Nilai Buku per Saham: Berapa Nilai Perusahaan Kalau Besok Tutup
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Bayangkan sebuah perusahaan tutup besok. Semua asetnya dijual, semua utangnya dilunasi. Sisanya dibagikan ke pemegang saham. Bagi sisa itu dengan jumlah lembar saham, dan kamu dapat nilai buku per saham.
Angka ini sudah lama dipakai investor. Tapi ia juga mudah disalahartikan. Di sini kamu akan belajar cara menghitungnya, di mana mencarinya di laporan emiten BEI, dan kenapa angka kecil atau besar belum tentu menunjukkan harga saham yang wajar.
Mulai dari neraca. Ini halaman di laporan keuangan yang mencatat apa yang dimiliki perusahaan (aset) dan apa yang menjadi kewajibannya (liabilitas).
Aset dikurangi liabilitas disebut ekuitas. Di atas kertas, ini bagian perusahaan yang menjadi milik pemegang saham.
Nilai buku per saham (book value per share, BVPS) adalah ekuitas dibagi jumlah saham beredar. Situs keuangan Indonesia memakai rumus dasar yang sama: ekuitas dibagi jumlah lembar saham (Fortune IDN, Cermati).
Kata "buku" artinya "yang tercatat di pembukuan". Ini angka versi akuntan, bukan angka versi pasar.
Berikut perusahaan rekaan, PT Contoh Mesin, produsen suku cadang industri. Ini hitungan NetWort, bukan perusahaan sungguhan.
| Pos | Jumlah (Rp) |
|---|---|
| Total aset | 30 triliun |
| Total liabilitas | 18 triliun |
| Ekuitas | 12 triliun |
| Saham beredar | 10 miliar |
Nilai buku per saham = Rp12 triliun ÷ 10 miliar = Rp1.200.
Misalkan harga sahamnya Rp1.500. Pasar membayar Rp1.500 untuk sesuatu yang dicatat Rp1.200 di pembukuan. Rasio itu disebut price-to-book value (PBV): 1.500 ÷ 1.200 = 1,25. Kami bahas rasio ini lebih jauh di artikel PBV dan ROE saham bank.
Kamu jarang perlu menghitung dari nol. Cukup dua angka:
Fortune IDN menyebut angkanya juga bisa ditemukan di bagian ekuitas pemegang saham pada laporan keuangan. Untuk angka resmi emiten, buka laporan di idx.co.id. Kami tidak bisa membuka situs itu saat riset, jadi cek langsung.
Satu catatan: sebagian perusahaan punya saham preferen, yang dibayar lebih dulu. Satu sumber Indonesia mengurangi saham preferen dari ekuitas lalu membagi dengan saham biasa saja (Gotrade). Misalkan PT Contoh Mesin punya ekuitas preferen Rp2 triliun. Nilai buku untuk pemegang saham biasa jadi (12 − 2) ÷ 10 miliar = Rp1.000, bukan Rp1.200.
Judul artikel ini bilang "kalau besok tutup". Gambaran itu membantu, tapi tidak persis. Ada tiga alasan.
Aset dicatat dengan harga lama. Akuntan sering mencatat aset sebesar harga belinya, lalu menurunkannya seiring waktu. Satu sumber Indonesia menyebut nilai buku memakai biaya historis aset, sehingga nilai pasar sering dianggap acuan yang lebih baik (Warta Ekonomi). Pabrik yang dibeli bertahun-tahun lalu bisa bernilai jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah dari angka di buku.
Jual paksa dapat lebih murah. Perusahaan yang tutup tidak bisa menunggu harga bagus. Mesin dijual dengan diskon. Tagihan ke pelanggan mungkin tidak tertagih.
Sebagian nilai tidak tercatat. Kotak Securities mencatat bahwa nilai buku tidak memasukkan aset tidak berwujud seperti paten dan merek dagang (Kotak Securities). Xero menambahkan bahwa reputasi merek dan hubungan dengan pelanggan juga tidak masuk (Xero).
Poin terakhir ini paling penting sekarang. Sebagian perusahaan hanya punya sedikit aset fisik. Nilainya ada di software, data, tim, atau merek.
Ini perusahaan rekaan kedua, PT Contoh Digital. Lagi-lagi ini hitungan NetWort.
| Pos | PT Contoh Mesin | PT Contoh Digital |
|---|---|---|
| Ekuitas (Rp) | 12 triliun | 600 miliar |
| Saham beredar | 10 miliar | 2 miliar |
| Nilai buku per saham (Rp) | 1.200 | 300 |
| Harga saham (Rp) | 1.500 | 2.400 |
| PBV | 1,25 | 8,0 |
PBV PT Contoh Digital 8, jauh di atas 1,25. Tapi aset utamanya, yaitu kode program dan pelanggan, tidak tercatat di neraca sesuai nilainya. PBV tinggi di sini belum tentu berarti sahamnya mahal.
Jadi nilai buku per saham paling berguna untuk perusahaan dengan banyak aset fisik atau keuangan, seperti bank, properti, dan manufaktur. Untuk perusahaan aset ringan, angkanya kurang membantu.
Misalkan harga saham Rp900 sementara nilai buku Rp1.200. PBV-nya 0,75. Apakah itu murah?
Belum tentu. Pasar mungkin menilai asetnya dicatat terlalu tinggi. Pasar mungkin memperkirakan rugi. Pasar mungkin melihat laba dari aset itu lemah. Harga di bawah nilai buku bisa jadi peringatan, bukan hanya peluang.
Sebaliknya juga berlaku. Harga jauh di atas nilai buku bisa mencerminkan laba kuat yang tidak terlihat di pembukuan.
Nilai buku per saham itu titik awal. Baca bersama laba, utang, dan jenis bisnisnya.
Pilih satu saham BEI yang kamu punya atau pantau. Cari total ekuitas dan jumlah saham beredarnya, lalu hitung sendiri nilai buku per sahamnya. Bandingkan dengan harga pasar. Tanyakan: nilai perusahaan ini ada di hal yang tercatat di neraca, atau di hal yang tidak?
Contoh di artikel ini memakai angka rekaan, jadi coba dengan nama sungguhan. Bank besar seperti BBCA cocok untuk memulai, karena bank memegang aset keuangan yang tercatat cukup baik di pembukuan.
Buka Explore di NetWort untuk mencari saham yang kamu pegang dan bandingkan kesehatan serta pergerakan harganya berdampingan.