Dolar Menguat, IHSG Pasti Turun? Ini Data Korelasi DXY dan IHSG Sebenarnya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu mungkin pernah dengar anggapan ini: kalau dolar AS menguat, pasar saham negara berkembang seperti Indonesia pasti melemah. Kedengarannya masuk akal. Uang mengejar mata uang yang lebih kuat, dana asing kabur dari Jakarta, IHSG pun turun.
Coba cek angka aslinya dari delapan bulan terakhir, ceritanya tidak sesederhana itu. Akhir Januari 2026, US Dollar Index (DXY), indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, anjlok ke titik terendah dalam 4 tahun, sekitar 95,91. Tapi IHSG waktu itu bukannya naik gara-gara dolar lemah. IHSG justru sedang di tengah periode terburuknya dalam bertahun-tahun, menuju titik terendah lima bulan kemudian. Korelasi DXY dan IHSG, dengan kata lain, tidak selalu bergerak sesuai anggapan umum itu.
Logika di balik aturan ini sebenarnya nyata, cuma tidak lengkap. Ketika dolar menguat, aset-aset di AS jadi relatif lebih menarik imbal hasilnya, dan investor asing sering menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia untuk mengejar return itu, sambil melepas saham lokal dan rupiah. Ketika dolar melemah, arus ini bisa berbalik: uang mencari yield lebih tinggi di tempat lain, sebagian kembali ke pasar seperti IHSG.
Mekanisme itu memang nyata. Cuma bukan satu-satunya hal yang menggerakkan IHSG, dan di 2026 ini bahkan bukan faktor utamanya.
Mulai dari periode di mana cerita di buku teks itu cocok. IHSG menyentuh titik terendah 5.317 poin pada 8 Juni 2026, ujung dari penurunan sekitar 35% selama enam bulan sebelumnya. Sejak itu, IHSG naik lagi ke 6.258 pada 4 Agustus 2026, naik 5,77% cuma dalam sebulan terakhir, meski masih 16,73% di bawah posisi setahun sebelumnya.
Di periode yang sama, DXY justru bergerak ke arah berlawanan. Indeks ini sempat memuncak di kisaran 101,3 sampai 101,4 akhir Juni 2026, melandai ke sekitar 100,6 pada 20 Juli setelah data inflasi AS keluar lebih rendah dari perkiraan sehingga alasan dolar menguat lagi jadi berkurang, dan terus turun lagi ke 99,97 pada 4 Agustus, level terendahnya dalam sekitar tujuh minggu.
Dolar turun, IHSG naik. Ini contoh di mana aturannya benar-benar berjalan sesuai anggapan, dan enam minggu inilah yang biasanya ditunjukkan orang kalau diminta membuktikan korelasinya.
Sekarang lihat lima bulan sebelum pemulihan itu, dan polanya justru terbalik.
| Tanggal | DXY (indeks dolar) | IHSG | USD/IDR |
|---|---|---|---|
| 29 Jan 2026 | ~95,91, terendah 4 tahun | Sedang dalam penurunan ~35% selama enam bulan | Terus melemah |
| 8 Jun 2026 | Mulai pulih, kembali di atas 100 | 5.317, titik terendah | Rp 18.100, rekor terlemah rupiah |
| 22 Jul 2026 | ~100,6 | Mulai pulih | Rp 17.917 |
| 4 Aug 2026 | 99,97 | 6.258, naik 5,77% sebulan | ~Rp 18.000 sampai 18.040 |
Dolar menghabiskan akhir 2025 sampai Januari 2026 dengan terus melemah ke level terendahnya dalam empat tahun, dipicu terutama oleh kekhawatiran soal ekonomi AS sendiri, mulai dari pertumbuhan, inflasi, sampai utang negara, bukan karena apa pun yang terjadi di Indonesia. Kalau aturan "dolar kuat, IHSG lemah" itu selalu berlaku, dolar yang selemah itu seharusnya jadi angin segar buat dana yang masuk ke pasar seperti IHSG. Kenyataannya, IHSG justru sedang di fase paling curam dari penurunan enam bulannya menuju titik terendah Juni.
Selama kurang lebih dua bulan, dolar yang melemah dan IHSG yang jatuh bergerak searah, bukan berlawanan. Korelasi yang diprediksi aturan itu, sederhananya, tidak muncul di periode ini.
Kalau bukan dolar, lalu apa penyebabnya? Penurunan IHSG menuju titik terendah Juni itu mengikuti krisis rupiah yang penyebabnya sebagian besar dari dalam negeri: defisit neraca pembayaran yang lebar di kuartal pertama 2026, guncangan harga minyak akibat konflik AS-Israel-Iran yang mendorong harga minyak mentah ke sekitar 95 dolar per barel, sekitar 50% lebih tinggi dibanding setahun sebelumnya, dan Bank Indonesia yang buru-buru mempertahankan nilai tukar lewat kenaikan suku bunga darurat di luar jadwal ke 5,50% pada 9 Juni, disusul kenaikan terjadwal ke 5,75% pada 18 Juni. Kami sudah membahas bagaimana jalur suku bunga itu memengaruhi USD/IDR lebih detail di artikel soal arah suku bunga The Fed dan rupiah.
Semua itu tidak butuh dolar yang kuat untuk terjadi. Yang dibutuhkan adalah tekanan yang spesifik ke rupiah, dan itu hal yang berbeda dari pergerakan DXY. Arah dolar di periode yang sama justru, kalau ada pengaruhnya, malah melawan tren jatuhnya IHSG, bukan menyebabkannya.
Kesimpulannya bukan berarti dolar tidak relevan buat IHSG. Kesimpulannya, DXY cuma salah satu faktor dari beberapa faktor, dan di periode saat neraca pembayaran, inflasi, dan kebijakan suku bunga Indonesia sendiri lagi tertekan, faktor-faktor domestik itu bisa mengalahkan apa pun yang sedang terjadi pada dolar secara global. Kalau kamu cuma memantau DXY dan menganggap itu bisa menunjukkan arah IHSG, kamu bakal dapat sinyal yang salah selama dua bulan di tahun ini.
Cara membaca yang lebih bisa diandalkan adalah memantau langsung rupiah bersamaan dengan BI rate, karena keduanya bergerak langsung mengikuti tekanan yang spesifik ke Indonesia, bukan menebaknya lewat indeks dolar global. Halaman Macro Context di NetWort menampilkan BI rate, kurs USD/IDR, dan indeks dolar berdampingan, diperbarui bersamaan, jadi kamu bisa lihat apakah pergerakan IHSG minggu ini sejalan dengan penguatan dolar global, kebijakan suku bunga domestik, atau keduanya sekaligus, bukan asal menganggap penyebabnya selalu satu hal saja.