Bank Indonesia Bikin Instrumen Baru Khusus Biar Uang Asing Betah di Obligasi Rupiah. Ini Cara Kerja SRBI
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Rupiah sempat menyentuh level terlemahnya, sekitar Rp18.100 per dolar AS, pada 8 Juni 2026. Awal September ini, kurs sudah membaik ke sekitar Rp17.636, pemulihan sekitar 2,6%. Salah satu alasannya ada di sebuah surat berharga yang jarang dibeli investor ritel dan namanya pun asing di telinga kebanyakan orang: SRBI, singkatan dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Bank Indonesia merancang instrumen ini dari nol pada 2023, dengan satu tujuan: bikin uang asing punya alasan buat tetap parkir di rupiah, bukan kabur.
SRBI adalah surat berharga jangka pendek yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sendiri, bukan oleh pemerintah. Bedanya penting. Obligasi pemerintah Indonesia, namanya Surat Berharga Negara (SBN), diterbitkan Kementerian Keuangan buat menutup defisit anggaran negara. SRBI diterbitkan bank sentral sebagai alat kebijakan moneter, dengan jaminan berupa SBN yang sudah dimiliki Bank Indonesia sendiri sebagai underlying asset. Beli SRBI tidak mendanai pemerintah dan tidak menambah utang negara. Ini murni cara Bank Indonesia mengatur berapa banyak rupiah yang beredar di sistem keuangan.
Secara teknis, SRBI disebut instrumen kontraksi likuiditas. Waktu Bank Indonesia menjual SRBI, rupiah yang dibayar pembeli langsung ditarik keluar dari peredaran, lalu dikembalikan lagi berikut imbal hasilnya waktu SRBI itu jatuh tempo. Makin banyak SRBI yang dijual, makin banyak rupiah yang ditarik sekaligus, dan ini persis yang dibutuhkan bank sentral kalau khawatir rupiah yang beredar kebanyakan dibanding permintaan dolar.
Bank Indonesia meluncurkan SRBI pertama kali pada 15 September 2023, dengan lelang perdana yang berhasil menyerap Rp24,46 triliun. Tujuannya, seperti disampaikan saat peluncuran, ada tiga: memperdalam pasar uang Indonesia, mengoptimalkan aset SBN milik Bank Indonesia sendiri sebagai underlying, dan yang paling sering muncul di berita, menarik kembali modal portofolio asing ke aset rupiah demi menjaga stabilitas kurs.
Tujuan ketiga inilah yang paling sering kamu baca di media. Lelang obligasi pemerintah butuh perencanaan berminggu-minggu. Lelang SRBI digelar dua kali seminggu, jadi Bank Indonesia punya tuas yang bisa ditarik cepat dan berulang kapan pun tekanan ke rupiah mulai terasa, tanpa harus menunggu Kementerian Keuangan menerbitkan utang baru.
SRBI dilelang setiap Rabu dan Jumat, dengan tiga pilihan tenor: 6, 9, dan 12 bulan. Setelmennya langsung di hari yang sama (T+0), dan sistemnya diskonto: pembeli bayar di bawah nilai nominal di awal, lalu terima nilai penuh saat jatuh tempo. Selisihnya itulah yang jadi keuntungan, bukan dibayar lewat kupon berkala seperti obligasi biasa.
Ini bagian yang bikin banyak orang kaget: cuma bank yang bisa beli SRBI langsung di lelang perdana. Lebih spesifik lagi, cuma bank yang jadi peserta operasi pasar terbuka Bank Indonesia yang boleh ikut menawar. Manajer investasi asing atau dana pensiun luar negeri tidak bisa datang ke lelang hari Rabu dan langsung beli SRBI, beda dengan cara kerja lelang US Treasury bill misalnya.
Investor asing, dan siapa pun pembeli non-bank, masuk lewat pasar sekunder, tempat bank yang tadi beli SRBI di lelang bisa memindahtangankan atau menjual lagi ke pihak lain. Di sinilah letak mekanisme yang mengubah instrumen moneter domestik jadi jalur masuk modal portofolio asing: bank menyerap dulu SRBI-nya di lelang, lalu menjualnya lagi ke siapa pun yang mau imbal hasil dalam rupiah, entah asing atau domestik.
Di lelang 26 Juni 2026, yield rata-rata tertimbang yang diterima Bank Indonesia adalah:
| Tenor | Yield rata-rata tertimbang |
|---|---|
| 6 bulan | 7,36% |
| 9 bulan | 7,54% |
| 12 bulan | 7,70% |
Sebagai perbandingan, suku bunga acuan Bank Indonesia sendiri, BI 7-Day Reverse Repo Rate, sudah ditahan di 5,75% sejak Rapat Dewan Gubernur 18 sampai 19 Agustus 2026. Yield SRBI tenor 12 bulan sekitar 1,95 poin persentase lebih tinggi dari suku bunga acuan itu, dan selisih inilah yang jadi kompensasi tambahan buat menarik pembeli yang mau mengikat rupiahnya selama setahun penuh, bukan sekadar semalam.
Total SRBI yang beredar tumbuh cepat. Posisinya Rp831,21 triliun pada Maret 2026, lalu naik jadi Rp1.072,62 triliun pada akhir Juni 2026, kenaikan sekitar 29% dalam tiga bulan saja (dihitung sendiri dari dua angka di atas).
Kepemilikan asing tumbuh lebih cepat lagi secara persentase. Investor nonresiden memegang Rp114,05 triliun SRBI pada Desember 2025, sekitar 16,15% dari total yang beredar saat itu. Per 20 Juli 2026, kepemilikan asing sudah mencapai Rp288,65 triliun, atau 27,11% dari total yang jauh lebih besar, kenaikan sekitar 153% dalam eksposur rupiah asing ke satu instrumen ini saja, dalam waktu sekitar tujuh bulan (dihitung sendiri dari dua angka di atas). Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sendiri yang bilang kenaikan yield SRBI ini yang menarik masuknya investasi portofolio asing tersebut.
SRBI itu salah satu sinyal paling nyata soal seberapa keras Bank Indonesia berusaha menjaga rupiah tetap stabil. Total yang beredar naik dan yield ikut naik, umumnya berarti bank sentral lagi menekan tuas ini lebih keras buat mempertahankan kursnya. Instrumen ini berdiri terpisah dari penerbitan obligasi pemerintah: tulisan NetWort sebelumnya soal efek naiknya penerbitan SBN ke yield obligasi yang kamu terima membahas sisi utang pemerintahnya, sementara SRBI ini sisi bank sentralnya.
Halaman Macro Context NetWort memantau BI rate, kurs USD/IDR, dan yield obligasi Indonesia sekaligus, jadi kamu bisa lihat apakah daya tarik SRBI ini sedang berhasil atau justru rupiah lagi dapat tekanan baru lagi.