Defisit Transaksi Berjalan Indonesia Tiba-Tiba Melonjak Jadi 3,3% PDB. Digabung Defisit APBN yang Juga Melebar, Ini Namanya Defisit Kembar
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Di kuartal kedua 2026, defisit transaksi berjalan Indonesia melebar jadi US$12,5 miliar, atau 3,3% dari seluruh ukuran ekonomi, lebih dari tiga kali lipat dibanding tiga bulan sebelumnya. Hampir bersamaan, defisit anggaran pemerintah juga terus melebar, diproyeksikan tembus Rp734,3 triliun sampai akhir tahun. Dua defisit yang sama-sama membesar dalam waktu bersamaan punya nama khusus dalam ilmu ekonomi: defisit kembar (twin deficit). Kombinasi ini bikin ekonom lebih khawatir dibanding kalau cuma satu defisit yang melebar, karena efeknya ke dana asing yang dibutuhkan Indonesia buat menutup keduanya sekaligus.
Defisit anggaran terjadi kalau pengeluaran pemerintah lebih besar dari penerimaan pajak dan pendapatan lainnya. Indonesia menutup selisih itu terutama dengan menjual Surat Berharga Negara (SBN) ke bank, dana pensiun, dan investor asing.
Defisit transaksi berjalan adalah kondisi di mana Indonesia secara keseluruhan membayar lebih banyak ke luar negeri dibanding yang diterimanya, setelah perdagangan barang, jasa, pendapatan investasi, dan kiriman uang dari luar negeri semuanya dijumlahkan. Artikel NetWort soal bedanya neraca berjalan dan neraca dagang Indonesia membahas persis apa saja yang masuk ke angka yang lebih luas ini.
Kedua lubang itu ditutup dengan cara yang sama: dana asing yang masuk, entah itu dana asing yang beli SBN atau investor asing yang beli aset Indonesia lainnya. Ekonom sudah mengamati kombinasi kayak gini sejak era 1980-an, waktu Amerika Serikat sama-sama punya defisit anggaran besar dan defisit transaksi berjalan besar di waktu bersamaan, sebuah pola yang terus dipelajari sejak itu karena bikin sebuah negara jadi bergantung ke modal asing dari dua arah sekaligus, bukan cuma satu.
Laporan neraca pembayaran kuartal kedua dari Bank Indonesia sendiri, terbit akhir Agustus 2026, menunjukkan defisit transaksi berjalan melompat jadi US$12,5 miliar, atau 3,3% dari PDB (Produk Domestik Bruto, total nilai semua yang diproduksi ekonomi dalam satu kuartal). Bandingkan dengan kuartal pertama yang direvisi jadi US$3,6 miliar, 1,0% dari PDB, sedikit lebih kecil dari angka US$4,0 miliar yang awalnya dilaporkan Bank Indonesia buat kuartal itu di bulan Mei, sebelum revisi data seperti biasa.
| Ukuran | Kuartal I 2026 | Kuartal II 2026 |
|---|---|---|
| Defisit transaksi berjalan | −US$3,6 miliar (revisi) | −US$12,5 miliar |
| Transaksi berjalan, % PDB | −1,0% | −3,3% |
| Defisit neraca jasa | −US$4,39 miliar | −US$5,89 miliar |
| Neraca pembayaran keseluruhan (NPI) | −US$9,1 miliar | −US$0,9 miliar |
| Neraca modal dan finansial | defisit | surplus US$12,0 miliar |
Sumber: laporan neraca pembayaran kuartal II 2026 dari Bank Indonesia, dilaporkan Antara News, Kompas.id, dan Indonesia-investments.com, semuanya diakses 2 September 2026.
Bank Indonesia menyebut dua penyebab utama lonjakan ini: defisit neraca migas yang melebar, terkait harga minyak dunia yang naik gara-gara konflik di Timur Tengah, dan surplus neraca non-migas yang menyempit. Neraca jasa, uang yang dibayar atau diterima dari pengiriman barang, pariwisata, dan konsultasi, bukan barang fisik, juga melebar, dari defisit US$4,39 miliar jadi US$5,89 miliar, yang kalau dihitung sendiri setara sekitar 17% dari total pelebaran kuartal ke kuartal itu.
Bersamaan dengan melebarnya transaksi berjalan, sisi fiskal dari defisit kembar ini juga bergerak ke arah yang sama. Sampai semester pertama 2026, pengeluaran pemerintah melampaui penerimaan sebesar Rp196,5 triliun, 0,76% dari PDB. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bilang ke komisi anggaran DPR di bulan Juli bahwa defisit sepanjang tahun ini diproyeksikan tembus Rp734,3 triliun, 2,85% dari PDB, masih di bawah batas legal 3% dari PDB tapi makin dekat ke batas itu dibanding rencana awal. Artikel NetWort soal defisit APBN Indonesia yang melebar dan yield obligasi membahas apa yang mendorong angka ini dan gimana ujungnya jadi penerbitan obligasi baru.
Defisit anggaran sendirian itu masalah pembiayaan dalam negeri: pemerintah jual obligasi, dan selama pembelinya, asing atau domestik, tetap datang, mekanismenya jalan terus. Defisit transaksi berjalan sendirian itu masalah perdagangan dan pendapatan: negara butuh cukup dolar masuk dari suatu tempat buat menutupi yang keluar.
Kalau dua-duanya terjadi bersamaan, kumpulan modal asing yang sama harus menutup dua lubang sekaligus, bukan cuma satu. Kalau investor global tiba-tiba jadi hati-hati soal pasar berkembang karena alasan apa pun, perubahan kebijakan The Fed, sentimen risk-off, atau headline politik dalam negeri, lelang obligasi pemerintah dan stabilitas rupiah bisa sama-sama tertekan bareng, bukan satu jadi bantalan buat yang lain. Itu mekanisme spesifik yang bikin defisit kembar layak dipantau lebih ketat dibanding satu angka saja, bukan prediksi bahwa hal itu bakal pasti terjadi.
Data defisit kembar ini muncul di tengah pergantian pucuk pimpinan bank sentral. Gubernur Perry Warjiyo mengundurkan diri pada 27 Juli 2026, dilaporkan gara-gara perbedaan kebijakan soal likuiditas dengan Menteri Keuangan Purbaya, menurut laporan Bloomberg dan Reuters. Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Plt. Gubernur, resmi dilantik jadi Gubernur Bank Indonesia pada 27 Agustus 2026.
Sehari sebelum pelantikannya, dalam uji kepatutan dan kelayakan di depan Komisi XI DPR pada 26 Agustus, Destry langsung membahas soal melebarnya defisit transaksi berjalan, secara spesifik menyebut defisit neraca jasa sebagai salah satu pendorongnya, menurut laporan CNBC Indonesia dan Antara News dari uji kepatutan itu. Gubernur baru yang masuk persis saat dua defisit sama-sama melebar bukan berarti otomatis jadi risiko dari sisi angka, tapi ini artinya pasar sedang memperhatikan bagaimana kepemimpinan baru merespons tekanan yang dibahas di artikel ini.
Semua ini bukan berarti krisis mata uang sudah di depan mata. Cadangan devisa Indonesia ada di US$145,3 miliar per akhir Juli 2026, menurut Bank Indonesia, cukup buat menutupi 5,5 bulan impor, jauh di atas level 3 bulan yang jadi standar kecukupan internasional. Rupiah ditutup di Rp17.727 per dolar AS pada 1 September 2026 (kurs JISDOR), dan yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun ada di 7,04% per 24 Agustus 2026, dua level yang sebenarnya sudah mencerminkan tekanan dari defisit kembar yang melebar ini, bukan tanda mata uang yang jatuh bebas.
Yang perlu kamu pahami dari defisit kembar ini adalah rupiah, yield obligasi, dan arus modal asing perlu dipantau bareng-bareng, bukan satu-satu, karena kalau ada guncangan selera risiko global, ketiganya kemungkinan besar bakal bergerak bersamaan. Halaman Macro Context NetWort melacak suku bunga acuan Bank Indonesia, kurs rupiah, dan yield 10 tahun berdampingan, diperbarui bareng, jadi kamu bisa lihat apakah pola pergerakannya masih tenang kayak sekarang atau mulai bergerak bareng di bawah tekanan.