Bahaya Beli Reksa Dana dengan Return Tertinggi Tahun Lalu
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu lagi buka daftar reksa dana, diurutkan dari return tertinggi tahun lalu. Ada satu nama di paling atas, returnnya jauh ngalahin yang lain. Rasanya sayang banget kalau nggak beli sekarang, sebelum "ketinggalan" tahun bagus berikutnya. Kebiasaan ini ada namanya: kejar performa (performance chasing), beli sesuatu cuma karena return-nya paling tinggi tahun kemarin, tanpa cek hal lain. Datanya jelas: strategi ini jarang berhasil.
Kejar performa gampang dijelasin dan gampang banget kejadian ke siapa aja: kamu urutin reksa dana, ETF, atau saham dari return tertinggi setahun terakhir (atau tiga, lima tahun), terus beli yang paling atas. Kelihatannya kayak keputusan berdasarkan bukti nyata. Reksa dana yang baru aja untung 30% kelihatan kayak bukti kalau manajer investasinya, strateginya, atau pilihan sektornya lagi jago-jagonya.
Masalahnya, satu tahun juara nyampur dua hal jadi satu: skill beneran, sama keberuntungan, termasuk sektor mana yang lagi naik daun. Ngurutin dari return doang nggak bisa misahin dua hal ini. Sektor atau gaya investasi yang bikin reksa dana itu juara biasanya nggak bakal terus-terusan lagi hot.
Ini bukan teori doang. S&P Dow Jones Indices ngelacak ini langsung lewat U.S. Persistence Scorecard, laporan yang ngikutin reksa dana yang masuk kuartil teratas (25% dengan performa terbaik) di kategorinya, terus dicek apakah posisinya bertahan.
Edisi Year-End 2024 nemuin bahwa dari reksa dana saham AS yang masuk kuartil teratas kategorinya per Desember 2020, nggak ada satu pun yang masih bertahan di kuartil teratas empat tahun kemudian, di akhir 2024. Nol dari berapa pun jumlah yang mulai di posisi itu. Temuan ini dilaporkan konsisten di beberapa media yang ngutip data S&P Dow Jones Indices yang sama, termasuk ETF Stream dan newsletter TKer, keduanya ngerangkum laporan Persistence Scorecard dari S&P Dow Jones Indices yang sama.
Ini juga bukan kejadian sekali doang. Edisi scorecard yang lebih lama nemuin pola yang nyaris sama di periode sebelumnya: dari reksa dana saham yang masuk kuartil teratas per Maret 2016, cuma segelintir aja, sekitar 2%, yang masih di kuartil teratas dua tahun kemudian. Tahun mulai beda, kesimpulannya sama: ranking reksa dana dibanding kompetitornya nggak nurun ke tahun berikutnya secara konsisten.
Ada dua alasan kenapa reksa dana juara cenderung turun balik ke tengah-tengah, dan dua-duanya penting.
Alasan pertama, mean reversion di sektor atau gaya investasi yang bikin returnnya tinggi. Reksa dana yang jadi juara di kategorinya kemungkinan besar lagi overweight di satu sudut pasar yang lagi hot tahun itu, satu sektor tertentu, atau saham-saham kecil (small-cap). Sektor dan gaya investasi itu bergiliran naik-turun popularitasnya. Overweight yang sama yang bikin untung gede pas sektornya lagi hot, bisa bikin rugi, atau minimal performa di bawah rata-rata, begitu sektor itu meredup atau sektor lain yang gantian naik.
Alasan kedua, regresi ke rata-rata buat apa pun yang unsur keberuntungannya besar. Return reksa dana bukan murni skill. Manajer investasi yang beneran jago pun punya tahun-tahun di mana kondisi pasar yang kerja keras buat dia, dan tahun-tahun di mana kondisi pasar malah ngelawan proses yang sama. Satu tahun juara lebih mungkin karena kebetulan lagi hoki di atas skill biasa-biasa aja, ketimbang bukti ada keunggulan yang bisa diulang terus.
Data persistence di atas ngejelasin kenapa strategi ini nggak jalan di atas kertas. Riset lain nunjukin berapa ongkos aslinya buat investor beneran di dunia nyata.
Studi Mind the Gap dari Morningstar ngebandingin dua angka tiap tahun: total return yang dihasilkan reksa dana itu sendiri, sama return yang beneran didapat rata-rata investornya, dihitung dari kapan dan berapa banyak uang yang beneran masuk-keluar. Edisi 2025, yang nyakup sepuluh tahun sampai Desember 2024, nemuin bahwa rata-rata dolar yang diinvestasiin di reksa dana dan ETF AS cuma dapat return tahunan 7,0%, padahal reksa dananya sendiri ngasih return tahunan 8,2% di periode yang sama, selisih 1,2 poin persentase per tahun. Kalau digabungin selama sepuluh tahun, selisih itu berarti rata-rata investor cuma dapat sekitar 15% lebih sedikit dibanding kalau dia tahan aja reksa dananya dari awal sampai akhir (Morningstar; juga dilaporin CNBC).
Penjelasan Morningstar sendiri soal selisih ini cukup jelas: investor cenderung nambah duit ke reksa dana pas baru aja untung gede, terus narik duitnya keluar pas baru aja rugi. Itu kejar performa dalam praktik, dan datanya nunjukin ini kejadian di skala besar, bukan kesalahan langka.
Ini contoh hipotetis buat nunjukin mekanismenya, bukan reksa dana beneran. Misalnya "Reksa Dana A" ranking 1 dari 50 reksa dana di kategorinya di Tahun 1, returnnya menonjol karena taruhan besar di satu sektor lagi hot. Investor lihat ranking itu, terus beli di awal Tahun 2, berharap dapat hasil yang sama lagi.
| Tahun | Ranking Reksa Dana A dari 50 |
|---|---|
| Tahun 1 | ke-1 |
| Tahun 2 | ke-34 |
| Tahun 3 | ke-22 |
| Tahun 4 | ke-38 |
Nggak ada yang berubah drastis dari Reksa Dana A itu sendiri semalam. Yang berubah, taruhan sektor yang bikin Tahun 1 juara berhenti kasih hasil bagus, persis pola yang ditunjukin data persistence beneran di atas, tapi dalam skala ratusan reksa dana, bukan cuma satu contoh ilustrasi.
Ini bukan berarti reksa dana aktif nggak pernah layak dimiliki, atau return tahun lalu nggak ada gunanya sama sekali. Ini berarti satu tahun juara doang itu bukti yang lemah. Ada beberapa hal yang lebih penting buat dicek:
Sebelum beli apa pun yang lagi ada di puncak tabel return tahun ini, coba pakai Explore screener di NetWort buat bandingin metrik risiko jangka panjang suatu aset, volatilitas, drawdown, dan performa multi-tahun, bukan cuma andelin satu kolom return terakhir. Reksa dana atau ETF indeks biasa kayak SPDR S&P 500 ETF Trust jarang jadi juara satu tahun doang, dan justru itu intinya: dia juga jarang jatuh separah reksa dana juara tahun lalu yang sering ngedrop.