Yield on Cost vs Dividend Yield: Kenapa Pembeli TLKM 2021 Sekarang Malah Dapat Yield Lebih Kecil
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Coba buka aplikasi saham dan lihat dividend yield TLKM hari ini. Sekarang bandingkan dengan yield yang beneran kamu dapat kalau kamu sudah pegang TLKM sejak 2021. Dua angka itu bisa beda jauh, dan keduanya sama-sama benar. Cuma, yang satu namanya dividend yield, yang satu lagi yield on cost. Buat TLKM saat ini, hasilnya kebalik dari yang biasa orang bayangkan: orang yang baru beli TLKM hari ini justru dapat yield lebih besar dibanding orang yang beli di Januari 2021 dan nggak pernah jual.
Dividend yield adalah dividen setahun dibagi harga saham hari ini. Angka ini jawab satu pertanyaan: kalau kamu beli saham ini sekarang, dividen tahun ini setara berapa persen dari uang yang kamu keluarkan?
Dividen terbaru TLKM, untuk tahun buku 2025, adalah Rp221 per saham, total Rp21,99 triliun, dikonfirmasi CNBC Indonesia dan Investor.id. Pemegang saham yang tercatat per 19 Juni 2026 menerimanya paling lambat 10 Juli 2026. Saham TLKM ditutup di Rp2.620 pada 21 Agustus 2026, menurut laporan harian journalarta.com. Rp221 dibagi Rp2.620, hasilnya sekitar 8,4%. Itu dividend yield TLKM hari ini, dan angka ini sama buat siapa pun yang beli sekarang, nggak peduli orang lain sudah pegang saham ini berapa lama.
Yield on cost mirip, cuma harga yang dipakai bukan harga hari ini, tapi harga waktu kamu sendiri pertama kali beli.
Angka ini nggak ada di halaman saham manapun, karena cuma kamu yang tahu harga beli dan tanggal beli aslimu. Dua orang yang pegang saham yang sama persis bisa punya yield on cost yang beda total, cuma karena beli di hari yang beda.
Menurut analisis Big Alpha yang terbit Januari 2021, TLKM saat itu sudah naik sekitar 30% dalam beberapa minggu dan ditutup di Rp3.570 pada 8 Januari 2021. Anggap kamu beli di harga itu dan pegang terus sampai sekarang. Dividen tahun ini tetap dihitung dari harga beli asli kamu, Rp3.570 itu.
Dividen TLKM sendiri naik terus dari tahun ke tahun, berdasarkan angka yang dilaporkan Antara, CNBC Indonesia dan Investor.id:
| Tahun buku | Dividen per saham TLKM | Dibayar di |
|---|---|---|
| 2021 | Rp149,97 | 2022 |
| 2022 | Rp167,59 | 2023 |
| 2023 | Rp178,50 | 2024 |
| 2024 | Rp212,46 | 2025 |
| 2025 | Rp221,00 | 2026 |
Itu kenaikan 47% dalam lima tahun buku. Dividen yang naik terus biasanya dianggap kabar bagus buat pemegang saham lama. Lihat dulu apa yang sebenarnya terjadi ke yield masing-masing:
| Harga beli | Dividen tahun ini | Yield mereka | |
|---|---|---|---|
| Beli Januari 2021, masih pegang | Rp3.570 | Rp221 | 6,2% (yield on cost) |
| Beli hari ini | Rp2.620 | Rp221 | 8,4% (dividend yield) |
Yield on cost pembeli 2021, 6,2%, lebih kecil dari yield yang didapat pembeli baru hari ini. Dividennya naik. Yield on cost-nya tetap kalah.
Alasannya sederhana kalau dua angka ini dilihat bareng: harga saham TLKM turun lebih banyak dibanding kenaikan dividennya. Rp2.620 itu sekitar 27% lebih rendah dari Rp3.570 yang dibayar pembeli 2021, sementara dividennya cuma naik 47% dalam rentang waktu yang sama. Harga yang turun bikin dividen berapa pun besarnya jadi persentase yang lebih kecil dari uang yang dulu dikeluarkan pembeli lama buat masuk.
Ini bukan berarti TLKM saham dividen yang jelek. Ini nunjukkin yield on cost cuma menguntungkan kalau dua hal jalan bareng: dividennya naik, dan harganya nggak turun lebih cepat dari kenaikan dividen itu. Tahun 2026 memang berat buat saham-saham Indonesia secara umum, IHSG sendiri sudah turun tajam dari puncaknya di Januari. Harga yang turun otomatis ikut menarik yield on cost ke bawah, walaupun perusahaannya tetap menaikkan dividen sungguhan.
Cerita yang lebih sering kamu dengar arahnya kebalikan dari contoh TLKM di atas, dan ini alasan kenapa istilah yield on cost dianggap penting. Bayangkan saham seharga Rp1.000 dengan dividen Rp30, dividend yield 3%. Beberapa tahun kemudian harganya naik jadi Rp2.000, dividennya juga naik jadi Rp50. Pembeli baru di harga Rp2.000 dapat dividend yield 2,5%. Kamu, yang masih pegang di harga beli asli Rp1.000, dapat dividen Rp50 yang sama itu dibagi Rp1.000, yield on cost 5%, dua kali lipat dari yang didapat pembeli baru.
Skenario itu memang beneran terjadi ke pemegang saham lama dari saham yang harga dan dividennya sama-sama naik. Angka TLKM di atas cuma nunjukkin ini bukan sesuatu yang otomatis. Yield on cost cuma menguntungkan kamu kalau harga beli kamu sendiri bertahan lebih baik dibanding harga hari ini.
Yield on cost itu pribadi, ngeliat ke belakang, dan gampang disalahartikan:
Satu-satunya cara tahu angka aslimu adalah cari harga beli rata-rata kamu sendiri, lalu bagi dividen tahun ini dengan harga itu, bukan dengan harga hari ini. Harga TLKM saat ini, riwayat dividen dan data fundamental lainnya ada di halaman Asset Detail TLKM di NetWort, tempat kamu bisa ambil angka dividen terbaru dan hitung sendiri pembagiannya dengan harga beli asli kamu.