Kekayaan Agoes Projosasmito Anjlok 40% Versi Forbes Gara-Gara Satu Saham Dicoret MSCI
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Satu keputusan komite indeks di luar negeri, yang sama sekali tidak berhubungan dengan harga tembaga atau emas, bisa memangkas puluhan triliun rupiah dari kekayaan orang terkaya di Indonesia dalam hitungan minggu. Itu yang terjadi pada kekayaan Agoes Projosasmito sepanjang 2026, meski perusahaan tambangnya sendiri sedang berbalik untung di kuartal yang sama.
Forbes, lewat daftar "Indonesia's 50 Richest 2025" yang terbit 10 Desember 2025, menaksir kekayaan Agoes Projosasmito sebesar US$5 miliar, peringkat ke-13 di Indonesia. Delapan bulan kemudian, tracker Real-Time Forbes yang dilaporkan Metrotvnews pada 5 Agustus 2026 menempatkannya di Rp53,7 triliun, sekitar US$3,0 miliar dengan kurs minggu itu, turun ke peringkat ke-17. Hampir seluruh penurunan itu bersumber dari satu saham: Amman Mineral Internasional (AMMN), perusahaan tambang tembaga dan emas tempat Projosasmito menjabat komisaris utama sekaligus pemegang saham pengendali yang diumumkan resmi, yang dicoret MSCI dari salah satu indeks Indonesia-nya pada akhir Mei 2026.
| Penerbit | Tanggal | Angka | Peringkat |
|---|---|---|---|
| Forbes, "Indonesia's 50 Richest 2025" | 10 Desember 2025 | US$5,0 miliar | ke-13 di Indonesia |
| Forbes Real-Time (lewat Metrotvnews) | 5 Agustus 2026 | Rp53,7 triliun (sekitar US$3,0 miliar) | ke-17 di Indonesia |
Kedua angka ini sama-sama dari Forbes, jadi penurunan sekitar 40% itu murni perbandingan di dalam satu tracker yang sama, bukan selisih dua penerbit berbeda. Riset untuk artikel ini tidak menemukan angka bertanggal dari Bloomberg Billionaires Index yang menyebut Projosasmito secara langsung, padahal sepanjang 2026 Bloomberg rutin memberi angka untuk beberapa taipan Indonesia lain, seperti Sukanto Tanoto, Prajogo Pangestu, Low Tuck Kwong, Robert Budi Hartono, dan Tahir. Kekosongan itu kami sebutkan apa adanya, bukan diisi tebakan.
Kekayaan Projosasmito berawal dari satu transaksi besar. Pada 30 Juni 2016, PT AP Investment, kendaraan bisnis yang dia pimpin, sepakat dengan Medco Energi Internasional milik keluarga Panigoro untuk mengakuisisi 82,2% saham PT Newmont Nusa Tenggara dari Newmont Mining dan Sumitomo senilai US$2,6 miliar. Dari situ lahir PT Amman Mineral Internasional, yang mengambil alih tambang tembaga dan emas Batu Hijau di Sumbawa. AMMN melantai di BEI pada 7 Juli 2023 di harga Rp1.695 per saham, meraup Rp10,73 triliun, IPO terbesar di Indonesia tahun itu.
Menurut keterbukaan informasi yang dikutip Suara.com (29 Maret 2026), pemegang saham terbesar AMMN adalah PT Sumber Gemilang Persada (32,17%), kendaraan yang di seri ini sudah dibahas terkait Anthoni Salim; PT Medco Energi Internasional memegang 20,92%; PT AP Investment memegang 15,19%, setelah melepas 190 juta lembar saham pada 17 Maret 2026 (CNBC Indonesia, 27 Maret 2026, tanpa alasan yang disebutkan dalam keterbukaan itu), turun dari 15,45%. Projosasmito juga memegang 289.179.940 lembar saham (sekitar 0,4%) secara langsung, setelah menjual 10 juta lembar pada Agustus 2024 senilai sekitar Rp84 miliar, yang saat itu disebut untuk membiayai proyek pribadi dan keluarga (Bisnis.com, CNBC Indonesia, 29 Agustus 2024). Meski porsi langsungnya dan porsi AP Investment terbilang tidak sebesar itu, CNBC Indonesia berulang kali menyebut Projosasmito sebagai pemegang saham pengendali Amman Mineral yang tercatat resmi, sekaligus komisaris utamanya, sejak perusahaan ini melantai pada 2023, sebuah status hukum soal kendali, bukan sekadar persentase kepemilikan terbesar.
Kalau saham AMMN milik Salim cuma satu bagian kecil dari konglomerasi jauh lebih besar yang juga mencakup Indofood, ICBP, dan PLDT, buat Projosasmito, AMMN nyaris seluruh kekayaan yang dicatat Forbes. Dia juga menjabat presiden direktur PT Bumi Resources Minerals (BRMS) dan wakil presiden direktur PT Bumi Resources (BUMI), dua perusahaan tambang Grup Bakrie, tapi tidak ada sumber yang ditemukan riset ini yang mengaitkan bagian mana pun dari kekayaannya yang tercatat dengan dua jabatan itu.
MSCI mencoret AMMN dari salah satu indeks Indonesia-nya, efektif penutupan perdagangan 29 Mei 2026. Sahamnya sempat anjlok hingga 18% di sekitar pengumuman itu, dan aksi jual paksa oleh dana yang mengikuti indeks tersebut menyeretnya ke titik terendah 52 minggu di Rp2.710 pada 22 Mei 2026, terkoreksi 26,23% sejak awal tahun pada titik itu (idxchannel.com, premium.bisnis.com). Secara terpisah, izin ekspor konsentrat AMMN berakhir pada akhir April 2026, sehingga sejak kuartal kedua pendapatan perusahaan lebih banyak ditopang produk hilir hasil smelter.
Di saat bersamaan, kinerja bisnisnya justru berbalik arah. Laba bersih kuartal I 2026 mencapai US$163 juta, membalik rugi US$138 juta pada kuartal I 2025, dengan EBITDA naik ke US$508 juta (margin 63%, dari negatif US$42 juta setahun sebelumnya) atas penjualan bersih US$808 juta, didorong pembukaan kembali ekspor konsentrat dan harga logam yang lebih tinggi (idxchannel.com, Kompas, tambang.co.id, akhir April 2026). Sahamnya sudah pulih sebagian sejak itu, ditutup di Rp4.330 pada 31 Agustus 2026 (Bloomberg Technoz, Liputan6), naik lebih dari 59% dari titik terendah Mei, tapi masih kurang dari sepertiga rekor tertingginya sepanjang masa, Rp15.000, yang tercatat 28 Mei 2024. Pemulihan itu terjadi setelah angka Forbes terbaru yang dipakai artikel ini.
Kekayaannya berada di balik satu perusahaan holding pribadi, AP Investment, ditambah saham langsung yang kecil, di atas satu saham publik yang sepenuhnya terbuka, bentuk yang mirip dengan struktur Dwimuria di atas BCA milik Robert Budi Hartono. Bedanya, saham publik ini masih sangat muda dan minim teruji: AMMN baru diperdagangkan kurang dari tiga tahun, berada dalam satu konsorsium bersama Medco dan entitas terkait Salim yang penjualan sahamnya sendiri bisa menggerakkan harga terlepas dari apa pun yang dilakukan Projosasmito, dan cukup volatil sepanjang 2026 hingga bergerak dari titik terendah 52 minggu ke pemulihan sebagian hanya dalam sekitar tiga bulan. Sejauh riset artikel ini menemukan, hanya Forbes yang memberi angka untuknya secara individu, dan karena kekayaannya yang tercatat begitu terkonsentrasi di satu saham yang baru melantai, keputusan sebuah komite indeks ternyata menggerakkan angkanya lebih jauh daripada apa pun yang terjadi di tambangnya sendiri.
Keputusan MSCI itu soal konstruksi indeks, bukan soal harga tembaga, emas, atau operasional Amman Mineral, tapi tetap memaksa dana yang mengikuti indeks itu untuk menjual di waktu yang sama, suka atau tidak. Buat kekayaan yang terkonsentrasi di satu saham yang baru melantai, aksi jual mekanis seperti ini dan pemulihan operasional yang sungguhan bisa bergerak berlawanan arah dalam kuartal yang sama. Profil Otto Toto Sugiri di seri ini punya bentuk serupa, penurunan sekitar 31% versi Forbes meski bisnis intinya sedang tumbuh.
Panduan rebalancing indeks MSCI di NetWort menjelaskan kenapa keputusan komite indeks memaksa dana kelola untuk bertransaksi, suka atau tidak, bacaan yang berguna buat siapa pun yang portofolionya berisi saham yang berpotensi mengalami reklasifikasi serupa, bukan cuma buat konglomerat tambang.