IHSG vs Bursa Singapura, Malaysia, dan Thailand: Siapa yang Menang di 2026?
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kalau portofolio saham kamu di IHSG lagi merah sepanjang 2026 ini, mungkin kamu mikir ini masalah global, bukan cuma masalah Indonesia. Wajar sih, soalnya tahun ini pasar di mana-mana memang naik turun terus.
Tapi ternyata, bursa tetangga kita nggak ikut-ikutan turun. Dari awal 2026 sampai akhir Juli, IHSG turun hampir 28%. Di saat yang sama, bursa Singapura naik lebih dari 21%, bursa Thailand naik hampir 29%, dan bursa Malaysia juga naik meski tipis. Ini bukan pasar Asia Tenggara lagi lesu bareng-bareng. Indonesia yang beda sendiri.
Ini perbandingan yang perlu kamu cek sebelum menyimpulkan bahwa masalah IHSG adalah masalah bersama. Tabel di bawah membandingkan return harga (perubahan level indeks saja, belum termasuk dividen) empat indeks saham utama Asia Tenggara, dari penutupan terakhir 2025 sampai penutupan terakhir Juli 2026.
| Indeks | Negara | Penutupan 31 Des 2025 | Penutupan 31 Jul 2026 | Perubahan YTD |
|---|---|---|---|---|
| IHSG | Indonesia | 8.646,94 | 6.236,13 | −27,9% |
| SET Index | Thailand | 1.259,67 | 1.623,64 | +28,9% |
| Straits Times Index (STI) | Singapura | 4.646,21 | 5.628,50 | +21,1% |
| FBM KLCI | Malaysia | 1.680,11 | 1.724,90 | +2,7% |
IHSG: Antara News, penutupan 30 Desember 2025, dan Kompas.com, penutupan 31 Juli 2026. SET Index: laporan resmi Bursa Efek Thailand untuk Desember dan sepanjang 2025, dan rekap pasar Kaohoon International 31 Juli 2026. STI: Securities Investors Association Singapore (SIAS), rekap bulanan Desember 2025 dan SIAS, rekap bulanan Juli 2026. FBM KLCI: The Star, penutupan 31 Desember 2025, dan BusinessToday, penutupan 31 Juli 2026. Persentase perubahan dihitung sendiri dari angka penutupan yang sudah bersumber dan bertanggal ini.
Bahkan Malaysia, yang paling "lesu" dibanding tetangga lain tahun ini, tetap ditutup positif di +2,7%. IHSG malah merah dalam-dalam.
Kalau memang 2026 tahun yang berat buat pasar saham Asia Tenggara secara umum, harusnya SET, STI, dan KLCI juga ikut turun. Nyatanya nggak. Ini nunjukin ada sesuatu yang khusus terjadi di dalam negeri Indonesia, bukan guncangan bareng se-kawasan atau global.
Sebagian cerita ini sudah pernah dibahas di NetWort: krisis rupiah yang dipicu defisit neraca pembayaran, gejolak harga minyak, dan serangkaian kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) untuk menahan pelemahan rupiah. Faktor-faktor ini juga yang bikin IHSG anjlok tajam di awal 2026, seperti sudah dibahas di analisis kami soal hubungan indeks dolar AS (DXY) dan IHSG. Tekanan-tekanan ini nggak dialami tetangga Indonesia dengan cara yang sama.
Semua angka di atas itu perbandingan indeks harga dalam mata uang masing-masing, jadi belum memperhitungkan apa yang terjadi ke rupiah, ringgit, baht, dan dolar Singapura itu sendiri sepanjang periode yang sama.
Khusus buat Indonesia, kalau dihitung pakai dolar AS, hasilnya malah lebih parah. Rupiah melemah dari Rp16.737 per dolar AS pada 31 Desember 2025 (Liputan6) menjadi Rp18.078 per dolar AS pada 31 Juli 2026 (valutafx.com), pelemahan sekitar 8,0%. Kalau ini ditumpuk di atas penurunan IHSG sebesar 27,9% dalam rupiah, investor yang pegang dolar AS dan menaruh uangnya di portofolio Indonesia yang sama sebenarnya rugi sekitar 33% selama periode ini. Angka ini dihitung sendiri dari dua kurs bersumber di atas dan level IHSG di tabel sebelumnya, bukan angka yang dikutip langsung dari satu sumber tunggal.
Tulisan ini tidak menghitung penyesuaian kurs yang sama untuk Thailand, Singapura, dan Malaysia, karena kurs yang konsisten dan bertanggal untuk ketiganya belum bisa dipastikan saat draft ini ditulis. Tapi arah temuannya sudah jelas untuk Indonesia sendiri: gap antara IHSG dan tetangganya, yang sudah lebar dalam mata uang lokal, tidak mengecil begitu pelemahan rupiah ikut dihitung untuk investor asing. Gap-nya justru makin lebar.
Ini bukan berarti saham Indonesia itu investasi jangka panjang yang buruk, atau Thailand dan Singapura bakal terus unggul sepanjang sisa 2026. Level indeks bisa berubah cepat, dan performa kuat tujuh bulan pertama bisa saja berbalik. Tapi satu asumsi yang sering dipakai orang ternyata keliru: bahwa IHSG yang lagi jelek berarti seluruh pasar saham Asia Tenggara ikut jelek. Faktanya nggak begitu. Masalah IHSG di 2026 ini kelihatan seperti masalah domestik, bukan masalah satu kawasan.
Kalau kamu pegang saham Indonesia bareng aset lain di kawasan ini, atau lagi mau cari tahu apakah portofoliomu yang lagi turun itu memang kondisi pasar secara umum atau memang cuma masalah di posisimu sendiri, perbedaan ini penting buat dicek dulu sebelum kamu memutuskan langkah selanjutnya.
Buka halaman Market di NetWort buat lihat pergerakan sektor dan saham IDX hari ini, bukan cuma mengandalkan judul berita "IHSG turun" saja. Bank Central Asia (BBCA), konstituen terbesar di IHSG, adalah salah satu saham yang paling berpengaruh ke naik turunnya indeks; lihat riwayat harganya sendiri di halaman aset BBCA. Bacaan ini cocok dilanjutkan dengan cara menilai apakah return portofoliomu sebenarnya bagus atau tidak, pertanyaan benchmark yang sama, cuma di artikel ini diterapkan ke satu kawasan sekaligus.