NetWort
PasarBlogTicker
ENID
Mulai
Blog

Saham Mana yang Benar-Benar Menyumbang Untungmu? Contribution to Return dengan Bahasa Sederhana

26 Oktober 2026·Baca 4 menit

Read this article in English

Memuat...

NetWort Research

Investment research team

The NetWort research team analyses Indonesian and global markets using the same data that powers the NetWort portfolio tracker.

Bacaan terkait

  • Pilih Benchmark Portofolio yang Tepat: Kenapa Membandingkan dengan Indeks yang Salah Menyesatkan

Untung portofoliomu Rp5,98 juta. Salah satu sahammu naik 40%. Pasti saham itu yang paling berjasa, kan?

Belum tentu. Saham yang naik paling tinggi dalam persen sering bukan saham yang menghasilkan rupiah paling banyak.

Alat untuk menjawabnya adalah kontribusi return per aset (contribution to return). Angka ini menunjukkan berapa besar sumbangan tiap saham ke total untung atau ruginya. Di tulisan ini kamu bakal lihat rumusnya, satu contoh hitungan dengan lima saham, dan cara membaca tabelmu sendiri.

Apa itu kontribusi return per aset?

Kontribusi return adalah bagian dari return total portofolio yang berasal dari satu saham.

Ada dua hal yang menentukannya:

  1. Seberapa besar posisinya (bobot, yaitu porsinya dari seluruh portofoliomu)
  2. Seberapa jauh harganya naik atau turun (return)

Posisi besar dengan untung kecil bisa mengalahkan posisi mungil dengan untung besar. Itu intinya.

Rumusnya: bobot kali return

Untuk satu periode, rumusnya pendek.

Kontribusi = bobot awal × return

Jumlahkan kontribusi semua saham, dan kamu dapat return portofolio. Tidak ada langkah tersembunyi.

Bobot awal adalah porsi saham itu di portofolio saat periode mulai. Kalau kamu punya Rp40 juta di satu saham dan total portofoliomu Rp100 juta, bobotnya 40%.

Contoh hitungan: lima saham

Berikut hitungan rekaan NetWort. Sahamnya sengaja diberi label A sampai E, dan returnnya dikarang untuk menunjukkan idenya. Ini bukan harga asli.

Kamu mulai dengan Rp100 juta.

SahamNilai awalBobotReturnUntung atau rugi
Saham ARp40 juta40%+5%+Rp2,00 juta
Saham BRp30 juta30%+9%+Rp2,70 juta
Saham CRp18 juta18%-4%-Rp0,72 juta
Saham DRp10 juta10%+12%+Rp1,20 juta
Saham ERp2 juta2%+40%+Rp0,80 juta
TotalRp100 juta100%+5,98%+Rp5,98 juta

Coba cek Saham B: 30% × 9% = 2,7 poin persentase. Dari Rp100 juta, itu Rp2,70 juta.

Jumlahkan kelima kontribusi: 2,00 + 2,70 - 0,72 + 1,20 + 0,80 = 5,98 poin persentase. Angka ini sama dengan return portofolio.

Kenapa juara persen belum tentu penyumbang terbesar

Coba urutkan dengan dua cara.

Urut berdasarkan return: Saham E (+40%), D (+12%), B (+9%), A (+5%), C (-4%).

Urut berdasarkan kontribusi: Saham B (2,70), A (2,00), D (1,20), E (0,80), C (-0,72).

Saham E bintangnya dalam persen. Tapi porsinya cuma 2% dari portofolio. Kenaikan 40% itu hanya menambah 0,80 poin.

Saham B naik cuma 9%. Namun porsinya 30%, jadi menambah 2,70 poin. Itu sekitar 45% dari total untung, dari satu saham saja.

Saham A pelajaran yang sering terlewat. Return +5% terlihat membosankan. Tapi dia posisi terbesarmu, jadi dia penyumbang untung nomor dua.

Return dalam persen memberi tahu bagaimana sebuah saham bergerak. Kontribusi memberi tahu seberapa penting saham itu buat uangmu.

Saham yang rugi juga punya kontribusi

Saham C turun 4%. Kedengarannya masalah kecil. Tapi dengan bobot 18%, dia memotong 0,72 poin dari returnmu.

Tanpa Saham C, return portofolio jadi 6,70%. Satu saham rugi berukuran sedang bisa diam-diam menghapus hampir semua untung dari saham kecilmu yang meroket (0,72 lawan 0,80). Kontribusi membuat hal ini kelihatan.

Cara membaca tabel punyamu sendiri

Buat tabel yang sama untuk portofoliomu. Lalu tanyakan tiga hal:

  1. Siapa yang memberi sebagian besar untung? Kalau satu saham memberi lebih dari separuh, hasilmu bertumpu pada satu taruhan.
  2. Apakah juara persenku benar-benar berpengaruh? Kalau porsinya mungil, return besar itu menipu.
  3. Rugi mana yang paling banyak memotong poin? Urutkan berdasarkan kontribusi, bukan persen.

Kalau satu saham terus muncul di puncak, itu tanda risiko konsentrasi yang layak dilihat lebih dekat. Portofolio bisa tampak beragam dari jumlah sahamnya, tapi tetap bergantung pada satu saham untuk sebagian besar hasilnya.

Yang tidak dicakup versi sederhana ini

Rumus di atas berlaku untuk satu periode tanpa transaksi. Portofolio asli lebih rumit.

Kalau kamu beli lagi, jual sebagian, atau menambah kas di tengah periode, bobotnya ikut berubah. Analis biasanya menghitung kontribusi per hari atau per bulan, lalu menggabungkannya. Itu lebih repot, dan di sinilah alat bantu berguna.

Kontribusi juga tidak menjelaskan kenapa sebuah saham berhasil. Untuk memisahkan "aku pintar memilih sektor" dari "aku pintar memilih saham", baca analisis atribusi return portofolio. Lalu untuk menilai hasil totalnya terhadap tolok ukur yang adil, lihat cara membandingkan return portofolio dengan benchmark.

Langkah selanjutnya

Buka halaman Holdings di NetWort. Lihat untung atau rugi tiap posisi dalam rupiah, lalu porsinya di portofolio. Cari satu saham yang paling besar kontribusinya. Apakah itu saham yang kamu kira?

Tulisan ini hanya untuk edukasi dan bukan saran investasi. Saham, bobot, return, dan jumlah rupiah di atas adalah hitungan rekaan NetWort, bukan saham atau harga asli. Rumus satu periode ini hanya penyederhanaan. Portofolio dengan transaksi atau arus kas butuh perhitungan berbobot waktu. Tidak ada bagian tulisan ini yang menyarankan membeli atau menjual aset apa pun.