Beli USDT dengan Rupiah Lewat P2P: Risiko yang Jarang Dibahas
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Harganya menarik. Penjual menawarkan USDT sedikit lebih murah dari kurs exchange. Kamu transfer lewat bank, koin masuk, dan kamu merasa pintar.
Tiga minggu kemudian rekening bankmu dibekukan. Kamu merasa tidak salah apa-apa. Uang yang kamu kirim, atau uang yang kamu terima, ternyata berasal dari tempat lain.
Inilah risiko beli USDT P2P yang jarang dibahas. Masalahnya bukan di koinnya. Masalahnya ada di transfer bank di sisi lain.
Peer to peer (P2P) artinya kamu bertransaksi langsung dengan orang lain. Platform hanya menahan kripto di tengah dan menampilkan rating tiap pihak.
USDT adalah stablecoin, koin yang dirancang tetap dekat 1 dolar AS. Orang memakainya untuk menyimpan nilai atau mengirim uang lintas negara. Mau tahu apa yang menopang harganya? Baca cadangan di balik USDT dan USDC.
Di P2P, kripto berpindah di platform. Rupiah berpindah lewat transfer bank atau e-wallet biasa, di luar platform. Di bagian kedua inilah masalah paling sering muncul.
Pembayaran pihak ketiga adalah uang yang dikirim oleh orang lain, bukan lawan transaksimu.
Misal kamu jual USDT. Pembeli bilang, "Sepupu saya yang bayar." Kamu setuju dan melepas USDT. Belakangan, si sepupu bilang ke banknya bahwa transfer itu salah, atau penipuan. Bank menarik uangnya dan rekeningmu bisa dibatasi.
Satu unggahan di Binance Square, halaman komunitas tempat pengguna menulis sendiri, menceritakan kasus hampir persis begini. Penjual mengizinkan pembeli membayar dari rekening orang lain. Setelah USDT dilepas, pembeli menyanggah transfer itu ke banknya, lalu rekening penjual dibatasi. Ini cerita satu pengguna, bukan pernyataan resmi. Tapi cara kerja masalahnya jelas.
Saran umum di unggahan komunitas sederhana: nama pemilik rekening harus sama dengan nama yang terverifikasi di platform. Kalau beda, jangan lepas kriptonya.
Bank memantau transfer yang tampak tidak biasa. Banyak uang masuk dari orang asing dengan nominal ganjil bisa terlihat seperti pencucian uang.
Di Indonesia, PPATK (lembaga intelijen keuangan) bisa meminta bank menghentikan sementara transaksi rekening yang diduga terkait kejahatan. PPATK menyebut langkah ini sesuai UU 8/2010 tentang pencegahan pencucian uang. Pada semester I 2026, menurut Jawa Pos, PPATK menghentikan sementara 5.762 rekening terkait judi online dengan dana sekitar Rp1,07 triliun. Kasus ini soal judi, bukan kripto. Tapi ini menunjukkan penghentian rekening terjadi dalam skala besar.
Laporan lain menyebut lebih dari 28.000 rekening hasil jual beli dipakai untuk deposit judi pada 2024, menurut Kepala PPATK. Jadi transfer dari orang asing bisa saja berasal dari rekening sewaan. PPATK mengimbau orang yang menerima uang dari rekening tidak dikenal untuk melapor ke bank atau aparat.
Saya tidak menemukan sumber tentang seberapa sering penjual kripto P2P di Indonesia dibekukan. Jadi tidak ada angka di sini. Risikonya nyata, tapi ukurannya belum diketahui.
USDT diterbitkan oleh perusahaan bernama Tether. Syaratnya menyebut Tether boleh membekukan alamat "saat diperintahkan atau secara sukarela jika tampak wajar dan perlu". Tether menyatakan telah membekukan sekitar $4,2 miliar token dalam tiga tahun terkait aktivitas ilegal, menurut ringkasan berita yang dilihat pada 27 Oktober 2026. Laporan berbeda menyebut total berbeda, jadi anggap ini gambaran kasar.
Kenapa ini penting? Koin yang pernah lewat dompet bermasalah bisa ditandai. Kalau kamu beli dari orang asing, riwayat itu tidak terlihat olehmu.
Sebagian penipuan tidak rumit. Pembeli mengirim tangkapan layar "sudah bayar". Uangnya tidak pernah masuk. Unggahan komunitas mengulang satu aturan: cek aplikasi bankmu sendiri, jangan percaya screenshot atau SMS.
Ada juga peringatan lain: seseorang memintamu verifikasi identitas lalu menjanjikan membuka akun atas namamu untuk mereka. Jangan pinjamkan nama atau rekeningmu. Begitulah orang akhirnya memegang uang beku yang bukan miliknya.
Tanyakan juga hal yang lebih mendasar: apakah kamu perlu P2P? Exchange terdaftar yang menerima rupiah langsung mengurangi jumlah orang asing dalam rantai. Risiko tidak hilang total. Risiko platform dan operasional tetap ada.
Apa pun jalurnya, catat tiap pembelian: tanggal, jumlah, rupiah yang dibayar, dan ke mana koin dikirim. Kalau suatu hari bank bertanya asal uangmu, catatan yang rapi membantu kamu menjawab.
Buka halaman holdings NetWort, masukkan tiap pembelian USDT beserta biaya rupiahnya, dan jaga tetap terbaru. Angkamu siap saat dibutuhkan.