Rupiah vs Ringgit, Baht, dan Peso: Seberapa Kuat Mata Uang Indonesia Dibanding Tetangganya
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Bayangkan kamu beli US$1.000 di akhir 2025. Waktu itu harganya sekitar Rp16,67 juta. Per 5 Oktober 2026, US$1.000 yang sama sudah sekitar Rp17,94 juta. Selisihnya Rp1,27 juta, untuk dolar yang sama.
Apakah cuma rupiah yang kena? Atau semua mata uang di kawasan ini mengalami hal serupa? Artikel ini membandingkan rupiah vs ringgit, baht, dan peso supaya kamu bisa lihat sendiri.
Pertama, satu istilah dasar. Kurs adalah harga satu mata uang dalam mata uang lain. "USD/IDR 17.940" artinya satu dolar AS harganya Rp17.940. Kalau angka ini naik, rupiah melemah: kamu butuh lebih banyak rupiah untuk membeli satu dolar.
Tiap media memakai tanggal dan titik awal yang beda, jadi angkanya susah dibandingkan. Karena itu kami pakai satu tabel dengan satu tanggal, yaitu Daily Market Watch Asian Development Bank (ADB) per 2 September 2026. Perubahan dihitung sejak 1 Januari 2026. Tanda minus berarti mata uangnya kehilangan nilai terhadap dolar AS.
| Mata uang | Per dolar AS (2 Sep 2026) | Perubahan sejak 1 Jan 2026 |
|---|---|---|
| Rupiah Indonesia (IDR) | 17.715 | -5,87% |
| Peso Filipina (PHP) | 62,21 | -5,47% |
| Baht Thailand (THB) | 33,27 | -5,31% |
| Ringgit Malaysia (MYR) | 4,04 | +0,47% |
Sumber: ADB Daily Market Watch, 2 September 2026, sebagaimana tampil di hasil pencarian. Kami tidak bisa membuka file PDF-nya langsung.
Gambarannya jelas. Rupiah, peso, dan baht sama-sama turun sekitar 5% sampai 6%. Ringgit tidak. Ringgit malah naik tipis.
Jarak antara tiga mata uang yang melemah ini kecil. Rupiah memang paling bawah, tapi tipis saja. Pemisah yang sebenarnya ada antara ringgit dan yang lain.
Kurang lebih sama, dengan selisih kecil. Tabel ala Reuters bertanggal 4 September 2026, yang dilaporkan Interaksyon, menunjukkan rupiah turun sekitar 5,4%, peso sekitar 5,7%, baht sekitar 4,4%, dan ringgit naik sekitar 0,35%.
Ceritanya sama, angkanya sedikit beda. Itu wajar. Tabel diambil di jam yang berbeda, dan sebagian memakai kurs penutupan akhir 2025 yang sedikit lain. Jadi baca angka-angka ini sebagai "sekitar 5% sampai 6%", bukan skor pasti.
Katadata sempat melaporkan pelemahan rupiah yang lebih dalam, 7,72% pada Agustus. Bedanya ada di cara menghitung. Kita bahas di bawah.
Lihat rupiah pada 5 Oktober 2026. Menurut laporan pasar Journalarta, USD/IDR ada di Rp17.940. Level akhir 2025 adalah Rp16.670.
Ada dua cara menghitungnya:
Dua-duanya benar. Hanya pertanyaannya yang beda. Tabel ADB memakai cara kedua (nilai mata uangnya), jadi tanda minus berarti mata uang melemah.
Saat baca judul berita, cek dulu pakai cara yang mana. Ini alasan paling sering dua artikel soal mata uang yang sama angkanya berbeda. Dua hitungan di atas adalah perhitungan kami sendiri dari kurs yang dikutip.
Pada awal Oktober rupiah sudah bergeser lebih lemah dari level 2 September di tabel. Kami tidak punya angka Oktober yang sepadan untuk tiga mata uang lain, jadi tabel di atas tetap jadi perbandingan yang adil.
Ada beberapa tekanan sekaligus. Semua poin ini berasal dari rangkuman berita Trading Economics soal rupiah, yang kami lihat lewat hasil pencarian:
BI memang bereaksi. Suku bunga acuan dinaikkan total 100 basis poin (1 poin persentase) dalam tiga kali sejak Mei, ke 5,75%, lalu ditahan pada September. BI juga menaikkan insentif lindung nilai swap valas ke 25% untuk menarik dana asing. Soal cara BI masuk ke pasar, baca cara BI intervensi pasar valas.
Kami tidak bisa memastikan. Sumber yang kami temukan tidak menjelaskan kasus Malaysia, jadi kami tidak mengarang alasannya.
Yang bisa kami bilang: tiga mata uang yang melemah punya setidaknya sebagian tekanan yang sama, yaitu dolar kuat, biaya energi naik, dan investor yang cemas. Ringgit menunjukkan bahwa tekanan ini tidak kena semua negara dengan cara yang sama. Mata uang juga mencerminkan kondisi keuangan negaranya sendiri, bukan cuma dolar.
Tidak selalu. Rupiah yang melemah merugikan orang yang impor barang, jalan-jalan ke luar negeri, bayar sekolah di luar negeri, atau punya utang dolar. Sebaliknya, eksportir diuntungkan karena menerima dolar dan membelanjakan rupiah.
Buat investor, bisa dua arah. Kalau kamu punya saham AS, nilainya dalam rupiah naik saat rupiah turun. Kami bahas di kenapa rupiah melemah bisa untungkan saham Amerika. Kalau kamu hanya pegang rupiah, uangmu membeli lebih sedikit barang yang dihargai dalam dolar.
Satu alat lagi adalah real effective exchange rate, yang membandingkan mata uang dengan banyak mitra dagang sekaligus dan memperhitungkan inflasi. Ini ukuran yang lebih adil daripada satu kurs dolar. Baca panduannya di apa itu real effective exchange rate rupiah.
Jangan percaya begitu saja angka terbaru dari kami. Buka halaman makro NetWort dan cari kartu USD/IDR. Lihat posisi garisnya di awal tahun dan posisinya sekarang. Lalu bandingkan persentasenya dengan tabel di atas. Dari situ kamu tahu apakah rupiah masih tertinggal dari tetangganya.