Saham IPO di Indonesia Performanya Gimana Setelah Listing? Ini Data Tahun Pertamanya
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu lihat ada saham baru listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), terus di hari pertama harganya langsung naik 40% lebih. Rasanya kayak uang gratis. Yang jarang dibahas di tengah euforia itu adalah apa yang terjadi setelahnya, setelah orang-orang yang beli di hari pertama mulai jual lagi. Data performa saham IPO tahun pertama dari kelompok saham yang listing sepanjang 2025 kasih jawaban yang jelas, meski nggak seindah kelihatannya.
Sepanjang 2025, ada 26 perusahaan baru yang listing di BEI, mengumpulkan dana segar sebesar Rp18,11 triliun (CNBC Indonesia, 5 Agustus 2026). Di hari pertama perdagangan, saham-saham ini rata-rata naik sekitar 30%, angka yang bikin IPO kelihatan kayak kemenangan gampang.
Setahun kemudian, ceritanya beda. Diukur dari harga penawaran IPO masing-masing per 24 Desember 2025, dari 26 saham itu: 16 saham naik, satu saham flat, dan sembilan saham turun (Kontan, "Ini Deretan Saham IPO Paling Cuan dan Boncos di Tahun 2025"). Lebih dari sepertiga angkatan IPO 2025 ternyata harganya di bawah harga saat pertama kali dijual ke publik, setelah euforia hari pertama mereda.
Pertanyaan sederhana seperti "rata-rata IPO 2025 performanya gimana" justru menyembunyikan lebih banyak dari yang dia ungkap, karena hasilnya nggak ngumpul di sekitar rata-rata sama sekali. Sebarannya jauh banget.
| Saham | Kode | Harga IPO | Perubahan sejak listing | Per tanggal |
|---|---|---|---|---|
| Indokripto Koin Semesta | COIN | Rp100 (9 Jul 2025) | +3.490% | 24 Des 2025 |
| Abadi Lestari Indonesia | RLCO | N/A | +769,05% | 24 Des 2025 |
| Chandra Daya Investasi | CDIA | N/A | +768,42% | 24 Des 2025 |
| Raharja Energi Cepu | RATU | N/A | +723,91% | 24 Des 2025 |
| Fore Kopi Indonesia | FORE | N/A | +187,23% | 24 Des 2025 |
| Raja Roti Cemerlang | BRRC | Rp210 | -48,57% | 24 Des 2025 |
Sumber: Kontan, "Ini Deretan Saham IPO Paling Cuan dan Boncos di Tahun 2025," data per 24 Desember 2025.
COIN, emiten exchange kripto, bikin tiap Rp1 juta yang ditanam di harga IPO jadi sekitar Rp35,9 juta di akhir tahun, yang paling kencang dari 26 saham itu. BRRC, emiten roti, malah kehilangan hampir setengah nilai IPO-nya di periode yang sama, yang paling boncos dari kelompoknya. Dua-duanya sama-sama hasil nyata dan bertanggal, dari daftar 26 perusahaan yang listing di tahun yang sama. Nggak ada satu pun dari keduanya yang benar-benar menggambarkan "angkatan IPO 2025" sendirian. Digabung, baru itu gambaran sebenarnya.
Ini jebakan yang sama kayak menilai investasi cuma dari rata-rata returnnya, padahal yang sebenarnya terjadi di sepanjang jalan bisa jauh berbeda, pola yang dibahas lebih dalam di kenapa rata-rata aritmatika dan geometrik ceritanya beda. Sebaran hasil yang lebar itu jauh beda rasanya kalau kamu benar-benar pegang sahamnya, dibanding cuma baca angka "sektor ini returnnya X%."
Rata-rata naik 30% di hari pertama dan sembilan dari 26 saham turun setahun kemudian, sebenarnya bukan dua fakta yang saling bertentangan. Dua-duanya memang sudah sering terjadi, cuma di rentang waktu yang beda.
Laporan soal angkatan IPO 2025 bilang jelas: harga melonjak di hari pertama, terus "euforianya cenderung mereda" (CNBC Indonesia, 5 Agustus 2026). Justru di masa "mereda" itulah yang menentukan mana yang jadi 16 saham naik, satu flat, sembilan turun. Saham yang terus naik setelah lonjakan awal dan saham yang balik turun lebih dalam lagi, dua-duanya kelihatan sama persis di hari pertama.
Masih terlalu dini untuk menilai angkatan IPO 2026 kayak tabel di atas menilai angkatan 2025, karena sebagian besar saham yang listing tahun ini belum genap setahun diperdagangkan. Tapi bentuk polanya sudah kelihatan, bahkan cuma dalam hitungan minggu setelah listing.
PT Nitrasanata Dharma (JECX) naik 50% di dua hari pertama perdagangan setelah listing pada 7 Juli 2026, terus balik arah sampai kena Auto Reject Bawah (ARB) di harga Rp1.660. PT Bach Multi Global (BACH), yang listing 9 Juli 2026, juga nggak berhasil mempertahankan lonjakan pembukaannya, balik ke penutupan hari kedua yang cuma naik 24,43% dari harga IPO. PT Esa Medika Mandiri (EMMI) malah sudah turun dekat ke harga IPO-nya di Rp470 dalam hitungan minggu saja (CNBC Indonesia, "Rapor Kinerja Emiten IPO 2026," 10 Juli 2026). Nggak semua saham 2026 langsung layu. PT Niramas Utama (JELI), yang free float-nya cuma sekitar 26%, masih bertahan naik 56% dari harga IPO-nya per awal Juli. Belum bisa dipastikan gimana nasib angkatan 2026 setahun dari sekarang, tapi pola naik cepat lalu layu cepat yang sudah kelihatan di minggu pertama dan kedua ini persis pola yang membedakan pemenang dan pecundang di angkatan 2025 selama 12 bulan.
Bukan berarti saham yang baru listing itu jelek buat dikoleksi. Hasil COIN di 2025 saja sudah menunjukkan potensi untungnya nyata. Intinya, pergerakan harga di hari pertama hampir nggak kasih tahu apa-apa soal posisi saham itu setahun kemudian, dan saham baru listing punya rentang hasil yang jauh lebih lebar dibanding saham yang sudah lama diperdagangkan.
Sebelum menentukan porsi untuk saham yang baru listing, ada beberapa hal yang lebih baik kamu cek dulu daripada asal asumsi: berapa persen saham perusahaan itu yang benar-benar beredar di publik (free float yang tipis bisa bikin lonjakan maupun jatuhnya jadi lebih ekstrem), apakah sahamnya masuk atau malah dikeluarkan dari indeks besar seperti LQ45 atau IDX30, dan gimana pergerakan harganya setelah minggu pertama, bukan cuma di hari pertama saja.
Begitu saham yang baru listing sudah punya cukup riwayat perdagangan, screener Explore di NetWort menampilkan volatilitas dan skenario terburuknya (max drawdown) berdampingan dengan ratusan saham lain yang sudah dipantau, gambaran yang jauh lebih lengkap dibanding cuma lihat headline hari pertama. Untuk konteks indeks yang lebih luas tempat saham-saham baru ini berada, halaman Market menampilkan pergerakan BEI dan aktivitas per sektor hari ini.