Rupiah Melemah, Harga Barang Naik? Cara Kurs Sampai ke Rak Toko
Baca 3 menit
Baca 3 menit
Kamu lihat berita: rupiah ditutup di Rp18.147 per dolar AS pada Jumat, 30 Oktober 2026 (laporan harian bernas.id, dilihat lewat pencarian). Lalu kamu ke minimarket. Harganya masih sama.
Jadi, rupiah melemah harga barang naik itu benar atau tidak? Jawabannya: benar, tapi pelan dan tidak penuh. Ekonom menyebutnya exchange rate pass-through, yaitu seberapa banyak pergerakan kurs sampai ke harga yang kamu bayar.
Perusahaan yang impor tepung, susu, atau komponen membayar pakai dolar. Saat rupiah melemah, satu dolar butuh lebih banyak rupiah. Barang yang sama jadi lebih mahal.
Lalu perusahaan punya dua pilihan. Naikkan harga di rak, atau tahan harga dan terima untung yang lebih tipis. Pass-through adalah bagian biaya tambahan yang akhirnya sampai ke struk belanjamu.
Pakai produk rekaan seharga Rp100.000. Anggap Rp40.000 dari harga itu untuk bahan impor. Sisanya Rp60.000 untuk biaya lokal, gaji, dan untung. Semua angka ini hitungan NetWort.
Sekarang dolar naik 10%, dari Rp18.147 ke sekitar Rp19.962.
| Kondisi | Tambahan biaya bagian impor | Harga baru di rak | Kenaikan |
|---|---|---|---|
| Penjual teruskan semua | +Rp4.000 | Rp104.000 | +4% |
| Penjual teruskan separuh | +Rp2.000 | Rp102.000 | +2% |
| Penjual tanggung sendiri | 0 | Rp100.000 | 0% |
Rupiah turun 10%, tapi harga tidak ikut naik 10%. Paling tinggi hanya 4%, karena hanya 40% biayanya impor.
Ada beberapa penahan.
Tidak semua biaya impor. Sewa, gaji, dan bahan lokal dibayar dalam rupiah.
Takut kehilangan pembeli. Kalau pesaing menahan harga, penjual yang naik duluan bisa sepi. Jadi banyak yang menunggu atau memangkas untung dulu.
Stok lama. Toko yang menjual barang yang dibeli di kurs lama belum merasakan biaya baru.
Kontrak dan lindung nilai. Sebagian perusahaan sudah mengunci kurs sejak awal.
Hasil studi bervariasi. Satu studi masa Covid (Maret 2020 sampai Mei 2022) menemukan bahwa rupiah melemah 1% menaikkan harga konsumen sekitar 0,24%, dan harga grosir sekitar 0,91% (Atlantis Press, hanya dilihat lewat ringkasan pencarian). Penulisnya menyebut pass-through-nya tidak penuh.
Perhatikan selisihnya. Harga grosir bereaksi jauh lebih besar daripada harga yang kamu bayar. Ini cocok dengan contoh tadi: harga di rak hanya sebagian berisi biaya impor.
Laporan Perekonomian Indonesia 2018 dari Bank Indonesia juga menyebut pelemahan rupiah hanya berdampak terbatas ke inflasi pada periode itu (Bank Indonesia, Laporan Perekonomian 2018, Bab 4, hanya dilihat lewat ringkasan pencarian). Hasilnya berubah menurut periode dan model, jadi anggap 0,24% sebagai gambaran kasar, bukan aturan.
Barang dengan porsi impor tinggi paling cepat terasa. Kontan melaporkan gula industri dan terigu hampir sepenuhnya impor, susu sekitar 80%, dan kedelai sekitar 97% (Kontan, lewat ringkasan pencarian). Gapmmi bilang dampaknya tergantung porsi bahan impor tiap perusahaan, dan pembahasan harga dengan ritel biasanya menunggu evaluasi akhir tahun.
Energi juga berperan. Tulisan kami soal harga minyak dan pengaruhnya ke rupiah menunjukkan jalur lain dari kurs lemah ke biaya yang lebih tinggi.
Inflasi September 2026 adalah 3,28% secara tahunan, menurut laporan Kontan dan Investortrust yang dilihat lewat pencarian. Rupiah lemah adalah salah satu risiko yang bisa mendorongnya naik. Inflasi yang naik bisa mengubah sikap Bank Indonesia soal suku bunga, dan itu menggerakkan obligasi dan saham.
Inflasi juga menggerus uang tunai. Kalau harga naik 3% dan tabunganmu hanya 2%, daya belimu turun. Baca juga beda inflasi inti dan inflasi headline supaya tidak salah baca angka.
Buka halaman Macro di NetWort. Lihat kurs rupiah dan inflasi bersamaan. Tanyakan satu hal: apakah inflasi sudah mulai mengikuti kurs, atau belum?