Current Ratio: Apakah Perusahaan Sanggup Bayar Tagihan Tahun Ini?
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Perusahaan bisa untung dan tetap kehabisan uang tunai. Itu terjadi kalau tagihan datang lebih dulu daripada uangnya.
Untuk itulah ada current ratio (rasio lancar). Pertanyaannya sederhana: dengan yang dimiliki sekarang, sanggupkah perusahaan membayar semua kewajiban 12 bulan ke depan? Di sini kamu akan lihat rumusnya, contoh hitungannya, dan kenapa dua perusahaan dengan rasio sama bisa kondisinya jauh berbeda. Tulisan ini tidak menyatakan saham mana pun layak dibeli atau dijual.
Sebagian milik perusahaan akan jadi uang dalam setahun. Misalnya kas, tagihan ke pelanggan yang belum dibayar, dan barang yang menunggu terjual. Ini disebut aset lancar.
Sebagian kewajiban harus dibayar dalam setahun. Tagihan pemasok, pinjaman jangka pendek, dan cicilan utang panjang yang jatuh tempo tahun ini. Ini disebut liabilitas jangka pendek.
Current ratio membagi yang pertama dengan yang kedua.
Misalnya aset lancar Rp100 miliar dan liabilitas jangka pendek Rp80 miliar. Rasionya 1,25. Artinya, ada Rp1,25 untuk setiap Rp1 yang harus segera dibayar.
Rasio di atas 1 berarti aset lancar lebih besar dari tagihan jangka pendek. Rasio di bawah 1 berarti sebaliknya, dan itu bisa jadi tanda perusahaan kesulitan membayar utang jangka pendek (SoFi, dibaca lewat pencarian 28 Oktober 2026).
Banyak panduan menyebut angka 2 sebagai level yang nyaman. Tapi mereka menambahkan, itu tergantung jenis usahanya. Ritel dan toko bahan makanan sering berjalan dengan rasio lebih tipis karena barangnya cepat laku, sedangkan industri berat biasanya lebih tinggi (ringkasan beberapa panduan keuangan, 28 Oktober 2026).
Jadi anggap satu angka batas hanya sebagai patokan kasar. Satu penelitian akademik di Indonesia pada emiten pelayaran menemukan rentangnya terlalu lebar untuk dijadikan aturan baku (lewat ringkasan pencarian, 28 Oktober 2026). Bandingkan perusahaan dengan sektornya sendiri dan dengan masa lalunya sendiri.
Kita pakai dua perusahaan rekaan. Keduanya bukan emiten sungguhan. Semua angka adalah hitungan NetWort, dalam miliar rupiah.
| Pos | PT Toko Cepat | PT Toko Gudang |
|---|---|---|
| Kas | 20 | 40 |
| Tagihan ke pelanggan | 10 | 30 |
| Stok barang | 70 | 30 |
| Aset lancar | 100 | 100 |
| Liabilitas jangka pendek | 80 | 80 |
| Current ratio | 1,25 | 1,25 |
Rasionya sama. Tagihannya sama besar. Tapi kalau dilihat lebih dekat, keduanya tidak sama.
Kas bisa langsung bayar tagihan hari ini. Stok barang tidak. Perusahaan harus cari pembeli dulu, dan di musim sepi itu bisa makan berbulan-bulan atau memaksa banting harga.
PT Toko Cepat menyimpan sebagian besar aset lancarnya dalam bentuk stok. PT Toko Gudang menyimpannya dalam bentuk kas dan tagihan ke pelanggan.
Quick ratio (rasio cepat) menutup kelemahan ini. Stok dikeluarkan, hanya yang cepat jadi uang yang dihitung. Panduan keuangan menyebut ini kelemahan utama current ratio, karena ia tidak peduli seberapa cepat aset berubah jadi uang (ringkasan Fool.com, lewat pencarian).
| Rasio | PT Toko Cepat | PT Toko Gudang |
|---|---|---|
| Current ratio | 1,25 | 1,25 |
| Quick ratio | (20 + 10) ÷ 80 = 0,38 | (40 + 30) ÷ 80 = 0,88 |
Kalau semua tagihan jatuh tempo besok, PT Toko Cepat hanya bisa menutup 38 sen dari tiap rupiah tanpa menjual stok. PT Toko Gudang bisa menutup 88 sen.
Rasio di bawah 1 terdengar menakutkan. Tapi tidak selalu begitu.
Supermarket menerima uang tunai di kasir setiap hari, sementara pemasok dibayar 30 atau 60 hari kemudian. Ia bisa bertahun-tahun berjalan dengan rasio rendah dan baik-baik saja. Usaha yang dibayar cepat dan membayar lambat pada dasarnya meminjam dari pemasok tanpa bunga.
Tanda bahayanya adalah rasio yang rendah dan terus turun, saat kas menipis dan pinjaman jangka pendek menumpuk. Lihat tren beberapa periode, bukan satu tanggal.
Kamu tidak perlu menghitung semuanya dari nol.
Ulangi untuk tiga atau empat periode terakhir, lalu untuk dua pesaing.
Kalau yang kamu khawatirkan adalah utang, baca juga bagaimana interest coverage ratio menunjukkan apakah laba cukup untuk menanggung bunga.
Buka Explore dan pilih dua emiten BEI dari sektor yang sama. Buka laporan terbaru masing-masing, cari aset lancar dan liabilitas jangka pendeknya, lalu hitung kedua rasionya. Setelah itu tanyakan: mana yang lebih sanggup bayar tagihan kalau penjualan melambat satu kuartal?