Data Return Historis yang Kamu Pakai Buat Backtest Cuma Ngitung Saham dan Reksa Dana yang Masih 'Hidup'. Ini yang Disebut Survivorship Bias
Baca 6 menit
Baca 6 menit
Kamu lagi backtest sebuah strategi, terus bandingin hasilnya sama rata-rata return reksa dana selama sepuluh tahun terakhir. Angkanya keliatan bagus. Tapi rata-rata itu dihitung hampir seluruhnya dari reksa dana yang masih ada sampai sekarang. Reksa dana yang performanya jelek, terus lama-lama ditutup atau digabung ke reksa dana lain, nggak pernah ikut kehitung di angka yang lagi kamu lihat. Lubang ini ada namanya: survivorship bias, dan efeknya cukup besar buat bikin strategi yang biasa-biasa aja kelihatan hebat di atas kertas.
Survivorship bias kejadian setiap kali data historis cuma ngitung hal-hal yang cukup lama bertahan sampai masih ada pas diukur. Di dunia investasi, ini muncul di dua tempat yang sering ketemu.
Pertama, database reksa dana atau mutual fund. "Rata-rata return" sepuluh tahun buat satu kategori reksa dana biasanya dihitung cuma dari reksa dana yang masih hidup hari ini. Reksa dana yang ditutup atau digabung ke reksa dana lain gara-gara performanya jelek bertahun-tahun, langsung hilang dari data, ikut ngebawa pergi tahun-tahun buruknya.
Kedua, indeks saham. Indeks kayak S&P 500 cuma nyantumin 500 perusahaan yang saat ini masih memenuhi syarat. Perusahaan yang dikeluarin karena bangkrut, di-delisting, atau ukurannya mengecil sampai keluar dari indeks, ya hilang dari daftar, padahal mereka beneran bagian dari sejarah pasar yang sesungguhnya.
Dua-duanya punya arah efek yang sama: rekam jejak yang cuma dibangun dari yang "selamat" bakal kelihatan lebih bagus daripada sejarah jujur yang beneran ngikutin semuanya, termasuk yang nggak berhasil bertahan.
Ekonom Burton Malkiel ngukur ini langsung di studinya tahun 1995, "Returns from Investing in Equity Mutual Funds 1971 to 1991," yang diterbitin di The Journal of Finance. Pakai data Lipper buat periode 1982 sampai 1991, dia bandingin dua kelompok: reksa dana yang bertahan sepanjang sepuluh tahun penuh, dan semua reksa dana yang pernah ada di data itu kapan pun selama periode tersebut, termasuk yang belakangan tutup.
Reksa dana yang bertahan sepanjang periode itu rata-rata untung 17,09% per tahun. Sementara semua reksa dana yang beneran pernah ada selama periode itu, yang bertahan maupun yang nggak digabung jadi satu, rata-ratanya cuma 15,69% per tahun. Selisih sekitar 1,4 poin persen per tahun ini bukan soal strategi atau skill yang beda. Ini murni efek dari cuma ngitung reksa dana yang masih ada di akhir periode.
Rp100 juta di 17,09%/tahun selama 10 tahun ≈ Rp484 juta (cuma yang bertahan) vs Rp100 juta di 15,69%/tahun selama 10 tahun ≈ Rp429 juta (semua reksa dana)
Itu selisih sekitar 13% lebih banyak kekayaan akhir, murni gara-gara reksa dana mana yang ikut kehitung, sebelum satu pun investor beneran bikin satu pun keputusan.
Ini bukan masalah era 90-an yang udah selesai gara-gara pencatatan data yang makin rapi. S&P Dow Jones Indices ngeluarin angka ini setiap tahun lewat SPIVA U.S. Scorecard. Edisi Year-End 2024 yang dirilis Maret 2025 nemuin bahwa selama 20 tahun sampai Desember 2024, hampir 64% reksa dana saham domestik AS udah ditutup atau digabung ke reksa dana lain. Hampir dua dari tiga reksa dana yang ada 20 tahun lalu, sekarang udah hilang dari perhitungan "rata-rata return reksa dana" yang nggak disesuaikan.
Ini beda sama data persistence performa yang udah dibahas NetWort di kenapa reksa dana juara tahun lalu jarang ngulangin lagi: persistence ngukur apakah sebuah reksa dana tetap di puncak kategorinya, sementara survivorship ngukur apakah reksa dana itu masih ada di data sama sekali buat dirangking. Sebuah reksa dana bisa hilang dari database karena alasan yang sama persis yang bakal bikin peringkatnya jelek kalau dia masih bertahan.
Peneliti Stephen Brown, William Goetzmann, Roger Ibbotson, dan Stephen Ross nemuin hal yang berkaitan di tahun 1992, lewat paper di The Review of Financial Studies berjudul "Survivorship Bias in Performance Studies." Pakai simulasi, mereka nunjukkin kalau sebagian dari yang kelihatan kayak skill manajer investasi beneran, manajer yang keliatannya terus-terusan ngalahin pasar tahun demi tahun, sebenarnya bisa jadi efek samping dari database yang udah duluan ngebuang manajer-manajer yang gagal.
Survivorship bias nggak cuma soal reksa dana. Tinjauan ulang tahun ke-50 S&P 500 dari Standard & Poor's sendiri di Maret 2007, dilaporin waktu itu sama PLANSPONSOR, nemuin cuma 86 dari 500 perusahaan asli tahun 1957 yang masih ada di indeks 50 tahun kemudian, sekitar 17% dari daftar aslinya.
Biar adil sama angkanya: masih ada di indeks dan bangkrut itu dua hal beda. Sebagian besar dari 414 nama yang keluar itu hilang karena diakuisisi, dipecah, atau ukurannya tumbuh lebih lambat dari pasar secara umum, bukan karena beneran kolaps. Tapi intinya tetap berlaku buat siapa pun yang lagi backtest strategi pakai "sejarah S&P 500": daftar anggota indeks hari ini bukan daftar yang sama yang bakal dilihat investor di titik waktu mana pun sebelumnya, dan strategi yang cuma diuji ke daftar yang "selamat" hari ini nggak pernah harus ketemu perusahaan-perusahaan yang tersingkir di tengah jalan.
Kalau kamu bikin aturan milih saham terus diuji ke daftar perusahaan yang dikenal luas dan masih diperdagangkan hari ini, kamu diam-diam udah nanamin survivorship bias ke dalam pengujian itu sendiri. Setiap perusahaan di daftar itu udah kebukti bisa bertahan sampai sekarang. Perusahaan yang gagal lolos aturan yang sama sepuluh tahun lalu terus belakangan bangkrut, nggak ada di data pengujianmu buat narik turun rata-ratanya, ya karena dia emang udah nggak ada lagi buat diikutin.
Solusi yang jujur adalah pakai data "point-in-time": nguji sebuah aturan ke daftar lengkap saham atau reksa dana yang beneran ada di awal periode pengujian, yang bertahan maupun yang nggak, dua-duanya. Data kayak gitu mahal buat dibikin, dan kebanyakan data historis gratisan yang gampang diakses nggak nyertain itu, makanya bias ini tetap umum kejadian bahkan di antara orang yang udah tau soal ini.
Kartu Portfolio Health di NetWort ngitung IRR, volatilitas, Sharpe ratio, drawdown maksimal, dan beta kamu dari riwayat harga aset yang beneran kamu punya, bukan dari daftar "yang terbaik" yang disusun belakangan setelah hasilnya diketahui. Ini titik awal yang beda jauh dari headline "rata-rata return reksa dana" yang generik, karena ini sejarah portofoliomu yang asli, bukan sampel yang cuma berisi yang selamat.
Satu catatan jujur dari arah sebaliknya: daftar ticker yang dilacak NetWort sendiri, termasuk nama yang dikenal luas kayak SPDR S&P 500 ETF Trust, adalah kumpulan simbol yang dikurasi dan saat ini aktif diperdagangkan. Backtest apa pun yang kamu jalanin pakai aset yang cuma bisa dicari di NetWort atau tool sejenis hari ini, tetap kena catatan survivorship yang sama kayak yang dibahas di artikel ini. Ini alasan buat nganggep return hasil backtest sebagai perkiraan yang membantu, bukan jaminan.