Pada 18 Agustus 2026, yield obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun menyentuh 5,33%, level tertinggi sejak sebelum krisis finansial 2007-2008. Yang bikin aneh, tahun 2026 ini justru dimulai dengan mayoritas analis memperkirakan bank sentral AS (The Fed) akan terus memangkas suku bunga. Kalau suku bunga diperkirakan turun, kenapa obligasi jangka paling panjang malah membayar bunga tertinggi dalam hampir dua dekade?
Jawabannya ada di satu komponen yield yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan keputusan rapat The Fed bulan depan. Namanya term premium. Begitu kamu bisa melihat komponen ini, banyak berita pasar obligasi yang tadinya membingungkan jadi masuk akal.
Term premium itu sebenarnya apa
Yield obligasi jangka panjang itu tersusun dari dua bagian, bukan satu:
Yield obligasi = Ekspektasi rata-rata suku bunga jangka pendek + Term premium
Yield obligasi 10 tahun bukan cuma taruhan soal suku bunga naik atau turun.
Bagian pertama, ekspektasi jalur suku bunga, adalah perkiraan pasar soal berapa rata-rata suku bunga jangka pendek selama umur obligasi tersebut. Kalau semua orang yakin bank sentral akan terus memangkas suku bunga selama sepuluh tahun ke depan, bagian ini turun.
Bagian kedua, term premium, adalah kompensasi tambahan yang diminta investor hanya karena risiko mengunci dana selama itu, terlepas dari ke mana arah suku bunga nantinya. Inflasi bisa saja lebih panas dari perkiraan. Pemerintah bisa saja perlu menerbitkan utang jauh lebih banyak dari rencana. Krisis bisa memaksa kamu menjual obligasi lebih cepat dengan harga jelek. Semua risiko ini tidak ada hubungannya dengan perdebatan naik-turun suku bunga bulan depan, tapi soal ketidakpastian dalam jangka waktu yang jauh lebih panjang, dan investor mau dibayar untuk menanggungnya.
Pembagian ini bukan tebakan kasar. Ekonom di Federal Reserve Bank of New York (Tobias Adrian, Richard Crump, dan Emanuel Moench) membangun model yang disebut model ACM, yang menghitung kedua komponen ini dari data pasar obligasi AS setiap hari perdagangan.
Matematikanya, dengan angka asli
Pada 30 April 2026, model ACM mencatat yield obligasi 10 tahun AS di 4,45%, terdiri dari komponen ekspektasi suku bunga 3,72% dan term premium 0,73%, menurut analisis Ferrante Capital Advisers atas data New York Fed tersebut. Beberapa bulan berikutnya, data bulanan New York Fed sendiri (dihimpun oleh CEIC) menunjukkan komponen term premium bergerak sendiri: turun ke 0,667% pada Mei 2026, turun lagi ke 0,513% pada Juni, lalu naik tajam kembali ke sekitar 0,80% pada 13 Agustus 2026, menurut pelacakan MacroMicro atas model yang sama.
Tahun 2026 jadi contoh nyata dua komponen ini berjalan sendiri-sendiri
Ini garis waktunya:
Tanggal
Ekspektasi suku bunga saat itu
Yang terjadi pada yield obligasi 30 tahun
27 Jan 2026
Survei The Fed milik CNBC menemukan analis memperkirakan dua kali lagi pemangkasan suku bunga sepanjang 2026
-
19 Mei 2026
Ekspektasi pemangkasan masih kuat
Yield tembus 5,19%, tertinggi sejak sebelum krisis 2007-2008
12 Jun 2026
Bloomberg melaporkan para ekonom menggeser perkiraan pemangkasan mundur ke 2027
-
31 Jul 2026
Ekspektasi pemangkasan makin memudar
Yield ditutup di 5,27%, level yang belum pernah terlihat sejak 2007
18 Agu 2026
Harga pasar untuk rapat The Fed 16 September 2026 justru bergeser ke arah kenaikan, bukan pemangkasan
Yield tembus 5,33%, rekor tertinggi 19 tahun (CNBC)
Sumber: CNBC (27 Jan, 19 Mei, 17-18 Agu 2026), Bloomberg (laporan 12 Jun dan 17 Agu 2026 soal aksi jual obligasi), pelacakan probabilitas suku bunga The Fed oleh fedratecalc.com.
Menjelang awal September 2026, probabilitas pasar untuk kenaikan 25 basis poin pada rapat The Fed 16 September berada di 58%, menurut fedratecalc.com, sebuah pembalikan tajam dari suasana "dua kali pemangkasan" di bulan Januari. Kalau kenaikan yield 30 tahun ini murni soal ekspektasi jalur suku bunga, seharusnya ia mengikuti bolak-balik ekspektasi tersebut. Yang terjadi malah sebaliknya: yield terus naik baik di fase ekspektasi pemangkasan maupun fase ekspektasi kenaikan. Kegigihan seperti inilah wujud term premium yang sedang naik, dilihat dari luar.
Kenapa term premium sendiri terus naik
Data jangka panjang New York Fed menunjukkan term premium berada di sekitar nol atau bahkan negatif sepanjang kira-kira 2015 sampai 2022, periode yang tidak biasa tenangnya. Sejak 2022, term premium kembali positif dan bertahan di sana. Dua faktor sering disebut sebagai penyebabnya: berakhirnya program pembelian obligasi The Fed yang tadinya menekan term premium dengan menyerap pasokan obligasi jangka panjang, dan inflasi yang sudah lima tahun berturut-turut berada di atas target 2% The Fed, menurut analisis Ferrante Capital Advisers atas rezim saat ini.
Di atas itu, utang pemerintah AS sendiri terus membengkak. Defisit fiskal AS untuk Juli 2026 mencatat rekor bulanan tertinggi sejak Maret 2021, menambah kekhawatiran investor soal seberapa banyak lagi obligasi jangka panjang yang harus diserap pasar. Pasokan obligasi puluhan tahun yang lebih besar dan lebih tidak pasti persis jenis risiko yang memang dihargai oleh term premium.
Mekanisme yang sama, di pasar obligasi Indonesia
Bank Indonesia menahan BI-Rate di 5,75% pada rapat kebijakan 18-19 Agustus 2026, penahanan kedua berturut-turut, sekaligus keputusan pertama di bawah kepemimpinan Plt Gubernur Destry Damayanti. BI sudah menaikkan suku bunga acuan itu kumulatif 100 basis poin sepanjang tahun ini untuk menjaga rupiah, dan liputan Kompas.id maupun Bisnis.com atas rapat yang sama mencatat pintu kenaikan lanjutan menuju 6,25% masih terbuka, sebelum ruang pemangkasan dibuka. Dengan kata lain, investor di pasar Indonesia juga belum memasang taruhan pada pelonggaran suku bunga dalam waktu dekat.
Meski begitu, yield obligasi pemerintah Indonesia (SUN) tenor 10 tahun tetap bertahan tinggi sepanjang tahun: sekitar 6,04% pada Januari 2026, naik ke kisaran 7,2% sampai 7,3% pada pertengahan Agustus, lalu hanya melandai tipis ke 7,10% pada 3 September 2026, turun 0,13 poin persentase dari 7,23% di sesi sebelumnya, menurut pelacakan TradingEconomics dan MacroMicro atas acuan yang sama.
Sebagian dari cerita ini sama seperti di AS: pemerintah Indonesia menaikkan target penerbitan obligasi 2026 menjadi Rp799,53 triliun untuk membiayai defisit fiskal yang melebar, pasokan yang lebih berat ini menambah kompensasi risikonya sendiri di atas apa pun yang dilakukan BI terhadap suku bunga acuan. NetWort sudah membahas mekanisme pasokan ini secara terpisah di bagaimana penerbitan SBN memengaruhi yield yang kamu dapat. Artikel ini membahas bagian yang lebih tersembunyi: setelah memperhitungkan pasokan dan jalur suku bunga BI sekalipun, sebagian dari yield 10 tahun itu tetap merupakan kompensasi atas ketidakpastian memegang utang pemerintah Indonesia selama satu dekade, bukan reaksi atas keputusan rapat bulan depan.
Apa artinya buat kamu
Kalau kamu memegang reksa dana obligasi, SUN ritel seperti ORI atau SR, atau sedang menimbang deposito tenor panjang dibanding tenor pendek, jangan langsung berasumsi pemangkasan suku bunga di masa depan, baik dari The Fed maupun BI, otomatis akan menarik turun yield jangka panjang sampai sesuai. Sebagian dari apa yang kamu terima, atau yang kamu bayar kalau meminjam, adalah kompensasi atas risiko yang tidak ada hubungannya dengan keputusan rapat bulan depan. Kompensasi itu bisa naik justru saat semua orang sepakat suku bunga akan turun, dan bisa tetap bertahan bahkan setelah suku bunga benar-benar turun.
Halaman Macro Context di NetWort melacak suku bunga BI, suku bunga The Fed, dan yield obligasi acuan berdampingan, jadi kamu bisa lihat sendiri apakah suatu pergerakan yield sejalan dengan cerita ekspektasi suku bunga, atau justru sesuatu yang lain sama sekali.