Populasi Superkaya Indonesia Diproyeksikan Naik Tercepat di Dunia. Ini Datanya.
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Gary Stevenson besar di keluarga kelas pekerja di Ilford, London Timur, dan menurut ceritanya sendiri sempat dikeluarkan dari sekolah sebelum akhirnya masuk London School of Economics tahun 2005. Tahun 2007 dia memenangkan kompetisi rekrutmen Citibank bernama The Trading Game, simulasi trading berbasis kartu, yang membawanya ke posisi penuh waktu di meja suku bunga Citibank tahun 2008, tepat saat krisis finansial global meletus. Menurut pengakuannya, dia jadi trader paling profitable di bank itu, menghasilkan sekitar 12 juta dolar AS hanya di tahun pertama.
Yang membuat ceritanya menarik bukan cuma soal trading. Tapi soal apa yang dia lihat, dan apa yang dia lakukan setelah itu.
Setelah krisis 2008, konsensus umum di kalangan ekonom bilang suku bunga akan kembali ke level normal 4-5% dalam beberapa tahun begitu quantitative easing (QE) bekerja dan ekonomi pulih. Stevenson bertaruh sebaliknya, berulang kali, selama bertahun-tahun.
Argumennya membagi ekonomi jadi dua kelompok. Kebanyakan rumah tangga membelanjakan hampir semua penghasilan mereka untuk kebutuhan pokok, jadi begitu upah stagnan, tidak ada sisa uang yang bisa menggerakkan pemulihan lewat belanja. Rumah tangga kaya sebaliknya, secara fisik tidak bisa membelanjakan rezeki sebesar itu untuk konsumsi, jadi uang yang diciptakan bank sentral mengalir ke pembelian aset finansial: properti, saham, obligasi, yang mendorong harga aset naik tanpa banyak berdampak ke upah atau belanja masyarakat.
Cerita Stevenson soal Inggris ada padanannya di Indonesia, dan datanya baru saja keluar. The Wealth Report 2026 dari Knight Frank memproyeksikan populasi orang superkaya Indonesia, dengan kekayaan bersih di atas 30 juta dolar AS, akan tumbuh 81,7% dari 3.833 orang di 2026 menjadi 6.966 orang di 2031. Ini pertumbuhan tercepat di dunia untuk kategori itu, mengalahkan Arab Saudi dan Polandia. Populasi miliarder Indonesia sendiri diproyeksikan naik dari 33 orang jadi 49 orang di periode yang sama.
| Kategori | 2026 | Proyeksi 2031 | Pertumbuhan |
|---|---|---|---|
| Kekayaan bersih di atas US$30 juta | 3.833 orang | 6.966 orang | +81,7% |
| Miliarder (net worth US$1 miliar+) | 33 orang | 49 orang | +49% |
Di sisi lain, angka kemiskinan Indonesia tergantung standar mana yang dipakai, dan perbedaannya besar. Bank Dunia merevisi garis kemiskinan globalnya tahun 2025: dengan standar untuk negara berpendapatan menengah-atas (kategori Indonesia sekarang), yaitu US$8,30 per hari, 68,3% penduduk Indonesia masuk kategori miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri, memakai garis kemiskinan nasional, mencatat angka 8,57% per September 2024. Keduanya angka resmi dan sama-sama benar, hanya mengukur hal yang berbeda: standar Bank Dunia yang baru mengikuti kenaikan level pendapatan Indonesia secara global, bukan berarti kemiskinan tiba-tiba melonjak drastis dalam semalam.
Oxfam Indonesia dan beberapa organisasi masyarakat sipil sudah lama mengkritik sistem pajak Indonesia karena belum punya pajak kekayaan (wealth tax) untuk kelompok super kaya. Lembaga think tank PRAKARSA pernah mengusulkan tarif sekitar 2% dari total aset bersih untuk kelompok ultra kaya. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sendiri, lewat publikasi resminya, sudah membuka diskusi publik soal kalibrasi tarif pajak untuk "orang super kaya", tanda bahwa ini bukan lagi wacana pinggiran.
Solusi yang diusulkan Stevenson di Inggris adalah pajak langsung atas kekayaan bersih di atas ambang batas tertentu. Tahun 2021 dia jadi salah satu dari sekitar 30 miliarder Inggris yang menandatangani surat terbuka ke Menteri Keuangan saat itu, mengusulkan pajak untuk kekayaan di atas £10 juta.
Terlepas dari siapa yang benar dalam perdebatan itu, pembedaan yang dia tekankan, antara penghasilan dan kekayaan yang terkumpul, tetap berguna dipahami apa pun posisi politikmu. Bank sentral memantau pembedaan ini persis saat menentukan kebijakan suku bunga: NetWort melacak suku bunga acuan saat ini dan delapan indikator makro lain yang menentukan ke mana uang murah sebenarnya mengalir, ke upah atau ke harga aset.
Pengamatan inti Stevenson, bahwa kebanyakan orang hafal gaji bulanan mereka tapi jarang menghitung berapa sebenarnya yang mereka miliki dikurangi yang mereka utang, tetap relevan terlepas dari setuju atau tidak dengan usulan pajaknya. Net worth-mu, bukan penghasilanmu, adalah angka yang benar-benar menunjukkan apakah pergerakan harga aset menguntungkan atau merugikanmu.