Saham Sepi Transaksi: Kenapa Susah Dijual Padahal Harganya Kelihatan Bagus
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Di aplikasi, kamu punya 500 lot saham kecil di BEI. Harga terakhirnya Rp1.000, jadi nilainya Rp50 juta. Kamu putuskan jual. Apa uang yang masuk benar-benar Rp50 juta?
Belum tentu. Kalau jarang ada yang trading saham itu, harga di layar cuma harga dari satu transaksi kecil yang terakhir. Itu bukan harga untuk menjual tumpukan besar. Inilah risiko saham tidak likuid, dan di sini kita hitung pakai angka sederhana.
Likuiditas artinya seberapa mudah sesuatu diubah jadi uang tunai tanpa menggeser harganya. Saham likuid punya banyak pembeli dan penjual setiap saat. Saham tidak likuid punya sedikit.
Satu jurnal akademik menyebut bahwa saham dengan likuiditas rendah lebih sulit dijual, jadi investor cenderung menjual sedikit-sedikit dan tidak sering (jurnal Gunadarma).
Likuiditas bisa kamu lihat di order book, yaitu daftar order yang sedang antre. Pembeli antre di satu deret harga, penjual di deret harga lain. Sumber edukasi menggambarkan likuiditas sebagai antrean order di sisi beli dan sisi jual (Investasiku).
Satuan dulu. Di BEI, satu lot berisi 100 lembar saham. Aturan ini berlaku sejak 6 Januari 2014, sebelumnya 500 lembar (jurnal Mercu Buana, Kontan). Kami tidak bisa membuka halaman resmi BEI, jadi cek idx.co.id untuk aturan terbaru.
Artinya 500 lot adalah 50.000 lembar. Pada harga Rp1.000, nilainya Rp50 juta.
Bid adalah harga yang mau dibayar pembeli. Ask adalah harga yang diminta penjual. Saat kamu jual dengan order ke harga pasar, kamu mengambil bid yang sudah antre, mulai dari yang tertinggi.
Ini contoh order book rekaan untuk saham fiktif PT Sepi Contoh. Ini hitungan NetWort, bukan perusahaan sungguhan. Harga terakhir Rp1.000.
| Harga bid (Rp) | Lot yang antre beli |
|---|---|
| 1.000 | 20 |
| 990 | 30 |
| 980 | 50 |
| 960 | 100 |
| 930 | 300 |
Di harga teratas cuma 20 lot yang antre. Kamu mau jual 500. Permintaan di Rp1.000 tidak cukup.
Order jualmu mengisi bid tertinggi dulu, lalu berikutnya, sampai 500 lot habis. Begini uang yang kamu terima:
| Harga (Rp) | Lot terisi | Uang diterima (Rp) |
|---|---|---|
| 1.000 | 20 | 2.000.000 |
| 990 | 30 | 2.970.000 |
| 980 | 50 | 4.900.000 |
| 960 | 100 | 9.600.000 |
| 930 | 300 | 27.900.000 |
| Total | 500 | 47.370.000 |
Harapanmu Rp50.000.000. Yang masuk Rp47.370.000. Selisihnya Rp2.630.000, sekitar 5,3%. Harga rata-ratamu Rp947,4 per lembar.
Lebih parah lagi, transaksi terakhir ada di Rp930. Harga di layar sekarang 7% lebih rendah daripada sebelum kamu jual. Pemegang lain ikut melihat rugi di atas kertas.
Ini disebut price impact: order kamu sendiri yang mendorong harga. Di saham sangat likuid, 500 lot bisa terisi di satu harga dan dampaknya hampir nol.
Ada juga bid-ask spread, jarak antara bid terbaik dan ask terbaik. Di saham sepi jaraknya lebar, jadi biaya bolak-balik besar. Ini sudah kami bahas di artikel bid-ask spread.
Spread dan kedalaman adalah dua masalah berbeda:
Saham bisa punya spread sempit tapi tetap dangkal. Kamu baru tahu saat mencoba menjual dalam jumlah besar.
Beberapa penyebab muncul di berita dan perubahan aturan BEI:
BEI dan OJK juga menyiapkan aturan liquidity provider, pihak yang memasang harga untuk mempersempit spread di saham sepi (Investortrust). Kami tidak menemukan aturan yang menetapkan kedalaman order book minimum untuk suatu saham.
Kamu tidak perlu alat khusus. Tanyakan hal ini untuk saham apa pun:
Order limit, yaitu kamu menetapkan harga terendah yang mau diterima, melindungimu dari turun terlalu jauh di order book. Konsekuensinya, order bisa tidak terisi.
Pelacak portofolio mengalikan jumlah sahammu dengan harga terakhir. Itu cara wajar untuk memantau nilai, tapi mengasumsikan kamu bisa menjual semuanya di harga itu.
Untuk saham likuid, hasilnya cukup dekat. Untuk saham sepi, angkanya bisa melebihi uang yang benar-benar kamu terima. Anggap angka itu batas atas, bukan janji.
Buka screener Explore dan cari saham BEI yang kamu punya atau pantau. Bandingkan seberapa stabil masing-masing, lalu lihat order book di aplikasi brokermu untuk kepemilikan terbesar. Tanyakan satu hal: kalau minggu ini aku harus jual semuanya, seberapa jauh aku turun tangga?
Sebagai gambaran saham yang sangat likuid, lihat bagaimana bank besar seperti BBCA bergerak, lalu bandingkan dengan saham kecil milikmu.