Satu Prangko Langka Laku Jutaan Dolar. Kebanyakan Koleksi Prangko Malah Lebih Murah dari Albumnya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Prangko termahal yang pernah tercatat di Indonesia harganya sekitar Rp5 miliar, per satu lembar. Prangko itu adalah prangko Hindia Belanda 10 sen bergambar Ratu Wilhelmina, dicetak tindih dua kali (sekali sama Angkatan Darat Pendudukan Jepang, sekali lagi warna hitam sama Pemerintah Republik Indonesia), dan dipakai buat kirim surat di Sumatera tahun 1946. Cuma dua lembar yang diketahui masih ada sampai sekarang, menurut Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), organisasi filateli nasional, kayak dilaporin Kompas.com. Filateli sendiri artinya hobi dan studi soal prangko, mulai dari ngumpulin sampe niliai keasliannya. Gampang banget baca angka Rp5 miliar terus mikir album prangko lama di rumah pasti berharga juga. Buat hampir semua koleksi, dugaan itu salah. Begitu didatangin ke dealer beneran, kebanyakan koleksi prangko malah lebih murah dari harga album yang nyimpennya.
Jawaban jujurnya: tergantung prangko yang mana, dan umur doang nggak ngasih tau nilainya sama sekali. Prangko kebagi jadi tiga tingkatan, dan jaraknya jauh banget, bukan cuma beda dikit:
Sisa artikel ini bahas satu contoh nyata di tiap tingkatan, biar jaraknya kelihatan konkret.
Prangko Wilhelmina di atas masuk tingkatan ini karena cuma dua lembar yang diketahui masih ada. Indonesia juga punya cerita lain di tingkatan yang sama: prangko pertama Hindia Belanda, dicetak tahun 1864 bergambar Raja Willem III, dihargai sampai Rp1,6 miliar, menurut Sekretaris Jenderal PFI, kayak dilaporin Kompas.com di artikel yang sama. Di luar negeri, contoh paling terkenal adalah British Guiana One-Cent Magenta, prangko tahun 1856 yang cuma tersisa satu lembar di seluruh dunia. Desainer sepatu Stuart Weitzman beli prangko itu tahun 2014 seharga US$9,5 juta (sekitar Rp169 miliar dengan kurs sekarang), terus dijual lagi tahun 2021 seharga US$8.307.000 (sekitar Rp147,9 miliar) ke dealer prangko Stanley Gibbons (NPR).
Contoh yang sering disebut kolektor internasional buat tingkatan ini adalah "Inverted Jenny," prangko Amerika Serikat tahun 1918 yang gambar pesawatnya kecetak kebalik gara-gara kesalahan cetak. Cuma ada satu lembar penuh isi 100 prangko yang ditemukan, dan semuanya udah dilacak satu-satu sampai sekarang. Harganya beda-beda jauh tergantung kondisi fisik tiap lembar: satu contoh yang kondisinya rapi banget laku US$1.351.250 (sekitar Rp24 miliar) tahun 2016, sementara satu contoh lain yang kondisinya lebih bagus lagi laku US$2.006.000 (sekitar Rp35,7 miliar) bulan November 2023, jadi rekor harga prangko tunggal Amerika Serikat waktu itu. Tujuh bulan kemudian, Juni 2024, rekor itu kepecahin lagi sama prangko lain, "Z-Grill," yang laku US$4.366.000 (sekitar Rp77,7 miliar), lewat lelang Siegel Auction Galleries (NPR, Fox Business). Seratus lembar itu bukan satu-satunya di dunia, tapi cukup langka dan cukup terkenal sampai contoh yang kondisinya biasa aja tetap laku ratusan juta sampai miliaran rupiah.
Sekarang ke tingkatan yang beneran berlaku buat hampir semua koleksi yang ada, termasuk koleksi warisan keluarga. Gita Noviandi, Sekretaris Jenderal PFI, pernah cerita ke Kompas.com kalau dia pernah jual lima lembar prangko sekaligus seharga Rp580 juta, dan rumahnya di Bandung dibeli dari hasil dagang prangko. Tapi cerita itu soal lima prangko pilihan setelah puluhan tahun jadi filatelis, bukan gambaran koleksi rata-rata.
American Philatelic Society, organisasi filateli terbesar di Amerika Serikat, kasih panduan kalau koleksi baru layak dijual lewat dealer atau rumah lelang setelah nilainya lewat sekitar US$500 (sekitar Rp8,9 juta). Di bawah itu, saran mereka malah disumbangin ke klub filateli atau dikasih ke kolektor pemula, karena biaya penilaian resmi bisa lebih mahal dari harga jual prangkonya sendiri. Alasannya, isi kebanyakan album warisan itu prangko umum: prangko definitif dan peringatan pertengahan abad ke-20 yang dicetak ratusan juta lembar dan jumlahnya masih banyak banget sampai sekarang. Beberapa panduan dealer sepakat di kisaran yang sama soal berapa yang beneran dibayar buat prangko kayak gitu: sekitar 5% sampai 30% dari harga di katalog prangko, dan dealer sering beli prangko umum secara borongan, ditimbang per kilogram, bukan dihitung satu-satu. Album Scott National, album referensi standar yang dipakai kolektor Amerika Serikat, harganya baru sekitar US$50 sampai US$60 (sekitar Rp890 ribu sampai Rp1,07 juta). Banyak koleksi yang ngisi satu album itu, begitu beneran dinilai, harganya malah di bawah harga albumnya sendiri.
Di ketiga tingkatan itu, tiga faktor yang sama nentuin prangko itu masuk tingkatan mana:
Umur doang nggak ada di daftar itu. Itu inti dari seluruh perbandingan di artikel ini.
Koleksi prangko itu aset yang nyata, dan di halaman Holdings NetWort, koleksi ini masuk kategori Luxury Goods (Barang Mewah), kebagi dua cara yang sama kayak tas branded atau gitar vintage: Standard, yang defaultnya -15% per tahun, dan Collectible, yang defaultnya +5% per tahun. Dua angka default itu nggak dirancang khusus buat prangko. Ngeliat jarak harga yang gede banget di atas, antara prangko umum dan prangko yang kesisa satu-dua lembar doang, angka default itu cuma titik awal yang harus kamu ganti pakai angka hasil penilaian sendiri, atau dibiarin kosong sampai kamu punya taksiran nyata buat prangko spesifik kamu.
Buat pola yang sama di kategori barang koleksi lain, bahasan kami soal harga gitar vintage ngebahas kenapa segelintir barang yang punya riwayat jelas dan terdokumentasi nentuin hampir semua harga tertinggi, sementara sisanya jalan bareng pasar barang bekas biasa.