Reksa Dana Tumpang Tindih: Tiga Reksa Dana, Ternyata Satu Taruhan yang Sama
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu punya tiga reksa dana saham. Namanya beda, manajer investasinya beda, laporan bulanannya juga beda. Rasanya sudah terdiversifikasi.
Sekarang buka daftar saham terbesar di tiap reksa dana. Kemungkinan besar bank-bank yang sama muncul lagi dan lagi.
Itulah reksa dana tumpang tindih. Namanya beda, isinya sama. Di tulisan ini kamu bakal lihat contoh hitungan rupiah, cara memberi angka pada tumpang tindih, dan cara cek reksa danamu sendiri dalam lima menit.
Reksa dana mengumpulkan uang banyak orang, lalu membeli sekumpulan saham. Saat kamu beli reksa dana, kamu ikut memiliki sebagian kecil dari semua saham di dalamnya.
Tumpang tindih terjadi saat dua reksa dana memegang banyak saham yang sama. Akibatnya, uangmu di saham-saham itu lebih besar daripada yang terlihat dari jumlah reksa dananya. Nama reksa dana cuma memberi tahu gayanya. Isinya tidak kelihatan dari nama.
Ini wajar terjadi di Indonesia. Beberapa perusahaan besar, terutama bank besar, menguasai porsi besar di indeks utama. Jadi banyak reksa dana saham akhirnya memegang nama yang sama.
10 efek terbesar adalah daftar sepuluh posisi terbesar dalam reksa dana, lengkap dengan bobotnya. Bobot artinya porsi uang reksa dana di saham itu. Bobot 12% berarti dari tiap Rp100 uang di reksa dana, Rp12 ada di satu saham itu.
Daftar ini ada di dokumen bulanan bernama fund fact sheet. Menurut pemberitaan Bareksa dan Bisnis.com pada Juni 2020, pejabat OJK menyebut reksa dana terbuka wajib menginformasikan 10 besar efek di portofolionya. Kedua berita itu terbit tahun 2020, jadi cek fact sheet terbaru untuk tampilan yang pas. Kami tidak bisa membuka teks aturan OJK-nya langsung.
Kamu cukup satu halaman ini per reksa dana untuk melihat tumpang tindih.
Ini hitungan NetWort dengan reksa dana rekaan. Bukan produk asli, dan bobotnya dibuat untuk menunjukkan idenya. Supaya singkat, tiap reksa dana hanya menampilkan 5 teratas.
| Saham | Reksa Dana A | Reksa Dana B | Reksa Dana C |
|---|---|---|---|
| BBCA | 12% | 11% | 10% |
| BBRI | 10% | 9% | 12% |
| BMRI | 8% | 7% | 9% |
| TLKM | 6% | tidak ada | 5% |
| ASII | 4% | 5% | tidak ada |
| BBNI | tidak ada | 4% | 4% |
Sekilas ketiganya beda. Satu punya Telkom, satu punya Astra, satu punya BNI. Tapi tiga baris teratas hampir sama di ketiganya.
Caranya sederhana. Untuk tiap saham yang dimiliki dua reksa dana, ambil bobot yang lebih kecil. Jumlahkan semuanya. Hasilnya adalah persentase tumpang tindih.
Untuk Reksa Dana A dan B:
Totalnya 11 + 9 + 7 + 4 = 31%.
Pasangan lain hasilnya 33% untuk A dan C, dan 30% untuk B dan C. Ingat, ini baru menghitung 5 teratas. Tumpang tindih sebenarnya, kalau semua isi dihitung, minimal segini.
Beberapa situs reksa dana di India memberi patokan kasar: di bawah 30% masih aman, di atas 50% berarti kamu memegang hal yang nyaris sama dua kali. Itu pendapat perusahaan reksa dana di pasar lain, bukan aturan. Pakai sebagai gambaran skala, bukan lulus atau gagal.
Misalnya kamu taruh Rp10 juta di tiap reksa dana, total Rp30 juta. Jumlahkan tiap bank di ketiganya:
Tiga bank memegang Rp8,8 juta dari Rp30 juta milikmu. Itu sekitar 29% dari seluruh uangmu, dari tiga saham saja, yang tersebar di tiga reksa dana.
Kalau saham bank besar sedang jelek, ketiga reksa dana ikut turun bersamaan. Risikonya tidak menyebar. Kamu membayar tiga kali untuk satu ide yang sama.
Pertama, risiko konsentrasi. Ini risiko karena terlalu banyak uang di terlalu sedikit tempat. Kami bahas di panduan risiko saham terlalu besar di portofolio.
Kedua, biaya. Setiap reksa dana memungut biaya pengelolaan. Kalau dua reksa dana memegang saham yang hampir sama, kamu bayar dua biaya untuk satu paparan. Biaya kecil bisa terasa besar setelah bertahun-tahun, seperti dijelaskan di pengaruh biaya reksa dana ke return jangka panjang.
Tujuannya bukan nol tumpang tindih. Perusahaan besar memang besar, dan reksa dana saham apa pun pasti memegang sebagian.
Reksa dana indeks luas dan reksa dana pendapatan tetap hampir tidak tumpang tindih. Memang itu gunanya punya keduanya. Yang perlu diwaspadai adalah reksa dana yang katanya beda tapi memegang saham teratas yang sama. Untuk melihat berapa taruhan yang benar-benar terpisah di portofoliomu, baca diversification ratio dan jumlah taruhan portofolio.
Kalau satu saham atau satu sektor terus membesar di hasil penjumlahan itu, itulah taruhan tersembunyimu.
Buka halaman Holdings di NetWort dan catat reksa dana serta saham yang kamu punya di satu tempat. Lalu bandingkan 10 efek terbesar tiap reksa dana dengan saham yang kamu pegang langsung. Bisa jadi kamu memegang BBCA dua kali tanpa sadar. Untuk melihat gerak sahamnya, buka halaman aset BBCA.