Debt to Equity Ratio: Seberapa Besar Perusahaan Dibiayai dari Utang?
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Dua perusahaan sama-sama punya aset Rp600 miliar. Keduanya untung operasi Rp100 miliar tahun ini. Sekilas, mereka tampak kembar.
Bedanya, satu perusahaan membangun asetnya terutama dari uang pemiliknya sendiri. Yang satu lagi, sebagian besar dari pinjaman. Saat tahun buruk datang, nasib mereka tidak akan sama.
Angka yang membuka perbedaan ini namanya debt to equity ratio. Di tulisan ini kamu akan belajar rumusnya, melihat contoh hitungan, dan memahami kenapa bank tidak bisa dinilai dengan cara yang sama. Tulisan ini tidak menyebut saham mana pun layak dibeli atau dijual.
Perusahaan membiayai asetnya dengan dua cara. Pakai uang pemilik, disebut ekuitas. Atau meminjam, yang jadi utang.
Debt to equity ratio (DER) membandingkan keduanya. Untuk setiap rupiah uang pemilik, berapa rupiah utang yang menyertainya?
Kalau utang Rp200 miliar dan ekuitas Rp400 miliar, DER-nya 0,5. Artinya perusahaan meminjam 50 sen untuk tiap rupiah modal pemilik.
Ada satu jebakan. Tidak semua sumber memakai angka "utang" yang sama. Ada yang hanya menghitung pinjaman dan obligasi berbunga. Ada juga yang menghitung seluruh liabilitas, termasuk tagihan yang belum dibayar (Strike, dilihat lewat pencarian 28 Oktober 2026). Cek dulu definisinya sebelum membandingkan.
Kita pakai dua perusahaan rekaan. Keduanya bukan emiten sungguhan. Semua angka adalah hitungan NetWort, dalam miliar rupiah. Keduanya membayar bunga 9% atas utangnya.
| Pos | PT Contoh Hemat | PT Contoh Pinjam |
|---|---|---|
| Total aset | 600 | 600 |
| Utang | 100 | 400 |
| Ekuitas | 500 | 200 |
| Debt to equity ratio | 0,2 | 2,0 |
| Beban bunga (9%) | 9 | 36 |
Aset sama. Cara membiayainya jauh berbeda. PT Contoh Pinjam meminjam dua rupiah untuk setiap satu rupiah uang pemiliknya.
Anggap keduanya untung operasi Rp100 miliar. Setelah bunga, ini sisanya. Supaya sederhana, pajak diabaikan.
| Pos | PT Contoh Hemat | PT Contoh Pinjam |
|---|---|---|
| Laba operasi | 100 | 100 |
| Bunga | −9 | −36 |
| Laba sebelum pajak | 91 | 64 |
| Return on equity (laba ÷ ekuitas) | 18,2% | 32,0% |
PT Contoh Pinjam mencetak laba lebih kecil. Tapi pemiliknya hanya menyetor Rp200 miliar, jadi tiap rupiah mereka bekerja lebih keras. Return on equity-nya 32%, dibanding 18,2%.
Inilah alasan perusahaan berutang. Utang bisa menaikkan return atas uang pemilik, selama bisnisnya menghasilkan lebih besar dari biaya utangnya.
Sekarang anggap tahun lesu memangkas laba operasi keduanya jadi Rp30 miliar.
| Pos | PT Contoh Hemat | PT Contoh Pinjam |
|---|---|---|
| Laba operasi | 30 | 30 |
| Bunga | −9 | −36 |
| Laba sebelum pajak | 21 | −6 |
| Return on equity | 4,2% | −3,0% |
Pemberi pinjaman tidak ikut libur saat bisnis lesu. PT Contoh Pinjam tetap harus bayar Rp36 miliar, lebih besar dari labanya. Hasilnya rugi.
Itulah risiko di balik DER tinggi. Utang membuat tahun bagus makin bagus dan tahun buruk makin berat. Untuk melihat sisi bunganya, baca tulisan kami soal interest coverage ratio. Di tahun buruk, PT Contoh Pinjam hanya menutup bunga 0,83 kali (30 ÷ 36).
Tidak ada garis resmi. Ini patokan umum dari panduan keuangan, bukan aturan:
Patokan ini berasal dari panduan umum, dan semuanya menekankan bahwa batas yang wajar bergantung pada industri (Strike, Macrotrends, lewat pencarian 28 Oktober 2026). Bisnis dengan pemasukan stabil bisa menanggung utang lebih besar daripada bisnis yang penjualannya naik turun tajam.
Jangan pakai patokan DER biasa untuk bank. Bahan baku utama bank adalah uang orang lain. Tabunganmu adalah kewajiban bagi bank, jadi masuk hitungan utang.
Akibatnya DER bank tampak sangat besar. Satu panduan menyebut rasio bank sering di atas 5, kadang di atas 10 (Strike, lewat pencarian). Itu normal untuk bisnisnya, bukan tanda bahaya.
Bank juga dinilai lewat aturan permodalan dari regulator. Kami tidak menemukan batas resminya di Indonesia pada sumber yang bisa dibuka, jadi cek langsung ke OJK. Intinya sederhana: bandingkan bank hanya dengan bank lain, dan pakai ukuran khusus bank.
DER adalah pengecekan cepat, bukan vonis. Ingat batasannya:
Buka screener Explore dan pilih dua emiten BEI dari sektor yang sama. Buka laporan terbaru masing-masing, hitung DER dengan cara yang sama, lalu bandingkan. Setelah itu tanyakan: mana yang lebih kesulitan kalau tahun depan lesu?