kamu cara buat "investasi" atau "beli lebih awal" Rupiah Digital sebelum ada peluncuran resmi ke publik, klaim itu nggak cocok sama apa pun yang beneran sudah dibangun atau diumumkan Bank Indonesia.
Bank Indonesia bilang tahap uji coba bakal terus berjalan sampai 2026, dan belum ada tanggal resmi kapan, atau apakah, tahap intermediate dan end-state buat ritel bakal mulai.
Yang beneran perlu kamu pantau
Kalau kamu mau ikutin kebijakan moneter Bank Indonesia yang beneran berdampak sekarang, bukan proyek uji coba wholesale yang masih bertahun-tahun lagi sebelum nyentuh rekening ritel, halaman Macro Context NetWort ngasih kamu BI Rate terkini bareng inflasi, nilai tukar rupiah, dan yield obligasi Indonesia dalam satu tempat, jadi kamu bisa ikutin keputusan yang udah beneran ngaruh ke uangmu, bukan yang masih di atas kertas.