BI Rate Turun 5 Kali di 2025, tapi IHSG Cuma Naik Tipis. Ini Faktanya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Sepanjang 2025, penurunan BI rate terjadi sebanyak lima kali. Tiap kali ada berita soal itu, narasinya selalu sama: bunga turun, saham naik. Jadi apakah portofoliomu langsung melompat 10%, 20%? Hampir pasti tidak. Di hari keputusan itu benar-benar diumumkan, IHSG cuma bergerak sekitar satu persen, kadang malah kurang dari itu.
Jarak antara judul berita dan angka sungguhannya itulah yang penting buat kamu ketahui. Ini yang benar-benar terjadi tiap kali BI bergerak, baik waktu turun maupun waktu naik.
BI rate adalah suku bunga acuan yang ditetapkan Bank Indonesia, dan jadi patokan buat bunga pinjaman serta deposito di seluruh perbankan. Waktu BI rate turun, teorinya bekerja lewat dua jalur. Pertama, biaya pinjaman perusahaan jadi lebih murah, yang harusnya membantu labanya. Kedua, bunga deposito dan obligasi ikut turun, jadi sebagian orang yang tadinya parkir uang di deposito mulai melirik saham demi return yang lebih tinggi. Gabungan dua efek ini yang bikin buku teks bilang penurunan BI rate itu kabar baik buat IHSG, indeks yang mewakili seluruh Bursa Efek Indonesia.
Arahnya memang benar. Yang meleset adalah soal seberapa besar reaksinya.
Bank Indonesia menurunkan BI rate lima kali sepanjang 2025, dari 6,00% jadi 4,75%, total pemangkasan 125 basis poin dalam setahun itu saja (satu basis poin sama dengan seperseratus persen). Ini reaksi IHSG di hari yang sama tiap keputusan diumumkan, berdasarkan data penutupan Bursa Efek Indonesia yang dilaporkan saat itu:
| Tanggal keputusan | Perubahan | BI rate baru | Penutupan IHSG | Pergerakan hari itu |
|---|---|---|---|---|
| 15 Jan 2025 | −25 bps | 5,75% | 7.079,56 | +1,77% |
| 21 Mei 2025 | −25 bps | 5,50% | 7.142,46 | +0,68% |
| 16 Jul 2025 | −25 bps | 5,25% | 7.192,02 | +0,72% |
| 20 Agu 2025 | −25 bps | 5,00% | 7.943,82 | +1,03% |
| Sep 2025 | −25 bps | 4,75% | (indeks terus naik pelan sampai akhir tahun) | n/a |
Sumber: pengumuman kebijakan Bank Indonesia dan data penutupan Bursa Efek Indonesia yang dilaporkan Databoks dan IDN Financials pada tiap tanggal keputusan, diakses 3 Agustus 2026.
Ada satu hal lagi yang perlu kamu perhatikan dari tabel itu. Kelima penurunan BI rate itu hampir tidak pernah jadi kejutan waktu benar-benar diumumkan. Semuanya sudah diperkirakan lebih dulu oleh para ekonom sebelum rapat berlangsung. Penurunan yang sudah "bocor" duluan itu biasanya sudah kepatri di harga saham sebelum pengumuman resminya keluar, dan itu salah satu alasan kenapa hari keputusannya sendiri cuma bikin indeks bergerak tipis.
Inilah bagian yang benar-benar menguji apakah "arah suku bunga bisa menebak arah saham" itu berlaku atau tidak. BI menahan suku bunga di 4,75% sampai akhir 2025. Lalu di 2026, yang terjadi kebalikan dari cerita 2025: BI menaikkan suku bunga total 100 basis poin, lewat kenaikan darurat di luar jadwal pada 9 Juni dan kenaikan terjadwal pada 18 Juni, sampai suku bunga jadi 5,75%.
Kalau ikut logika buku teks tadi, kenaikan suku bunga harusnya bikin saham jatuh. Pinjaman jadi lebih mahal, dan uang jadi tertarik parkir di deposito. Dan memang, di bulan-bulan sebelum kenaikan itu, IHSG sudah jatuh parah, turun sekitar 35% dalam enam bulan, menyentuh titik terendah 5.317 pada 8 Juni 2026, di hari yang sama rupiah melemah tembus Rp 18.100 per dolar AS, level terlemah sepanjang sejarah.
Tapi justru di momen kenaikan suku bunga itulah cerita sederhana tadi runtuh. Dalam dua hari perdagangan setelah kenaikan darurat BI pada 9 Juni, IHSG melonjak 7,57% lalu 2,71% lagi, kembali ke level 5.902 seiring rupiah yang mulai stabil. Kenaikan suku bunga malah menghasilkan salah satu reli dua hari terbaik sepanjang tahun itu.
Sampai 22 Juli 2026, BI menahan suku bunga di 5,75%, di luar dugaan pasar yang memperkirakan bakal ada kenaikan lagi, dengan rupiah di level Rp 17.917 per dolar AS dan inflasi masih diproyeksikan di kisaran target BI 2,5% (plus minus satu persen) untuk 2026 dan 2027.
Sumber: pernyataan kebijakan Bank Indonesia, serta liputan pasar dari Focus Economics, TradingEconomics dan Databoks soal keputusan Juni dan Juli 2026, diakses 3 Agustus 2026.
Kalau kamu bandingkan dua tahun ini berdampingan, polanya bukan "turun itu bagus, naik itu jelek." Polanya adalah keputusan suku bunga itu gejala, bukan penyebab utama. Di 2025, BI menurunkan suku bunga karena inflasi terkendali dan rupiah stabil, jadi penurunannya terjadi di suasana tenang dan indeksnya cuma naik pelan-pelan mengikutinya. Di 2026, BI menaikkan suku bunga karena rupiahnya sedang krisis, jadi kenaikannya terjadi di suasana penuh gejolak, dan indeksnya bergerak jauh lebih liar, ke dua arah, dibanding penurunan mana pun di 2025.
Kalau kamu pegang saham-saham IDX, pertanyaan yang berguna di hari pengumuman BI rate bukan "BI naikkan atau turunkan suku bunga," tapi "kenapa." Penurunan di tengah rupiah yang stabil dan inflasi yang terkendali itu sinyal yang beda jauh dibanding kenaikan yang dipakai buat menyelamatkan rupiah yang sudah anjlok 35% dalam enam bulan.
Daripada bereaksi ke satu pengumuman BI rate saja, coba lihat beberapa indikator sekaligus. Halaman Macro Context di NetWort menampilkan BI rate, kurs rupiah, dan inflasi berdampingan, lengkap dengan skor yang menunjukkan situasi makro macam apa yang sedang terjadi. Jadi kamu bisa cek dulu apakah suatu pergerakan suku bunga terjadi di suasana tenang atau suasana krisis, sebelum memutuskan artinya buat portofoliomu sendiri.