Jam Tangan Vintage Dijual Sebagai Kelas Aset di Indonesia. Ini Kata Data Jual Kembalinya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Iklan jam tangan vintage jarang bilang "beli karena kamu suka." Yang ditawarkan biasanya lebih besar: ini investasi jam vintage, aset yang nilainya naik, sama seperti saham atau obligasi. Angka pertumbuhan di balik klaim itu memang nyata. Yang jarang ditunjukkan adalah apa yang benar-benar terjadi saat kamu coba jual jam itu lagi jadi uang tunai. Selisih antara iklan dan data jual kembali itulah yang dibahas di artikel ini.
Di dunia jual beli jam bekas, dealer biasanya membagi jam ke tiga kelompok: vintage (dibuat sebelum 1990), neo-vintage (1990 sampai 2004), dan modern (2005 ke atas), pembagian yang dipakai beberapa media jam tangan spesialis saat membahas pertumbuhan pasar jam bekas belakangan ini. Label vintage laku dijual karena membawa kesan langka: referensi yang sudah dihentikan produksinya, detail desain yang tidak dibuat lagi, cerita yang menempel di satu dekade tertentu. Cerita itulah yang lalu dijual sebagai "investment grade."
Laporan Deloitte sendiri edisi Desember 2024, "Swiss Watch Industry Insights 2024: Spotlight on the Pre-Owned Market," menemukan penjualan jam neo-vintage naik 123% sejak 2023, melampaui jam modern, dan seperlima konsumen yang disurvei berencana beli jam bekas di tahun 2024, kira-kira dua kali lipat dari yang bilang begitu di tahun 2020. Proyeksi Deloitte sendiri memperkirakan pasar jam bekas akan sebesar pasar jam baru dalam waktu kira-kira sepuluh tahun. Beberapa analis industri malah lebih optimis lagi, salah satunya (LuxeConsult, dilaporkan Bloomberg) memperkirakan pasar jam bekas bisa mencapai sekitar US$85 miliar pada 2033. Angka itu belum bisa dicocokkan dengan proyeksi Deloitte sendiri yang lebih hati-hati, jadi anggap saja sebagai satu estimasi optimis dari pihak luar, bukan angka yang sudah pasti.
Pertumbuhan jumlah penjualan itu beda dengan pertumbuhan harga. Data harga Deloitte sendiri menunjukkan pasar jam bekas secara keseluruhan mencapai puncaknya pada Maret 2022, lalu turun 16,4% selama dua tahun berikutnya sebelum stabil sepanjang 2024. Terpisah dari itu, Overall Market Index milik WatchCharts, yang melacak harga jual kembali di pasar jam bekas, naik 4,9% sepanjang tahun 2025, sebuah pemulihan setelah turun di 2023 dan 2024, data diambil 2026-08-22. Segelintir referensi tertentu, kebanyakan dari Rolex, Patek Philippe, dan Audemars Piguet, yang mendorong sebagian besar kenaikan itu. Sebagian besar jam yang beredar di pasar, termasuk yang vintage, masih diperdagangkan di bawah harga retail aslinya, bukan di atasnya.
Jam modern yang dibeli baru datang dengan nota, kartu garansi, dan makin sering, sertifikat digital. Jam vintage yang dibeli puluhan tahun setelah keluar dari pabrik biasanya tidak punya semua itu, dan risiko keaslian inilah yang jadi beda paling praktis antara jam vintage dengan hampir semua aset lain yang kamu catat di NetWort.
Dua pembeli profesional sudah mempublikasikan seberapa sering ini terjadi. Laporan Bezel sendiri, 2024 Watch Market Insights, yang meliputi sekitar US$700 juta nilai jam yang diajukan untuk dijual, menemukan mereka menolak 29% jam yang coba dijual penjualnya di tahun 2024, naik dari 23% di tahun 2023, dengan Rolex (37% dari penolakan) dan Tag Heuer (34%) yang paling sering dipalsukan. CEO Watchfinder, Arjen van de Vall, bilang ke Bloomberg pada Juli 2023 bahwa sampai 10% jam yang diterima perusahaan dari penjual ternyata palsu, dan hanya sekitar 20% jam palsu kelas atas sekarang yang masih bisa dikenali dengan mata telanjang, turun dari sekitar 80% beberapa tahun sebelumnya.
Untuk pemilik jam di Indonesia, ada dua jalur nyata, dan cara kerjanya beda jauh.
IDWX (Indonesia Watch Exchange), marketplace berbasis Jakarta, menjalankan layanan titip jual dengan komisi cuma 2% dari harga jual akhir: jam yang laku di harga Rp100.000.000 membuat pemiliknya menerima Rp98.000.000. Menurut halaman layanan IDWX sendiri, rata-rata waktu jual jam lewat titip jual ini satu sampai dua minggu, kadang lebih cepat, lewat jaringan pembeli mereka. Itu penjualan asli, dengan harga mendekati harga pasar penuh, begitu pembelinya ketemu.
Lesca Gadai Premier, perusahaan gadai swasta yang berbeda dari Pegadaian milik negara, menawarkan jalur yang beda: pinjaman dengan jaminan, bukan penjualan. Menurut ketentuan mereka sendiri, kamu bisa dapat pinjaman sampai 95% dari nilai taksiran jam, tergantung kelengkapan kotak, kartu, dan kondisi jamnya, dengan bunga mulai dari 2% per bulan, tanpa denda kalau dilunasi lebih cepat. Mereka menerima sekitar 29 merek jam mewah dan mengasuransikan setiap jam yang dititipkan. Cara ini bikin kamu dapat uang cepat tanpa harus lepas kepemilikan jamnya, tapi ini pinjaman dengan jaminan jam itu, bukan penjualan, dan proses taksirannya sendiri tetap bergantung pada pemeriksaan keaslian seperti yang dijelaskan di atas.
Jawaban jujurnya, itu tergantung sepenuhnya pada jam yang mana, kondisinya seperti apa, kelengkapan dokumennya bagaimana, dan dijual lewat jalur apa, dan semua itu tidak bisa kamu ketahui hanya dari judul iklan soal penjualan neo-vintage naik 123%. Angka pertumbuhan penjualan dan ukuran pasar di iklan itu memang nyata. Begitu juga penurunan harga, tingkat penolakan, dan beda antara pinjaman dan penjualan di atas. Jam vintage bisa jadi barang koleksi yang sungguhan berharga. Tapi apakah dia berperilaku seperti aset finansial yang bisa diandalkan, itu pertanyaan lain yang tidak dijawab begitu saja oleh data ini.
Kalau jam vintage sudah tercatat di portofolio kamu sebagai manual asset, catat harganya secara jujur, jangan pakai harga jual yang optimis. Di halaman Holdings NetWort, kategori Luxury Goods punya sub-kategori Collectible, yang secara langsung menyebut Rolex sebagai contohnya, dengan asumsi kenaikan +5% per tahun, sementara sub-kategori Standard punya asumsi -15% per tahun. Jam yang jelas dokumennya, sudah diverifikasi keasliannya, dan aktif diperdagangkan, wajar dicatat di Collectible. Jam yang dokumennya kurang jelas atau riwayat keasliannya belum pasti, lebih jujur dicatat di Standard sampai itu terselesaikan.
Selisih antara harga yang ditawarkan dan uang tunai yang benar-benar kamu terima juga muncul di aset fisik lain. Artikel kami soal barang koleksi dan risiko likuiditasnya membahas spread dealer dan biaya lelang untuk jam dan barang koleksi lain secara lebih luas, dan artikel soal nilai jual kembali berlian dibanding harga retailnya membahas masalah markup retail yang serupa pada aset fisik lain.