Kamu Terus Nemuin Berita yang Sependapat Sama Saham yang Udah Kamu Punya. Itu Bukan Kebetulan
Baca 5 menit
Baca 5 menit
Kamu punya satu saham. Semalam kamu cari beritanya. Semua artikel yang kamu buka bagus. Analisnya optimis. Forumnya optimis. Kamu tidur dengan perasaan pintar.
Nah, ini bagian yang nggak enak. Mungkin kamu bukan menemukan beritanya. Mungkin kamu memilihnya.
Kebiasaan itu namanya confirmation bias. Artinya, kamu cenderung mencari dan percaya informasi yang cocok dengan pendapat yang sudah kamu pegang. Di artikel ini kamu bakal lihat cara kerjanya dalam riset saham, apa kata penelitian, dan empat langkah supaya risetmu lebih adil.
Confirmation bias adalah jalan pintas di otak. Otak senang merasa benar. Jadi dia lebih memperhatikan fakta yang mendukung pandanganmu, dan kurang memperhatikan fakta yang berlawanan.
Tinjauan terkenal tahun 1998 dari psikolog Raymond Nickerson menggambarkannya sebagai cara mencari atau membaca bukti yang condong ke keyakinan atau dugaan yang sedang kamu pegang. (Nickerson, Review of General Psychology, 1998; aku membaca rinciannya lewat ringkasan pencarian, bukan makalah lengkap.)
Ini bukan soal bohong. Ini juga nggak disengaja. Justru karena itu susah disadari.
Tahun 1960, psikolog Peter Wason memberi orang tiga angka: 2, 4, 6. Dia bilang angka itu mengikuti sebuah aturan. Tugas peserta: menebak aturannya dengan mengusulkan tiga angka lain. Wason akan menjawab ya atau tidak.
Kebanyakan orang menebak "naik dua-dua". Lalu mereka menguji tiga angka yang cocok dengan tebakannya, misalnya 8, 10, 12. Jawabannya selalu ya. Mereka makin yakin.
Aturan aslinya cuma "angka yang naik". Jadi 3, 5, 7 atau 1, 2, 50 juga dijawab ya. Hanya orang yang menguji angka yang bisa membuktikan dirinya salah, seperti 1, 2, 50, yang akan tahu. Kebanyakan nggak melakukannya, dan banyak yang berhenti dengan yakin pada aturan yang keliru. (Wason, 1960, lewat ringkasan sekunder makalah Quarterly Journal of Experimental Psychology; makalah aslinya tidak dibuka.)
Sekarang ganti angka dengan saham. "Perusahaan ini bagus" adalah tebakanmu. Mencari berita bagus sama dengan menguji angka yang cocok. Jawabannya pasti ya.
Peneliti pernah mengamati ini di papan diskusi saham. Dalam makalah 2013 di Information Systems Research, Park, Konana, Gu, Kumar, dan Raghunathan menjalankan eksperimen lapangan dengan 502 investor di sebuah papan diskusi saham besar di Korea Selatan. Hasilnya, investor lebih suka pesan yang cocok dengan pandangan mereka. Efeknya lebih kuat pada investor yang menilai pengetahuan pasarnya tinggi. (Abstrak di INFORMS)
Studi yang sama menemukan bahwa investor dengan bias lebih kuat juga lebih overconfident. Mereka lebih sering trading dan mengharapkan return pasar lebih tinggi daripada yang didukung bukti. Ringkasan makalah kerja versi awal mengaitkan bias yang lebih kuat dengan return aktual yang lebih lemah. Tapi abstrak final 2013 lebih hati-hati dan hanya bilang bahwa memakai papan diskusi belum tentu menghasilkan return lebih baik. (Ringkasan di CXO Advisory)
Studi lebih awal terhadap sekitar 72.000 interaksi di papan diskusi Yahoo! Finance menemukan pola serupa. Investor cenderung bergabung dengan orang yang sudah sependapat. Pola ini makin kuat saat informasi terlalu banyak atau pasar penuh ketidakpastian. (Rilis berita UT Austin, 2008)
Catatan: semua angka di bagian ini berasal dari ringkasan pencarian atas studi-studi tersebut. Makalah aslinya tidak dibuka.
Kamu nggak perlu papan diskusi buat kena ini. Kebiasaanmu sendiri sudah cukup.
Kamu mencari sesuai posisimu. Ketik "prospek BBCA" dan kamu dapat artikel soal prospek. Ketik "risiko BBCA" dan hasilnya lain lagi. Mana yang biasanya kamu ketik kalau sahamnya sudah kamu punya?
Kamu mengikuti orang yang sependapat. Setelah beberapa bulan, feed-mu penuh suara yang suka dengan saham yang kamu pegang. Yang berbeda pendapat pelan-pelan hilang.
Kamu membaca kabar baik dan buruk dengan cara beda. Kabar baik terasa seperti bukti. Kabar buruk terasa seperti "sekali ini saja" atau "sudah terefleksi di harga".
Watchlist-mu isinya saham yang sudah kamu punya. Kalau semua saham di daftar adalah yang kamu miliki atau kamu sukai, daftar itu cuma menunjukkan apa yang sudah kamu putuskan.
Ini hitungan NetWort dengan angka rekaan, bukan data nyata.
Misalnya kamu punya satu saham. Selama sebulan ada 20 berita. 12 positif dan 8 negatif. Pembaca yang adil melihat 60% kabar baik dan 40% kabar buruk.
Sekarang anggap kamu membaca 9 dari 12 berita baik (75%) dan hanya 2 dari 8 berita buruk (25%). Total yang kamu baca 11 artikel. Dari situ, 9 adalah kabar baik.
| Yang kamu baca | Jumlah | Porsi dari yang kamu baca |
|---|---|---|
| Kabar baik | 9 | 82% |
| Kabar buruk | 2 | 18% |
Campuran aslinya 60% baik. Yang kamu rasakan 82% baik. Nggak ada yang disembunyikan darimu. Kamu hanya mengklik dengan pola tertentu. Selisih itulah yang mengubah gambaran campur aduk jadi terlihat mudah.
Semua ini bukan perintah beli atau jual. Tujuannya cuma memastikan bukti yang kamu pakai itu adil. Artikel kami soal survivorship bias membahas jebakan lain di data historis, dan anchoring bias membahas terpaku pada harga belimu.
Buka Explore dan telusuri beberapa saham, ETF, atau sektor yang belum pernah kamu pegang. Bandingkan dengan yang sudah kamu punya. Tanyakan satu hal: kalau aku mulai dari sini, apa yang akan kutemukan? Cuma lima menit, dan daftarmu jadi lebih luas.