Reksa Dana yang Ngalahin Benchmark 8% Sekali Doang Sama yang Ngalahin 2% Lima Tahun Berturut-Turut Itu Nggak Sama Levelnya. Information Ratio yang Nunjukkin Bedanya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Bayangin dua reksa dana. Reksa Dana X ngalahin benchmarknya 8% dalam satu tahun yang luar biasa, terus malah kalah dari benchmark itu di tiga dari empat tahun berikutnya. Reksa Dana Y nggak pernah punya tahun yang wah. Dia cuma ngalahin benchmarknya sekitar 2% tiap tahun, lima tahun berturut-turut. Mana yang manajernya lebih jago? Information ratio adalah angka yang dibikin buat jawab pertanyaan itu, dan jawabannya nggak selalu sesuai sama tebakan kamu.
Information ratio membagi active return sebuah portofolio, seberapa besar dia ngalahin benchmarknya, dengan tracking error-nya, seberapa liar selisih itu naik-turun dari periode ke periode.
(Return portofolio − Return benchmark) ÷ Tracking error
Active return itu bagian yang gampang. Ambil return asli portofolio, kurangin return benchmarknya di periode yang sama, selisih itulah active return-nya.
Tracking error itu bagian yang ngubah segalanya. Ini standar deviasi dari selisih itu, dihitung dari banyak periode, biasanya tahunan. Manajer yang active return-nya konsisten sekitar +2% hampir tiap tahun punya tracking error kecil. Manajer yang active return-nya lompat-lompat dari +8% ke -3% terus ke +6% punya tracking error gede, meskipun rata-ratanya bisa jadi sama persis.
Nah, itu inti dari rasio ini. Dua manajer bisa punya rata-rata active return yang identik tapi information ratio-nya beda jauh, karena rasio ini sebenarnya ngukur seberapa bisa diulang keunggulan itu, bukan seberapa gede keunggulannya di satu tahun tertentu.
Information ratio, dan alasan kenapa konsistensi dihargai sebesar ini, berasal dari buku Richard Grinold dan Ronald Kahn tahun 1994, Active Portfolio Management, yang belakangan diformalkan jadi "fundamental law of active management" (hukum dasar manajemen aktif). Argumen mereka: skill asli seorang manajer, yang mereka sebut information coefficient, baru keliatan jelas kalau kamu juga ngitung seberapa sering skill itu punya kesempatan buat dipakai, yang mereka sebut breadth, jumlah keputusan independen yang diambil dalam setahun. Manajer yang bener sekali doang lewat satu keputusan besar setahun lebih susah dipercaya dibanding manajer yang bener berkali-kali lewat keputusan-keputusan kecil, dan information ratio adalah angka yang ngasih nilai lebih ke tipe manajer yang kedua.
Ini active return, yaitu return reksa dana dikurangi return benchmarknya, selama lima tahun buat masing-masing reksa dana.
| Reksa Dana X | Reksa Dana Y | |
|---|---|---|
| Tahun 1 | +8% | +3% |
| Tahun 2 | -2% | +1% |
| Tahun 3 | +1% | +2,5% |
| Tahun 4 | -3% | +1,5% |
| Tahun 5 | +6% | +2% |
| Rata-rata active return | 2,0% | 2,0% |
| Tracking error | 4,8% | 0,8% |
| Information ratio | 0,41 | 2,53 |
Dua-duanya sama-sama ngalahin benchmarknya rata-rata 2% per tahun. Kalau dilihat dari grafik return kumulatif lima tahun, keduanya bakal keliatan mirip banget. Tapi Reksa Dana X nyampe ke sana lewat satu tahun gede yang nanggung sebagian besar kerjaan, ditambah dua tahun rugi yang narik ke bawah, sementara active return Reksa Dana Y nyaris nggak bergerak dari tahun ke tahun. Karena dibagi tracking error yang jauh lebih kecil, information ratio Reksa Dana Y jadi lebih dari enam kali lipat Reksa Dana X.
Nggak ada batas resmi tunggal, tapi evaluator reksa dana dan konsultan institusional biasanya pakai rentang kayak gini.
Di bawah 0,4. Biasa aja. Active return-nya belum cukup bisa diandalkan, dibanding seberapa liar dia naik-turun, buat disebut skill dan bukan sekadar kebetulan.
Antara 0,4 dan 1,0. Solid sampai kuat. Dianggap luas sebagai bukti skill manajer yang nyata dan bisa diulang, dengan bagian atas rentang ini dianggap hasil yang sangat bagus.
Di atas 1,0. Langka. Kebanyakan reksa dana yang bisa jaga angka ini sepanjang satu siklus pasar penuh, bukan cuma satu periode beruntung, dianggap manajer aktif yang luar biasa.
Information ratio butuh data beberapa tahun dulu baru berarti. Satu tahun bagus banget, atau satu tahun jelek banget, bisa bikin angkanya loncat drastis, dan itu justru jebakan yang mau dihindari rasio ini kalau dibaca dalam jangka waktu yang tepat.
Information ratio cuma sebagus benchmark yang dipakai buat ngukurnya. Bandingin reksa dana sama benchmark yang sebenarnya nggak mirip sama isi portofolionya, dan "active return" yang keluar sebagian cuma karena reksa dana itu ngelakuin sesuatu yang beda total, bukan skill. Selalu cek dulu apa benchmark itu emang yang mau dikalahin reksa dana itu, bukan indeks yang dipilih belakangan biar keliatan bagus.
Dia juga mewarisi batasan yang sama kayak semua rasio risiko yang lihat ke belakang. Information ratio yang tinggi cuma cerita apa yang udah kejadian. Nggak ada jaminan keunggulan manajernya, atau keberuntungannya, bakal lanjut ke depan.
Kalau kamu punya reksa dana saham aktif, fund fact sheet atau laporan tahunannya harusnya nunjukkin benchmark yang dipakai dan return historisnya dibanding benchmark itu. Dari situ, active return tiap tahun tinggal pengurangan, dan tracking error-nya tinggal hitung standar deviasi dari kumpulan active return itu, dua bahan dasar yang sama kayak yang dipakai buat active weight, yang ngukur seberapa jauh reksa dana menyimpang dari posisi benchmarknya, bukan dari returnnya.
NetWort ngelacak return portofolio kamu sendiri dibanding benchmark pilihanmu secara otomatis, dasar transaksi asli yang sama kayak yang dipakai buat Sortino ratio dan semua metrik risiko lain di dashboard kamu, jadi kamu nggak perlu rekonstruksi active return manual dari fact sheet.
Buka bagian Portfolio Health di dashboard kamu terus bandingin return portofoliomu sama benchmark selama beberapa tahun, bukan cuma satu. Caranya sama aja mau benchmarknya IHSG, S&P 500, atau indeks obligasi, dan kamu bisa cek kondisi semua benchmark itu sekarang di halaman ringkasan pasar. Satu tahun bagus nggak ngasih tau banyak. Selisih yang stabil dan panjang itu yang layak diperhatiin.