Kekayaan Franky Widjaja: Angka $28,3 Miliar Itu Punya Satu Keluarga, Bukan Cuma Dia
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kalau kamu pegang saham DSSA (Dian Swastatika Sentosa) di 2026, kamu tahu rasanya melihat saham anjlok 89% dalam beberapa bulan gara-gara dicoret dari indeks global, bukan karena bisnisnya rugi. Saham itu juga yang jadi mesin utama di balik salah satu angka kekayaan Franky Widjaja yang paling sering dikutip: Forbes menempatkan keluarga Widjaja di angka $28,3 miliar per 10 Desember 2025, kenaikan dolar terbesar di seluruh daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" tahun itu. Tapi angka itu untuk seluruh keluarga Widjaja, empat bersaudara, bukan untuk Franky sendiri. Dia yang pegang kendali di Golden Agri-Resources (sawit) dan belakangan juga di bisnis telekomunikasi keluarga.
Forbes, lewat daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" yang terbit 10 Desember 2025, menempatkan keluarga Widjaja di $28,3 miliar, peringkat ketiga nasional, dan mencatatnya sebagai kenaikan dolar terbesar di seluruh daftar tahun itu, naik $9,4 miliar. Forbes sendiri menyebut kenaikan itu terutama didorong oleh saham Dian Swastatika Sentosa (DSSA), yang disebut sebagai "flagship" energi dan infrastruktur keluarga, yang harganya lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025.
Angka itu untuk keluarga, bukan satu orang. Sinar Mas, dirintis Eka Tjipta Widjaja sebelum ia meninggal pada 2019, sekarang dibagi ke empat putra tertuanya: Teguh Ganda Wijaya memegang lini kertas dan pulp, Indra Widjaja mengurus investasi, jasa keuangan, dan tambang, Muktar memimpin bisnis properti, dan Franky mengendalikan agribisnis, pangan, serta belakangan telekomunikasi dan teknologi. Tidak ada angka Forbes atau Bloomberg bertanggal yang secara khusus menyebut porsi pribadi Franky dari $28,3 miliar itu untuk artikel ini. Menyebut total keluarga sebagai kekayaan pribadi satu orang akan melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dilaporkan.
| Perusahaan | Sektor | Bursa | Peran Franky |
|---|---|---|---|
| Golden Agri-Resources | Sawit | SGX (Singapura) | Chairman dan CEO sejak 1996 |
Dian Swastatika Sentosa (DSSA) | Energi, infrastruktur, solar | IDX (Indonesia) | Flagship keluarga, bukan unit pribadinya |
| XLSmart (merger XL Axiata + Smartfren) | Telekomunikasi | IDX (Indonesia) | Chairman Sinar Mas Telecommunication and Technology |
| Sinarmas Land | Properti | Ditarik dari SGX (go private) 2025 | Dikuasai keluarga, lini Muktar |
Golden Agri-Resources adalah bagian kerajaan bisnis yang paling melekat pada nama Franky, ia menjabat chairman sekaligus CEO sejak 1996. DSSA justru disebut Forbes sendiri sebagai flagship bersama keluarga, entitas yang kenaikan harga sahamnya sepanjang 2025 mendorong angka rekor $28,3 miliar itu. Baik DSSA maupun Golden Agri-Resources tidak masuk dalam daftar ticker terkurasi NetWort, jadi tidak ada tautan aset internal untuk keduanya di sini.
Terpisah dari itu, Sinar Mas menuntaskan merger XL Axiata dan Smartfren senilai $6,5 miliar menjadi XLSmart pada 2025, dengan Sinar Mas dan Axiata masing-masing memegang 34,8% saham pengendali bersama, menurut keterbukaan informasi perusahaan saat itu. Franky menjabat chairman unit telekomunikasi dan teknologi Sinar Mas, dan secara terbuka menargetkan laba $1,5 miliar untuk operator gabungan itu.
Mekanisme di balik angka Desember 2025 justru berubah jadi cerita jauh lebih besar di 2026. Forbes mengaitkan sebagian besar kenaikan $9,4 miliar keluarga dengan harga DSSA yang lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025. Lalu, dalam kajian Mei 2026, MSCI mencoret DSSA dari Global Standard Indexes-nya, dan FTSE Russell mengeluarkannya dari indeks Large Cap efektif 22 Juni 2026, keduanya beralasan konsentrasi kepemilikan saham yang terlalu tinggi alias free float yang terlalu tipis. Aksi jual paksa yang menyusul sangat dalam: DSSA ditutup di Rp432 per saham (sudah disesuaikan stock split) pada 26 Mei 2026, anjlok 89,03% sejak awal tahun, menurut pemberitaan Wartaekonomi dan Kompas saat itu. Saham ini sejak itu perlahan pulih, diperdagangkan di sekitar Rp1.180 per 5 September 2026 menurut stockanalysis.com, masih jauh dari puncak reli 2025.
Di luar DSSA, bisnis milik Franky sendiri, Golden Agri-Resources, justru mencatat tahun yang lebih kuat: pendapatan semester I 2026 rekor sebesar $6,60 miliar, diumumkan 14 Agustus 2026, ditopang harga CPO rata-rata $1.178 per ton dari $1.090 setahun sebelumnya, dengan laba bersih $167 juta, menurut hasil resmi perusahaan.
Empat bersaudara, setidaknya empat kelompok usaha terpisah, dan dua bursa saham membuat kekayaan keluarga Widjaja termasuk salah satu yang paling sulit dipatok ke satu orang dalam seri ini, dan cara Forbes sendiri membingkainya sebagai total keluarga justru mencerminkan kesulitan itu, bukan menyelesaikannya. Ayunan DSSA, dari lebih dua kali lipat pada 2025 ke anjlok 89% pada akhir Mei 2026 gara-gara keputusan komite indeks, bukan kinerja bisnis, juga jadi pengingat bahwa angka headline yang bertumpu pada satu saham dengan free float tipis bisa basi hanya dalam hitungan bulan, kadang bahkan sebelum tracker yang melaporkannya sempat menyesuaikan.
Satu catatan lagi yang perlu dicantumkan, tanpa menyiratkan kesalahan apa pun dari Franky Widjaja sendiri: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksanya sebagai saksi pada November 2021, dalam kapasitasnya sebagai komisaris PT Adimulia Agrolestari, terkait kasus dugaan suap yang melibatkan general manager perusahaan itu dan mantan Bupati nonaktif Kuantan Singingi, keduanya yang berstatus tersangka. Tidak ada tuntutan yang dijatuhkan ke Franky Widjaja secara pribadi, dan kasus ini kini berusia hampir lima tahun tanpa perkembangan lanjutan yang ditemukan.
Kekayaan keluarga yang tersebar ke empat bersaudara dan beberapa perusahaan di dua bursa adalah contoh nyata kenapa "kekayaan bersih" yang dipublikasikan atas nama satu marga tidak sama dengan neraca satu orang, dan kenapa satu saham dengan free float tipis bisa membuat angka itu berayun jauh lebih liar daripada kinerja bisnis sesungguhnya. Kalau sebagian portofolio kamu ada di satu saham dengan free float kecil, pencoretan DSSA dari indeks global di 2026 adalah contoh konkret betapa cepatnya kejadian teknis, bukan soal laba rugi, bisa mengubah harganya.
Untuk melihat pola serupa, aturan indeks dan angka total keluarga yang mendistorsi headline kekayaan, di profil lain seri ini:
DSSA.