Return Portofolio Kamu +12%, tapi Return Riilnya Nggak Sebesar Itu
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Laporan portofolio kamu bilang return tahun ini 12%. Kedengarannya bagus, sampai kamu inget harga barang-barang di Indonesia terus naik selama itu juga. Inflasi nggak pernah kirim tagihan langsung ke kamu. Dia diam-diam bikin return kamu belanja lebih sedikit, dan begitu kamu sadar, sebagian dari 12% itu udah keburu hilang. Beda antara return nominal yang kelihatan di layar dan return riil yang beneran kamu dapat cuma soal satu rumus, dan kebanyakan aplikasi pelacak portofolio, termasuk NetWort, cuma nunjukkin angka pertama kecuali kamu hitung sendiri angka keduanya.
Return nominal adalah persentase kenaikan portofolio kamu sebelum dikurangi apa pun: nilai hari ini dibanding cost basis kamu, dinyatakan dalam persen. Ini angka yang selalu ditampilkan duluan sama setiap aplikasi sekuritas atau pelacak portofolio.
Return riil adalah nilai persentase itu setelah inflasi, yaitu laju kenaikan harga barang-barang lain, dikeluarkan dari hitungan. Kalau portofolio kamu naik 12% secara nominal sementara harga naik sekitar 3% di periode yang sama, kamu nggak otomatis jadi 3 poin persen "lebih miskin" secara riil begitu aja. Dua angka ini saling berkalikan, bukan sekadar dikurangi, dan bedanya lebih besar dari kelihatannya begitu angkanya makin gede.
Berdasarkan rilis resmi terbaru, inflasi Indonesia (year on year) ada di 2,88% pada Juli 2026, turun dari 3,34% di Juni, dan masih di dalam target Bank Indonesia yaitu 1,5% sampai 3,5%. Sumber: BPS (Badan Pusat Statistik), sebagaimana dilaporkan Indonesia-Investments dan Databoks, diakses 29 Agustus 2026. BPS belum merilis angka Agustus 2026 saat artikel ini ditulis, jadi angka Juli masih yang paling baru tersedia.
Kamu bisa pantau angka ini bareng BI Rate dan kurs rupiah di halaman Macro Context NetWort, karena ketiganya bergerak sendiri-sendiri dan masing-masing mengubah berapa besar return riil kamu bulan ini.
Return riil = (1 + Return nominal) ÷ (1 + Tingkat inflasi) − 1
Cara pintas yang sering dipakai orang cuma mengurangi inflasi dari return nominal. Cara pintas itu cukup akurat kalau kedua angkanya kecil, tapi diam-diam melebih-lebihkan return riil kamu, dan selisihnya makin gede seiring salah satu angkanya makin besar.
Pakai angka inflasi Juli sebesar 2,88%:
| Return nominal | Inflasi | Kurang langsung | Rumus Fisher (akurat) | Selisih |
|---|---|---|---|---|
| 12% | 2,88% | 9,12% | 8,86% | 0,26 poin |
| 40% | 2,88% | 37,12% | 36,08% | 1,04 poin |
Di return nominal yang biasa aja, 12%, cara pintas cuma meleset sekitar seperempat poin persen, kecil banget dan jarang mengubah keputusan. Di 40%, kira-kira setara tahun yang kenceng buat portofolio berat kripto, cara pintas melebih-lebihkan return riil kamu sampai satu poin penuh. Cara pintas itu bukan salah, cuma perkiraan yang makin meleset justru pas taruhannya makin besar.
Selisih sekecil ini di return satu tahun kelihatan sepele, tapi return riil ikut compounding sama kayak return nominal. Lebih-lebihkan setengah poin doang tiap tahun selama sepuluh tahun, dan jarak antara yang kamu kira udah kamu capai dengan yang beneran kamu punya berubah jadi rupiah beneran, bukan cuma pembulatan. Ini paling kerasa buat siapa pun yang pakai asumsi return buat rencanakan berapa lama portofolio bisa menopang hidup nanti, pertanyaan riil-vs-nominal yang sama yang ada di balik aturan penarikan dana pensiun 4% versi Indonesia.
Ambil angka return nominal kamu sendiri dari tampilan Portfolio Health di dashboard NetWort, masukkan ke rumus di atas bareng angka inflasi bulan ini dari halaman Macro Context, dan kamu bakal dapat angka yang beneran penting: bukan angka yang dibilang portofolio kamu, tapi yang beneran bisa dibelanjakan dari return itu.