Bonus dan Gaji Itu Rupiah yang Persis Sama. Tapi Kamu Nggak Memperlakukan Keduanya dengan Cara yang Sama
Baca 4 menit
Baca 4 menit
Gajimu masuk tanggal 25. Kamu bayar kontrakan, makan, dan tagihan rutin. Tiap rupiah kamu hitung.
Lalu bonus Rp10 juta cair. Seminggu kemudian, uangnya sudah jadi HP baru, liburan, atau traktir sepuluh orang. Padahal Rp10 juta dari gaji nggak bakal kamu pakai begitu.
Uang itu nggak punya ingatan. Rupiah dari bonus sama persis dengan rupiah dari gaji. Kebiasaan memperlakukannya beda itu namanya mental accounting. Di artikel ini kamu bakal lihat cara kerjanya, apa kata penelitian, dan cara sederhana supaya kebiasaan ini nggak diam-diam menggerus tabunganmu.
Mental accounting adalah kebiasaan membagi uang ke dalam "kantong" di kepala. Kantongnya bukan dibagi berdasarkan fungsi uang. Tapi berdasarkan dari mana uang itu datang atau untuk apa.
Kantong yang umum: "gaji", "bonus", "THR", "restitusi pajak", "hadiah", "uang sampingan". Tiap kantong punya aturan sendiri. Gaji buat tagihan. Bonus buat senang-senang.
Idenya datang dari ekonom Richard Thaler. Tahun 2017 dia menerima Nobel Ekonomi, salah satunya untuk karya ini. Komite Nobel menjelaskannya sebagai orang yang membuat "buku catatan" mental terpisah dan melihat dampak sempit tiap keputusan, bukan dampaknya ke seluruh keuangan. (Siaran pers Royal Swedish Academy of Sciences, 2017; dibaca lewat ringkasan pencarian, bukan teks lengkap.)
Otak suka aturan sederhana. "Bonus itu tambahan" adalah aturan sederhana. Tapi aturan itu keliru.
Bonus bukan tambahan. Itu penghasilan yang bisa kamu pakai untuk tujuan keuangan, melunasi utang, atau dana darurat. Label "tambahan" itu cuma cerita. Ceritanya bikin belanja terasa aman.
Begini kira-kira perilaku tiap kantong. Tabel ini ilustrasi dari idenya, bukan hasil satu studi:
| Kantong mental | Rasanya | Yang bisa terjadi |
|---|---|---|
| Gaji | Serius, sudah direncanakan | Habis untuk tagihan dan biaya tetap |
| Bonus atau THR | Hadiah, "tambahan" | Dipakai untuk keinginan |
| Restitusi pajak | Uang temuan | Cepat habis |
| Hadiah atau warisan | Spesial, entah "nggak boleh disentuh" atau "uang main" | Dibekukan atau dipakai bebas |
Ini bukan hukum alam. Ini kebiasaan. Kabar baiknya, kebiasaan bisa diubah.
Peneliti sudah mengujinya dengan cara sederhana.
Satu studi memakai data toko kelontong online. Milkman dan Beshears (2009, Journal of Economic Behavior & Organization) membandingkan belanjaan pelanggan saat memakai kupon potongan $10 dan saat tidak. Saat kupon dipakai, belanja naik rata-rata $1,59. Tambahannya jatuh ke barang yang biasanya nggak dibeli pelanggan itu. Penghematan kecil yang tak terduga seolah membuka pintu untuk jajan kecil. (Milkman dan Beshears, 2009; aku membaca abstraknya lewat ringkasan pencarian, bukan makalah lengkap.)
Penelitian lain melihat cara uang digambarkan. Nicholas Epley dan Ayelet Gneezy (2007) melaporkan bahwa penghasilan yang digambarkan sebagai bonus, yaitu tambahan di atas keadaan normal, lebih mudah dibelanjakan daripada penghasilan yang sama yang digambarkan sebagai rebate, yaitu kembali ke keadaan normal. Jumlahnya identik. Hanya labelnya yang beda. (Abstrak dilihat lewat ringkasan pencarian; makalahnya tidak dibuka.)
Dua hasil ini searah. Orang nggak menganggap uang sebagai satu tumpukan besar. Label mengubah keputusan.
Ini hitungan NetWort dengan asumsi return. Bukan ramalan.
Misalnya kamu dapat bonus Rp10 juta tiap tahun selama 10 tahun. Totalnya Rp100 juta.
Jalan A: kantong bonus. Kamu pakai habis tiap tahun. Setelah 10 tahun, kamu punya kenangan dan gadget. Investasimu nggak berubah.
Jalan B: uang yang sama, tanpa kantong khusus. Kamu masukkan seluruh bonus ke investasi tiap tahun. Asumsikan return 6% per tahun, dengan tiap bonus diinvestasikan di akhir tahun. Hitungannya:
Nilai akhir = Rp10 juta × ((1,06¹⁰ − 1) ÷ 0,06) = Rp10 juta × 13,18 ≈ Rp131,8 juta
Kamu menyetor Rp100 juta. Tambahan Rp31,8 juta adalah hasil pertumbuhan. Inilah compounding: return-mu ikut menghasilkan return.
Nggak. Bonus boleh dipakai untuk sesuatu yang benar-benar kamu hargai. Masalahnya bukan belanja. Masalahnya belanja tanpa memutuskan.
Tesnya sederhana. Tanya: "Kalau Rp10 juta ini diambil dari gajiku, aku tetap beli nggak?" Kalau iya, nikmati. Kalau nggak, kantong mentalmu yang memutuskan, bukan kamu.
Artikel kami soal gaya hidup yang ikut naik saat gaji naik dan cara membagi THR membahas dua kasus khusus dari kebiasaan yang sama.
Buka Dashboard NetWort dan lihat total nilai portofoliomu dalam satu angka. Lalu jumlahkan berapa yang kamu investasikan tahun ini. Tanyakan satu hal: bonus atau THR-ku muncul di situ, atau masuk ke kantong lain? Kalau nggak muncul, kamu baru saja menemukan mental accounting-mu.