Aturan Tarik 4% Bukan Hukum Pasti. Ini Matematikanya dan Kapan Aturan Ini Gagal
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu mungkin pernah baca ini: pas pensiun, tarik 4% dari portofolio tiap tahun, dan uangmu bakal cukup terus. Angka itu diulang-ulang terus sampai kedengarannya kayak hukum pasti, mirip gravitasi yang selalu 9,8 m/s². Padahal bukan. Aturan 4% itu hasil skenario terburuk dari satu periode data historis tertentu, dan peneliti yang pertama kali menghitungnya sekarang bilang angka yang lebih pas mungkin 4,7%. Ini asal-usul aturan 4% yang sebenarnya, matematikanya, dan kenapa langsung menerapkannya ke portofolio yang berat di IHSG dan rupiah perlu dipikir ulang.
Aturan ini berasal dari makalah perencana keuangan William Bengen tahun 1994, "Determining Withdrawal Rates Using Historical Data," lalu jadi terkenal empat tahun kemudian lewat makalah Philip Cooley, Carl Hubbard, dan Daniel Walz, tiga profesor di Trinity University, Texas, yang sekarang dikenal sebagai Trinity Study.
Yang mereka lakukan: ambil setiap periode 30 tahun berjalan dalam sejarah pasar Amerika, lalu untuk masing-masing periode, tanya "kalau orang pensiun menarik X% dari portofolio awalnya di tahun pertama, lalu jumlah rupiah yang sama disesuaikan inflasi tiap tahun setelahnya, apakah uangnya bakal cukup sampai 30 tahun penuh?" Mereka mengetes tingkat penarikan dari 3% sampai 12%, di berbagai kombinasi saham dan obligasi Amerika. Angka 4% adalah tingkat penarikan awal tertinggi yang berhasil bertahan di semua periode 30 tahun dalam data itu, termasuk periode terburuknya: pensiun tepat sebelum Depresi Besar, atau di masa inflasi tinggi tahun 1970-an.
Itu saja intinya. Aturan ini bukan rumus yang menghasilkan angka 4% dari prinsip dasar matematika. Ini jawaban dari pertanyaan "berapa tingkat penarikan yang selamat, kalau kamu kebetulan pensiun di tahun terburuk, menurut sejarah pasar satu negara ini."
Mekanismenya sendiri simpel, dan bukan seperti yang kebanyakan orang kira. Aturan 4% bukan berarti kamu narik 4% dari nilai portofolio saat itu tiap tahun. Artinya kamu hitung 4% sekali saja, di tahun pertama, lalu jumlah rupiah yang sama itu dinaikkan sesuai inflasi tiap tahun berikutnya, nggak peduli portofolionya lagi naik atau turun.
Misalnya kamu mulai pensiun dengan portofolio Rp2.000.000.000. Begini bentuk tiga tahun pertamanya, pakai data inflasi Indonesia terbaru dari Bank Indonesia, 2,88% year-on-year di Juli 2026:
| Tahun | Jumlah penarikan | Cara hitungnya |
|---|---|---|
| 1 | Rp80.000.000 | 4% × Rp2.000.000.000 |
| 2 | Rp82.304.000 | Rp80.000.000 × 1,0288 |
| 3 | Rp84.674.355 | Rp82.304.000 × 1,0288 |
Perhatikan apa yang nggak ada di tabel itu: kinerja portofolio yang sebenarnya tiap tahun. Itu memang intinya aturan ini. Aturan ini sengaja mengabaikan apakah pasar lagi naik atau turun, dan tetap membayar jumlah riil (yang sudah disesuaikan inflasi) yang sama, dengan asumsi pertumbuhan portofolio yang terdiversifikasi dan mayoritas saham bakal rata-rata cukup selama 30 tahun penuh, meskipun ada tahun-tahun tertentu yang nggak kooperatif.
Angka 4% itu spesifik untuk periode 30 tahun tertentu, kombinasi aset tertentu (Bengen pakai alokasi saham sekitar 50-75% berbanding obligasi pemerintah Amerika), dan jalur return serta inflasi tertentu dalam data yang dites. Ganti salah satu input itu, angka yang berhasil bertahan di semua skenario terburuk juga ikut berubah. Ini bukan cacat metodenya, memang begitu cara kerja backtest: jawaban yang tergantung data yang dipakai, bukan konstanta alam.
Bukti paling jelas bahwa angka ini nggak pernah tetap adalah penulisnya sendiri sudah merevisinya. Di buku Agustus 2025-nya, A Richer Retirement, Bengen menaikkan rekomendasi tingkat penarikan awalnya jadi 4,7%, setelah menambahkan lebih banyak kelas aset ke modelnya dan memperhitungkan valuasi pasar serta ekspektasi inflasi di tahun pensiun, bukan pakai satu angka datar buat semua tahun mulai pensiun. Riset pendapatan pensiun Morningstar tahun 2026 justru ke arah sebaliknya buat skenario dasarnya: tingkat penarikan awal 3,9% buat orang yang pensiun di 2026 dengan alokasi saham 30% sampai 50%, naik sedikit dari 3,7% tahun sebelumnya, tapi tetap di bawah angka Bengen karena model Morningstar pakai kombinasi yang lebih konservatif dan berat di obligasi. Dua tim riset yang sama-sama serius, meneliti pertanyaan yang mirip di tahun yang sama, hasilnya beda, 3,9% versus 4,7%. Kalau ini hukum pasti kayak fisika, harusnya nggak berubah tergantung siapa yang menghitung.
Backtest aslinya dijalankan di saham-saham besar Amerika dan obligasi pemerintah Amerika. IHSG itu pasar yang beda total profil risikonya. Dari 1984 sampai 2021, pasar saham Indonesia rata-rata return tahunannya 16,13%, jauh di atas rata-rata jangka panjang saham Amerika, tapi angka headline itu menyembunyikan gejolak yang jauh lebih kasar di baliknya: rugi 30,91% di tahun 1998 waktu Krisis Finansial Asia, dibanding untung 187,43% di tahun 1989. Aturan yang dikalibrasi buat meredam skenario terburuk ala Amerika belum pernah dites melawan gejolak sebesar itu, dan sampai sekarang belum kelihatan ada "Trinity Study versi IHSG" yang menjalankan analisis 30 tahun berjalan yang sama di sejarah pasar Indonesia. Siapa pun yang menerapkan 4% ke portofolio yang berat di IHSG sebenarnya lagi meminjam angka yang belum pernah diuji langsung terhadap tahun-tahun terburuk versi Indonesia sendiri.
Aturan 4% ini sebenarnya sudah harus memperhitungkan bahwa kapan tahun buruk itu datang lebih penting daripada rata-rata besarnya, mekanisme terpisah yang disebut risiko urutan return. Dua portofolio dengan rata-rata return yang persis sama bisa berakhir beda puluhan juta rupiah cuma gara-gara di tahun keberapa crash-nya kebetulan jatuh. Pengetesan skenario terburuk di Trinity Study sebenarnya sudah mencakup ini untuk datanya sendiri, tapi kalau aturan praktisnya dicomot begitu saja tanpa menjalankan ulang pengecekan skenario terburuk itu terhadap sejarah pasar yang beda, perlindungan ini diam-diam ikut hilang.
Bukan berarti 4% itu angka yang jelek buat jadi bahan pertimbangan. Artinya angka ini cuma titik acuan awal yang dipinjam dari pasar yang perilakunya beda dari Indonesia, dibangun di atas asumsi (kombinasi saham-obligasi tertentu, sejarah inflasi Amerika, jangka waktu 30 tahun tetap tanpa fleksibilitas pengeluaran) yang belum tentu berlaku buat kondisi kamu sendiri. Revisi Bengen jadi 4,7% dan angka Morningstar 3,9% buat 2026 sama-sama nunjukkin, bahkan di dalam satu pasar yang datanya jauh lebih lengkap sekalipun, angka "aman" ini terus direvisi seiring peneliti nambahin lebih banyak data, kelas aset, dan asumsi yang lebih realistis soal cara orang pensiun beneran belanja.
Buat portofolio rupiah, versi jujur dari aturan ini lebih ke arah: pilih tingkat penarikan awal yang cenderung konservatif, mengingat tahun-tahun terburuk IHSG sendiri belum diteliti seketat pasar Amerika, lalu cek ulang angka itu terhadap kepemilikan dan volatilitas asli kamu secara rutin, bukan ditetapkan sekali terus nggak pernah dilihat lagi.
Anggap 4% sebagai titik awal diskusi, bukan jaminan. Cek komposisi portofolio, riwayat drawdown, dan volatilitas asli kamu di tampilan Portfolio Health NetWort sebelum menentukan tingkat penarikan awal manapun, dan lihat BI Rate serta angka inflasi hari ini di halaman Macro Context, karena keduanya langsung memengaruhi seberapa jauh penarikan rupiah tetap kamu bakal cukup tahun ini.