Market Order atau Limit Order di Exchange Kripto: Mana yang Lebih Mahal?
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Kamu lihat harga satu koin Rp1.000.000 di layar. Kamu beli 2 koin. Harapanmu bayar Rp2.000.000. Ternyata yang terpotong Rp2.030.000.
Tidak ada yang error. Kamu pakai market order di order book yang tipis. Artikel ini menjelaskan apa yang terjadi, dan bagaimana limit order mengubah hasilnya. Angka di bawah ini contoh rekaan untuk menunjukkan cara kerjanya, bukan harga hari ini.
Exchange menyimpan daftar semua orang yang mau beli dan jual sebuah koin. Daftar ini namanya order book.
Di satu sisi ada penjual. Tiap penjual menyebut harga dan jumlah. Ini disebut ask.
Di sisi lain ada pembeli. Mereka juga menyebut harga dan jumlah. Ini disebut bid.
Ask termurah dan bid tertinggi duduk paling dekat. Jarak di antaranya disebut spread. Pembahasan lengkapnya ada di artikel kami soal bid-ask spread sebagai biaya tersembunyi.
Ini contoh order book tipis untuk koin rekaan, XYZ:
| Sisi | Harga | Jumlah tersedia |
|---|---|---|
| Ask | Rp1.040.000 | 2,0 XYZ |
| Ask | Rp1.010.000 | 1,0 XYZ |
| Ask | Rp1.000.000 | 0,5 XYZ |
| Bid | Rp995.000 | 1,0 XYZ |
| Bid | Rp980.000 | 2,0 XYZ |
"Harga di layar" biasanya ask terendah, Rp1.000.000. Tapi di harga itu hanya ada 0,5 XYZ yang dijual.
Market order artinya: beli sekarang, di harga berapa pun yang tersedia.
Exchange mengisinya dengan naik dari ask termurah. Misalnya kamu beli 2 XYZ:
| Langkah | Jumlah | Harga | Biaya |
|---|---|---|---|
| 1 | 0,5 | Rp1.000.000 | Rp500.000 |
| 2 | 1,0 | Rp1.010.000 | Rp1.010.000 |
| 3 | 0,5 | Rp1.040.000 | Rp520.000 |
| Total | 2,0 | Rp2.030.000 |
Harga rata-ratamu Rp1.015.000, bukan Rp1.000.000. Kamu bayar Rp30.000 lebih mahal, atau 1,5% di atas harga layar.
Penyebabnya order book yang tipis. Kalau yang dijual sedikit, order besar menghabiskan harga murah lalu naik ke harga yang lebih mahal. Selisih ini sering disebut slippage. Untuk versi di exchange terdesentralisasi, baca slippage di DEX. Artikel itu membahas pool otomatis, bukan order book.
Kelebihan market order: langsung terisi. Kekurangannya: kamu tidak mengontrol harga.
Limit order artinya: beli, tapi hanya di harga ini atau lebih murah.
Misalnya kamu pasang limit beli 2 XYZ di Rp1.000.000. Exchange mencocokkan 0,5 XYZ yang dijual di harga itu. Sisa 1,5 XYZ tidak bisa terisi di harga yang kamu mau, jadi menunggu di order book sebagai bid.
Bagian yang terisi memang tepat Rp1.000.000 per koin, total Rp500.000. Sisa 1,5 XYZ baru terisi kalau penjual turun ke harga kamu. Kalau tidak pernah turun, order itu bisa tidak terisi sama sekali.
Jadi limit order membalik pertukarannya. Harga kamu yang atur. Soal terisi atau tidaknya, dan kapan, kamu tidak bisa atur.
Exchange juga membedakan jenis order kamu.
Order yang menunggu di order book menambah isi buku. Itu disebut maker. Order yang langsung terisi mengambil dari buku. Itu disebut taker.
Binance menjelaskan bahwa market order selalu jadi taker karena tidak pernah menunggu di buku. Binance juga menyebut exchange sering menarik biaya maker lebih rendah dari taker, dan limit order belum tentu jadi maker (FAQ dukungan Binance, dilihat lewat ringkasan pencarian pada 26 Oktober 2026).
Kenapa begitu? Kalau harga limit kamu sudah tersedia, order langsung terisi dan kamu kena biaya taker. Tarif beda di tiap exchange dan tiap akun, jadi cek tabel biaya milikmu sendiri.
Tergantung order book dan tujuanmu.
Ada kebiasaan sederhana yang membantu. Sebelum menekan beli, lihat berapa banyak koin yang dijual di dekat harga terbaik. Bandingkan dengan ukuran ordermu.
Ambil satu koin yang biasa kamu beli, misalnya Bitcoin. Lihat beberapa pembelian terakhir, lalu bandingkan harga yang kamu bayar dengan harga di layar saat itu. Selisihnya adalah biaya trading yang sebenarnya.
Catat transaksi itu di dashboard NetWort. Harga beli rata-rata dan untung ruginya jadi mencerminkan uang yang benar-benar keluar, termasuk biaya.