Peringkat Kredit Indonesia Nggak Berubah di 2026. Spread CDS-nya Naik 40%
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Peringkat kredit Indonesia nggak pernah berubah sepanjang 2026. Moody's masih kasih nilai Baa2. Fitch dan S&P masih kasih BBB, persis kayak posisi di Januari. Tapi ada satu angka pasar lain yang jawab pertanyaan yang sama persis, seberapa berisiko sih ngasih pinjaman ke Indonesia, dan angka ini bergerak terus tiap hari: spread CDS. Spread CDS lima tahun Indonesia naik dari sekitar 65 basis poin di Januari 2026 jadi rata-rata sekitar 92 basis poin di awal Agustus, naik kurang lebih 40%, sementara peringkat huruf yang selalu dikutip di judul berita diam saja sepanjang tahun.
Credit default swap, atau CDS, cara kerjanya mirip asuransi terhadap gagal bayar sebuah negara. Pembeli bayar premi tahunan, yang dihitung dalam basis poin dari nilai yang diasuransikan, dan penjual bayar ganti rugi kalau si peminjam gagal bayar utangnya. Satu basis poin sama dengan 0,01%, jadi spread 100 basis poin artinya premi tahunannya sekitar 1% dari nilai yang diasuransikan.
Biar kebayang angkanya. Di spread 65 basis poin, mengasuransikan eksposur obligasi pemerintah Indonesia senilai $10 juta selama lima tahun butuh biaya sekitar $65.000 per tahun. Di 92 basis poin, proteksi yang sama untuk $10 juta yang sama butuh sekitar $92.000 per tahun, selisih $27.000 setahun, padahal peringkat kreditnya sendiri nggak pernah berubah di antara dua titik itu. Selisih itu adalah pasar yang diam-diam menghitung ulang risiko gagal bayar Indonesia secara real-time, sesuatu yang nggak bisa dilakukan oleh sebuah huruf peringkat.
Dari Januari sampai Juli, tiga lembaga pemeringkat besar cuma ambil tiga aksi soal Indonesia. Moody's turunkan outlook dari stabil ke negatif pada 5 Februari, sambil tetap mempertahankan peringkat Baa2. Fitch lakukan hal serupa, stabil ke negatif, pada 4 Maret, juga tetap pertahankan BBB. S&P malah sebaliknya, pertahankan BBB dengan outlook stabil pada 13 Juli. Tidak satu pun dari tiga aksi itu mengubah huruf peringkatnya. Sementara itu, spread CDS mengeluarkan harga baru setiap hari bursa di sela-sela ketiga tanggal itu:
| Periode | Aksi Lembaga Pemeringkat | Spread CDS 5 Tahun Indonesia |
|---|---|---|
| Januari 2026 | Belum ada aksi; Baa2 (Moody's) dan BBB (Fitch, S&P) semua stabil | sekitar 65 bps |
| 5 Feb 2026 | Moody's turunkan outlook jadi negatif, Baa2 dipertahankan | sekitar 80 bps, tertinggi di Asia minggu itu |
| April 2026 | Tidak ada aksi lembaga pemeringkat | sekitar 91,6 bps |
| Mei 2026 | Tidak ada aksi lembaga pemeringkat | sekitar 89,6 bps |
| 6 Jul – 5 Agu 2026 | S&P pertahankan BBB, outlook stabil (13 Jul) | 88,8–94,8 bps, rata-rata sekitar 92 |
Sumber: rilis resmi Moody's Ratings tanggal 5 Februari 2026 dan pernyataan Fitch tanggal 4 Maret 2026 seperti dilaporkan Malay Mail, liputan pergerakan CDS Indonesia dari IDNFinancials, serta data spread CDS bulanan dan mingguan dari CEIC Data dan cbonds, semuanya diakses 2 September 2026.
Ada dua hal yang menonjol. Pertama, lonjakan spread paling tajam, dari sekitar 65 ke sekitar 80 basis poin, terjadi bersamaan dengan penurunan outlook Moody's, bergerak duluan berdasarkan ekspektasi trader sebelum lembaganya sendiri resmi mengumumkan apa pun. Kedua, spread-nya terus bergerak naik-turun sepanjang musim semi dan panas, sempat turun sedikit di Mei sebelum kembali naik ke level tertinggi tahun ini di awal Agustus, padahal tidak ada lembaga pemeringkat yang menyentuh peringkat Indonesia lagi setelah pernyataan stabil S&P di Juli. Peringkatnya cuma dapat tiga aksi dalam delapan bulan. Spread CDS-nya, bisa dibilang, dapat satu harga baru tiap hari bursa.
Proses lembaga pemeringkat itu formal dan lambat, memang sengaja dibikin begitu. Analis meninjau kondisi keuangan sebuah negara berdasarkan metodologi yang tetap, dalam kasus Indonesia dua-duanya menyebut ketidakpastian arah kebijakan dan tekanan fiskal yang meningkat sebagai alasan penurunan outlook di 2026, lalu komite pemeringkatan melakukan voting, dan hasilnya berlaku sampai peninjauan berikutnya, yang seringkali baru terjadi berbulan-bulan kemudian.
Spread CDS nggak punya komite. Instrumen ini diperdagangkan di pasar over-the-counter antar bank, hedge fund dan manajer aset, yang menghitung ulang harganya terus-menerus setiap kali ada hal baru di hari itu: rupiah yang melemah, lelang obligasi yang permintaannya lebih tipis dari biasanya, headline politik, atau pergerakan yield Treasury AS yang mengubah ekspektasi investor terhadap semua obligasi pemerintah lain, termasuk punya Indonesia. Semua itu nggak butuh izin lembaga pemeringkat buat langsung kelihatan di spread-nya.
Ini semua bukan berarti Indonesia tiba-tiba berisiko gagal bayar. Di skala semua lembaga pemeringkat, peringkat Indonesia masih dua level penuh di atas level pertama non-investment grade: BBB, lalu BBB-, lalu BB+ di skala S&P dan Fitch; Baa2, lalu Baa3, lalu Ba1 di skala Moody's. Spread CDS yang melebar mencerminkan pasar yang minta kompensasi lebih besar buat menanggung risiko Indonesia, bukan pasar yang mulai menghitung kemungkinan gagal bayar dalam waktu dekat. Buat gambaran lebih lengkap, termasuk apa arti penurunan peringkat beneran buat pemegang obligasi asing, baca artikel NetWort soal peringkat kredit Indonesia di 2026.
Kamu nggak bisa beli atau jual CDS negara sebagai investor ritel di Indonesia, pasar itu memang dibuat buat bank dan institusi besar. Yang bisa kamu pantau adalah proksi yang kelihatan dan bergerak karena alasan yang mirip: yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun, yang naik dari sekitar 6,04% di awal 2026 jadi 7,04% per 24 Agustus. Halaman Macro Context NetWort melacak yield itu bareng suku bunga acuan Bank Indonesia, kurs rupiah dan inflasi, semuanya di satu tempat, jadi kamu bisa lihat perhitungan ulang risiko yang sama itu tanpa perlu terminal Bloomberg. Buat mekanisme detail gimana yield itu terbentuk di tiap lelang obligasi, artikel kami soal defisit APBN Indonesia yang melebar dan yield obligasi membahasnya langkah demi langkah.