Alokasi Emas 5%, 10%, atau 20%? Ini Hasilnya Kalau Diuji ke Portofolio yang Sama
Baca 6 menit
Baca 6 menit
"Taruh 5 sampai 10% portofolio kamu di emas." Kalimat ini yang paling sering muncul di konten finansial. Tapi hampir tidak ada yang nunjukkin apa yang beneran terjadi ke angka 5% atau 10% itu waktu sahammu lagi turun. Alokasi emas baru ada gunanya kalau kelihatan nyata meredam kerugian, dan cara satu-satunya buat tahu seberapa besar peredamnya adalah dengan hitung ke crash yang beneran terjadi, bukan tebak-tebakan.
Jadi kami hitung. Kami ambil satu periode stres pasar yang nyata dan bersumber jelas, yaitu crash IHSG akibat COVID-19 dari Januari sampai Maret 2020, lalu jalankan portofolio saham hipotetis yang sama sebanyak tiga kali dengan tambahan emas 5%, 10%, dan 20%, terus bandingkan berapa besar masing-masing benar-benar meredam kerugiannya.
Sebelum masuk ke angka, pertanyaan "berapa persen alokasi emas ideal di portofolio" ini biasanya dijawab dengan aturan umum tanpa bukti. Kami mau lihat langsung, kalau kamu benar-benar pegang 5%, 10%, atau 20% emas, seberapa besar bedanya waktu pasar saham ambruk.
IHSG ditutup di level 6.325 pada 14 Januari 2020, titik tertingginya di tahun itu, menurut catatan retrospektif CNBC Indonesia soal periode tersebut. Pada penutupan 24 Maret 2020, IHSG sudah turun ke 3.937,63, menurut laporan pasar Kontan hari itu, yang juga mencatat perdagangan sempat dihentikan 30 menit setelah indeks turun 5% dalam satu sore.
Itu penurunan puncak ke titik terendah sekitar -37,7% dalam kurang lebih sepuluh minggu. Ini salah satu penurunan tertajam dan paling terdokumentasi yang pernah dialami IHSG, jadi cukup adil dijadikan periode uji: tanggal asli, level penutupan asli, tidak pilih-pilih periode yang menguntungkan.
Emas batangan 24 karat Antam diperdagangkan di Rp955.000 per gram pada 14 Januari 2020, menurut laporan harga Kontan dan Tribunnews hari itu. Pada 24 Maret 2020, batangan yang sama dihargai Rp919.000 per gram, menurut laporan Tribunnews hari itu.
Selama sepuluh minggu penuh itu, artinya emas cuma turun sekitar -3,8%, hampir flat dibanding IHSG yang anjlok -37,7%. Selisih inilah, bukan karena emas naik, yang jadi sumber peredamnya.
Bayangkan portofolio hipotetis yang mulai 100% di saham berbasis IHSG, lalu buat tiga versi yang dibangun pada 14 Januari 2020, sama persis kecuali berapa banyak emas yang ditambahkan di sampingnya. Semua hal lain, termasuk tidak ada rebalancing selama periode ini, dibuat tetap sama supaya cuma ukuran alokasi yang jadi variabel yang diuji.
Return portofolio = (bobot saham × return saham) + (bobot emas × return emas)
| Alokasi emas | Bobot saham | Return gabungan, 14 Jan - 24 Mar 2020 | Peredam dibanding 100% saham |
|---|---|---|---|
| 0% (semua saham) | 100% | -37,7% | tidak ada |
| 5% | 95% | -36,0% | 1,7 poin persentase |
| 10% | 90% | -34,3% | 3,4 poin persentase |
| 20% | 80% | -31,0% | 6,8 poin persentase |
Alokasi emas yang lebih besar memang menghasilkan kerugian yang terukur lebih kecil di satu periode stres nyata ini, dan hubungannya hampir linear karena return emasnya sendiri kecil dan stabil dibanding besarnya crash saham. Bagian hitungan ini tidak terbantahkan.
Yang tidak ditunjukkan angka ini adalah bahwa rasio ini berlaku di setiap crash. Perilaku emas tergantung kenapa sahamnya turun. Di 2020, pemicunya adalah guncangan pandemi dengan krisis likuiditas sementara, makanya emas sempat turun sebentar sebelum pulih lagi. Crash yang dipicu krisis mata uang, masalah utang negara, atau guncangan yang langsung menekan permintaan emas juga, bisa menghasilkan angka peredaman yang sangat berbeda, bisa lebih kecil, lebih besar, atau bahkan sempat negatif kalau emas ikut dijual demi uang tunai di saat yang sama seperti sahamnya, persis seperti yang terjadi pertengahan Maret 2020.
Tiga hal yang perlu dicek sebelum menentukan alokasi kamu sendiri, dan tidak satu pun butuh tebak-tebakan ke mana arah emas atau saham selanjutnya.
Kamu bisa lihat kondisi rupiah dan suku bunga terkini yang mendasari pergerakan seperti ini di halaman macro context. NetWort mencatat emas, perak, platinum, dan palladium yang kamu punya bersama saham dan kriptomu dalam satu portofolio, jadi kamu bisa lihat sendiri berapa penurunan gabungan portofoliomu saat periode stres, bukan cuma pakai angka dari aturan umum.