Saham Bank Dinilai dari PBV, Bukan PER. Ini Cara PBV dan ROE Bekerja Bareng di Saham Bank BEI
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Awal Juni 2026, saham BBCA diperdagangkan di sekitar 2,6 kali nilai bukunya. BBNI cuma 0,88 kali. Dua-duanya bank besar yang sama-sama listing di BEI. Kenapa pasar menghargainya sejauh itu?
Jawabannya ada di dua angka yang selalu jalan bareng: PBV dan ROE. Di sini kamu akan lihat apa artinya, lalu gimana keduanya nyambung. Tulisan ini tidak bilang bank mana yang murah atau mahal. Kami cuma tunjukkan hubungannya, supaya kamu bisa baca angkanya sendiri.
Kamu mungkin sudah kenal PER (price-to-earnings ratio): harga saham dibagi laba per saham. Kami sudah bahas di perbandingan PER antarsektor BEI.
PBV (price-to-book value) beda. Ini harga saham dibagi nilai buku per saham. Nilai buku itu ekuitas pemegang saham di neraca: semua aset dikurangi semua utang.
Buat pabrik atau perusahaan software, nilai buku kurang bercerita. Nilai mereka ada di merek, mesin, dan rencana bisnis.
Bank lain cerita. "Dagangan" utama bank adalah uang. Asetnya berupa kredit dan surat berharga yang dicatat di neraca dengan nilai yang mendekati nilai sebenarnya. Jadi ekuitas jadi tolok ukur yang masuk akal untuk modal pemiliknya.
Itu sebabnya analis biasanya mulai dari PBV kalau menilai bank.
ROE (return on equity) adalah laba bersih setahun dibagi ekuitas. Pertanyaannya sederhana: dari tiap Rp100 modal pemilik yang tertanam di bank ini, berapa rupiah laba yang dihasilkan setahun?
Kalau ekuitas bank Rp100 dan labanya Rp20 setahun, ROE-nya 20%.
ROE adalah separuh cerita yang hilang. Modal Rp100 lebih berharga kalau menghasilkan Rp25 per tahun daripada Rp10.
Intinya satu kalimat: bank yang untung lebih besar dari ekuitasnya pantas dihargai PBV lebih tinggi.
Buku teks keuangan menulisnya sebagai rumus "PBV wajar", yang berasal dari model dividen dengan pertumbuhan konstan:
Dua hal bisa kamu tarik dari rumus ini:
Ini alat belajar, bukan target harga. Nilai r dan g itu perkiraan, dan perubahan kecil saja bisa menggeser hasilnya jauh.
Kita pakai angka bulat yang hanya ilustrasi: r = 12% dan g = 5%. Ini bukan proyeksi untuk bank mana pun. Kita masukkan empat level ROE.
| ROE | PBV wajar |
|---|---|
| 25% | 2,9x |
| 19% | 2,0x |
| 18% | 1,9x |
| 14% | 1,3x |
Tiap baris dihitung (ROE − 5%) ÷ (12% − 5%), lalu dibulatkan. Polanya yang penting: ROE naik, PBV wajar ikut naik. Bank ber-ROE 25% dapat kelipatan sekitar dua kali bank ber-ROE 14% dengan asumsi yang sama.
Sekarang bandingkan pola tadi dengan yang terjadi di pasar. Angka ini dari pemberitaan media Indonesia dan kami ambil lewat ringkasan pencarian, karena halaman aslinya tidak bisa dibuka dari lingkungan kerja kami. Data diambil 6 Oktober 2026.
| Bank | ROE Maret 2026 | PBV | Tanggal PBV |
|---|---|---|---|
| BBCA | 25,1% | 2,63x | 3 Juni 2026 |
| BMRI | sekitar 19% | 1,38x | 15 Juni 2026 |
| BBRI | 18,4% | 1,34x | 15 Juni 2026 |
| BBNI | 13,6% | 0,88x | 15 Juni 2026 |
ROE dari laporan Kontan soal kinerja kuartal I 2026. PBV Juni dari Bisnis.com (15 Juni) dan ulasan pasar untuk BBCA (3 Juni). Tanggal PBV tidak sama, jadi anggap tabel ini gambaran kasar, bukan perbandingan yang persis sejajar.
Urutannya nyambung. ROE paling tinggi, PBV paling tinggi. ROE paling rendah, PBV paling rendah.
Tapi tidak pas banget, dan memang begitu seharusnya. Pasar juga menimbang pertumbuhan, kualitas kredit, risiko kredit bermasalah, dividen, dan sentimen. Harga juga bergerak tiap hari, jadi PBV di atas sudah pasti bergeser.
BBNI di 0,88x menunjukkan kasus yang sering bikin bingung pemula. PBV di bawah 1 berarti pasar menghargai bank lebih rendah dari ekuitas di pembukuannya.
Itu bukan stempel "diskon". Bisa jadi investor memperkirakan laba melemah, atau ragu kredit di pembukuan sebernilai yang tercatat. Bisa juga sifatnya sementara.
Anggap PBV di bawah 1 sebagai pertanyaan untuk diselidiki, bukan jawaban.
Rutinitas singkat untuk bank mana pun:
Tujuannya memahami alasan pasar, bukan mengalahkannya.
Buka screener Explore dan bandingkan bank-bank besar BEI berdampingan, lalu buka halaman tiap bank, misalnya BBCA, untuk melihat riwayat harganya. Taruh ROE tiap bank di samping PBV-nya dan lihat apakah pola di atas masih berlaku hari ini.
Mau tahu gimana suku bunga memengaruhi laba bank? Baca cara kerja net interest margin, dan pantau dasbor makro untuk BI-Rate.