Saham Mana yang Benar-Benar Menyumbang Untungmu? Contribution to Return dengan Bahasa Sederhana
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Untung portofoliomu Rp5,98 juta. Salah satu sahammu naik 40%. Pasti saham itu yang paling berjasa, kan?
Belum tentu. Saham yang naik paling tinggi dalam persen sering bukan saham yang menghasilkan rupiah paling banyak.
Alat untuk menjawabnya adalah kontribusi return per aset (contribution to return). Angka ini menunjukkan berapa besar sumbangan tiap saham ke total untung atau ruginya. Di tulisan ini kamu bakal lihat rumusnya, satu contoh hitungan dengan lima saham, dan cara membaca tabelmu sendiri.
Kontribusi return adalah bagian dari return total portofolio yang berasal dari satu saham.
Ada dua hal yang menentukannya:
Posisi besar dengan untung kecil bisa mengalahkan posisi mungil dengan untung besar. Itu intinya.
Untuk satu periode, rumusnya pendek.
Kontribusi = bobot awal × return
Jumlahkan kontribusi semua saham, dan kamu dapat return portofolio. Tidak ada langkah tersembunyi.
Bobot awal adalah porsi saham itu di portofolio saat periode mulai. Kalau kamu punya Rp40 juta di satu saham dan total portofoliomu Rp100 juta, bobotnya 40%.
Berikut hitungan rekaan NetWort. Sahamnya sengaja diberi label A sampai E, dan returnnya dikarang untuk menunjukkan idenya. Ini bukan harga asli.
Kamu mulai dengan Rp100 juta.
| Saham | Nilai awal | Bobot | Return | Untung atau rugi |
|---|---|---|---|---|
| Saham A | Rp40 juta | 40% | +5% | +Rp2,00 juta |
| Saham B | Rp30 juta | 30% | +9% | +Rp2,70 juta |
| Saham C | Rp18 juta | 18% | -4% | -Rp0,72 juta |
| Saham D | Rp10 juta | 10% | +12% | +Rp1,20 juta |
| Saham E | Rp2 juta | 2% | +40% | +Rp0,80 juta |
| Total | Rp100 juta | 100% | +5,98% | +Rp5,98 juta |
Coba cek Saham B: 30% × 9% = 2,7 poin persentase. Dari Rp100 juta, itu Rp2,70 juta.
Jumlahkan kelima kontribusi: 2,00 + 2,70 - 0,72 + 1,20 + 0,80 = 5,98 poin persentase. Angka ini sama dengan return portofolio.
Coba urutkan dengan dua cara.
Urut berdasarkan return: Saham E (+40%), D (+12%), B (+9%), A (+5%), C (-4%).
Urut berdasarkan kontribusi: Saham B (2,70), A (2,00), D (1,20), E (0,80), C (-0,72).
Saham E bintangnya dalam persen. Tapi porsinya cuma 2% dari portofolio. Kenaikan 40% itu hanya menambah 0,80 poin.
Saham B naik cuma 9%. Namun porsinya 30%, jadi menambah 2,70 poin. Itu sekitar 45% dari total untung, dari satu saham saja.
Saham A pelajaran yang sering terlewat. Return +5% terlihat membosankan. Tapi dia posisi terbesarmu, jadi dia penyumbang untung nomor dua.
Saham C turun 4%. Kedengarannya masalah kecil. Tapi dengan bobot 18%, dia memotong 0,72 poin dari returnmu.
Tanpa Saham C, return portofolio jadi 6,70%. Satu saham rugi berukuran sedang bisa diam-diam menghapus hampir semua untung dari saham kecilmu yang meroket (0,72 lawan 0,80). Kontribusi membuat hal ini kelihatan.
Buat tabel yang sama untuk portofoliomu. Lalu tanyakan tiga hal:
Kalau satu saham terus muncul di puncak, itu tanda risiko konsentrasi yang layak dilihat lebih dekat. Portofolio bisa tampak beragam dari jumlah sahamnya, tapi tetap bergantung pada satu saham untuk sebagian besar hasilnya.
Rumus di atas berlaku untuk satu periode tanpa transaksi. Portofolio asli lebih rumit.
Kalau kamu beli lagi, jual sebagian, atau menambah kas di tengah periode, bobotnya ikut berubah. Analis biasanya menghitung kontribusi per hari atau per bulan, lalu menggabungkannya. Itu lebih repot, dan di sinilah alat bantu berguna.
Kontribusi juga tidak menjelaskan kenapa sebuah saham berhasil. Untuk memisahkan "aku pintar memilih sektor" dari "aku pintar memilih saham", baca analisis atribusi return portofolio. Lalu untuk menilai hasil totalnya terhadap tolok ukur yang adil, lihat cara membandingkan return portofolio dengan benchmark.
Buka halaman Holdings di NetWort. Lihat untung atau rugi tiap posisi dalam rupiah, lalu porsinya di portofolio. Cari satu saham yang paling besar kontribusinya. Apakah itu saham yang kamu kira?