Stagflasi: Harga Naik, Ekonomi Mandek, dan Portofoliomu Susah Cari Tempat Aman
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Gajimu jalan di tempat. Tapi harga beras, bensin, dan kontrakan terus naik. Kantor bilang bisnis lagi lesu. Toko bilang biaya makin mahal.
Kamu terjepit dari dua arah. Perasaan inilah yang disebut stagflasi.
Stagflasi adalah kondisi ketika inflasi tinggi (harga naik cepat) terjadi bersamaan dengan ekonomi yang mandek, sering disertai pengangguran naik. Kita bahas dengan bahasa sederhana: apa itu, bagaimana kejadiannya di tahun 1970-an, dan angka apa yang perlu kamu pantau sekarang.
Kata ini gabungan dari "stagnasi" (ekonomi tidak tumbuh) dan "inflasi" (harga naik dari waktu ke waktu).
Biasanya dua hal ini tidak jalan bareng. Saat ekonomi lesu, toko justru banting harga supaya laku, jadi inflasi mereda. Saat ekonomi panas, harga naik.
Stagflasi memutus pola itu. Harga naik dan ekonomi mandek sekaligus.
Istilah ini biasanya dikaitkan dengan politikus Inggris Iain Macleod. Ia memakainya di parlemen pada November 1965 untuk menggambarkan "yang terburuk dari dua dunia" (sumber: ringkasan Wikipedia dan etymonline).
Bank sentral punya satu alat utama: suku bunga. Alat ini menolong satu masalah, tapi memperburuk yang lain.
Saat stagflasi, dua masalah itu ada bersamaan. Apa pun langkahnya, satu sisi membaik dan sisi lain memburuk.
Amerika Serikat pernah mengalaminya. Sejarah resmi bank sentral AS (The Fed) menyebut periode 1965 sampai 1982 sebagai Great Inflation. Inflasi naik sampai lebih dari 14 persen pada 1980, disertai empat resesi, dua kali kelangkaan energi parah, dan kontrol upah serta harga di masa damai (Federal Reserve History).
Pemicunya antara lain minyak. Akhir 1973, negara produsen minyak Arab memotong pasokan ke negara pendukung Israel. Harga minyak naik dari sekitar US$2,90 per barel sebelum embargo menjadi US$11,65 pada Januari 1974 (Federal Reserve History, Oil Shock 1973-74). Artinya sekitar empat kali lipat dalam beberapa bulan.
Minyak adalah biaya bagi hampir semua usaha. Pabrik, truk, dan ladang butuh energi. Jadi harga ikut naik di mana-mana, sementara biaya tinggi menekan laba dan mengerem perekrutan.
Obatnya menyakitkan. Di bawah Paul Volcker, The Fed menaikkan bunga tajam sejak 1979. Inflasi memang turun, tapi setelah resesi yang dalam (ringkasan dari catatan The Fed dan St. Louis Fed).
Stagflasi butuh kejutan jenis tertentu. Kebanyakan guncangan ekonomi menggerakkan harga dan pertumbuhan ke arah yang sama. Ekonomi boom mengangkat keduanya. Ekonomi anjlok menurunkan keduanya.
Stagflasi biasanya butuh kejutan pasokan: sesuatu yang membuat produksi barang lebih mahal atau lebih sulit. Minyak 1973 adalah contoh klasik. Harga naik karena pasokan seret, bukan karena orang belanja berlebihan.
Selain itu, banyak negara kini punya ekspektasi inflasi yang lebih terjaga. Orang percaya bank sentral akan menjaga harga, jadi tidak panik minta kenaikan gaji besar atau menaikkan harga seenaknya.
Tidak. Angka terbaru tidak cocok dengan polanya.
| Indikator | Angka terbaru | Sumber |
|---|---|---|
| Inflasi September 2026 (tahunan) | 3,28% | BPS, lewat Kontan dan Investortrust |
| Inflasi inti September 2026 | 2,84% | BPS, lewat ringkasan berita |
| Pertumbuhan PDB kuartal II 2026 (tahunan) | 5,29% | BPS, lewat Kontan dan IDXChannel |
Inflasi 3,28% tergolong moderat. Pertumbuhan 5,29% masih kuat, walau lebih rendah dari 5,61% di kuartal I 2026. Stagflasi butuh inflasi jauh lebih tinggi dan pertumbuhan jauh lebih lemah.
Angka-angka ini berasal dari pemberitaan rilis BPS yang diambil pada 21 Oktober 2026. Untuk data resmi, cek situs BPS.
Kamu tidak perlu jadi ekonom. Tiga tanda ini, kalau muncul bersamaan, adalah peringatan.
Kamu bisa memantau inflasi, suku bunga, dan rupiah dalam satu tempat lewat halaman makro NetWort.
Hati-hati dengan aturan sederhana. Setiap stagflasi berbeda, dan pola lama tidak selalu terulang.
Yang umumnya terjadi, dijelaskan sederhana:
Contoh singkat, hitungan NetWort dengan angka rekaan: kamu punya deposito Rp100 juta dengan bunga 3%, sementara harga naik 8%. Setahun kemudian uangmu jadi Rp103 juta. Tapi barang yang dulu seharga Rp100 juta kini Rp108 juta. Uangmu hanya setara sekitar Rp95,4 juta barang yang sama. Itu rugi riil sekitar 4,6%.
Karena itu banyak investor melihat return riil, bukan hanya angka di laporan.
Stagflasi adalah cerita tentang dua angka yang bergerak ke arah buruk bersamaan. Saat ini di Indonesia belum ada yang ekstrem, tapi tandanya layak kamu kenali.
Buka halaman makro NetWort, lalu lihat inflasi, BI rate, dan rupiah berdampingan. Tanyakan satu hal: apakah inflasi naik sementara pertumbuhan melambat?