Tingkat Pengangguran Terbuka Adalah: Cara Membaca Data Kerja BPS Tanpa Tertipu
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia per Mei 2026 adalah 4,65%, kata BPS. Itu sekitar 7,22 juta orang yang tidak punya pekerjaan. Angkanya terdengar rendah. Lalu kenapa banyak orang di sekitarmu masih merasa sulit cari kerja?
Jawabannya ada di cara angka ini dihitung. Tulisan ini menjelaskan apa yang dihitung BPS, apa yang tidak terlihat, dan cara memakainya supaya kamu tidak salah baca.
BPS (Badan Pusat Statistik) menyurvei rumah tangga dua kali setahun lewat Sakernas, yaitu Survei Angkatan Kerja Nasional. Hasil utamanya adalah TPT.
TPT adalah persentase penganggur terhadap angkatan kerja. Angkatan kerja adalah semua orang berusia 15 tahun ke atas yang sedang bekerja atau mencari kerja.
Coba hitung sendiri. Per Mei 2026, BPS mencatat 60,31 juta pekerja formal, 87,88 juta pekerja informal, dan 7,22 juta penganggur. Jumlahnya sekitar 155,4 juta orang. Bagi 7,22 dengan 155,4, hasilnya 4,65%. Cocok.
Bagian ini sering mengejutkan.
Seseorang dianggap bekerja kalau dalam seminggu terakhir ia melakukan pekerjaan untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan, minimal satu jam. Satu jam saja. Ini definisi BPS menurut ringkasan Katadata.
Jadi orang yang jualan gorengan satu jam minggu lalu tetap dihitung bekerja. Penghasilannya mungkin jauh dari cukup. Angka utama tidak membedakannya.
Lalu siapa yang dianggap penganggur? Ada tiga kelompok, menurut ringkasan yang sama:
Tren terbaru menurut BPS, seperti diberitakan media:
| Survei | TPT | Jumlah penganggur |
|---|---|---|
| Agustus 2024 | 4,91% | tidak ditemukan |
| Agustus 2025 | 4,85% | 7,46 juta |
| November 2025 | 4,74% | 7,35 juta |
| Februari 2026 | 4,68% | sekitar 7,24 juta |
| Mei 2026 | 4,65% | 7,22 juta |
Sumber: rilis BPS yang diberitakan Bisnis.com, CNN Indonesia, Katadata, dan Investortrust, diakses 1 November 2026. Kami hanya melihat ringkasan pencarian dan satu artikel, bukan tabel BPS langsung.
TPT turun sedikit di tiap survei. Sekilas itu kabar baik. Tapi baca dulu bagian berikutnya.
Lihat komposisinya per Mei 2026. Pekerja formal 40,70% dari penduduk bekerja. Pekerja informal 59,30%, atau 87,88 juta orang (Investortrust, mengutip BPS).
Pekerja informal artinya bekerja tanpa kontrak formal atau perlindungan dari pemberi kerja, misalnya pedagang kaki lima, buruh tani, dan driver online. Mereka jarang dapat pesangon, dan banyak yang belum punya jaminan kehilangan pekerjaan.
Di data, mereka tetap "bekerja", walau penghasilannya tipis dan tidak tentu. Jadi TPT yang rendah dan sektor informal yang besar bisa terjadi bersamaan.
BPS juga merilis angka terpisah untuk orang yang bekerja tapi ingin jam kerja lebih banyak. Satu ringkasan berita menyebut 7,28% pada Mei 2026, tapi hanya dari satu sumber, jadi anggap itu petunjuk untuk dicek, bukan fakta.
Angka nasional menyembunyikan selisih. Per Mei 2026, TPT perkotaan 5,54% dan perdesaan 3,15%. Untuk laki-laki 4,85% dan perempuan 4,32% (Investortrust, mengutip BPS).
Kenapa desa tampak lebih baik? Di desa hampir semua orang mengerjakan sesuatu, sering di lahan keluarga. Di kota lebih banyak orang yang menunggu kerja formal, dan mereka lebih mudah tercatat sebagai penganggur.
Kamu tidak perlu trading dari angka ini. Tapi angka ini membantumu membaca ekonomi.
Ingat, survei ini hanya dua kali setahun dan angkanya bisa direvisi. Satu rilis adalah potret, bukan tren.
Saat BPS merilis hasil Sakernas berikutnya, cek empat hal ini berurutan:
Kalau TPT turun tapi porsi formal juga turun, gambarannya lebih lemah dari kelihatannya.
Buka halaman Macro NetWort. Taruh BI Rate, inflasi, dan rupiah berdampingan. Saat data kerja berikutnya keluar, tanyakan apakah ceritanya sama dengan tiga angka itu.